Category Archives: Ekologi Hewan

KINERJA HEWAN DI LINGKUNGANNYA MENENTUKAN POLA AKTIVITAS DAN JARAK EDAR HARIAN HEWAN

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Ada beratus-ratus spesies laba-laba di dunia. Hewan-hewan kecil ini terkadang nampak sebagai ahli konstruksi yang mampu melakukan perhitungan untuk membangun sarangnya, terkadang sebagai desainer interior yang sedang membuat rencana-rencana rumit, dan di waktu yang lain sebagai ahli kimia yang sedang membuat benang yang sangat kuat dan fleksibel, racun yang mematikan, serta asam-asam pelarut, dan kadang sebagai pemburu yang menggunakan taktik- taktik yang sangat cerdik (Yahya, 2001).

Meski begitu banyak karakteristik unggul yang dimilikinya, tak seorang pun dalam kesehariannya pernah memikirkan betapa khas-nya mahluk yang dinamai laba-laba ini. Karena anggapan sepele inilah tidak ada perasaan takjub terhadap keberadaan laba-laba, atau pun terhadap keberadaan mahluk kecil lainnya. Ini merupakan cara berpikir yang sungguh keliru. Karena jika kita mulai mempelajari perihal laba-laba, juga mengenai perilaku mahluk lainnya, misalnya dengan memperhatikan cara mereka berburu, berkembang-biak, dan mempertahankan diri, kita akan menjumpai karakteristik-karakteristik yang akan membuat kita terkagum-kagum.

Di alam ini, semua mahluk hidup mengambil pola-pola perilaku yang membutuhkan kecerdasan agar bisa bertahan hidup. Pola-pola perilaku ini, yang mendasari kecakapan, kepiawaian dan kemampuan-kemampuan perencanaan unggul memiliki satu kesamaan. Masing-masing perilaku ini mensyaratkan adanya kemampuan. Kecakapan yang hanya dapat dikuasai manusia dengan cara belajar, latihan ulang dan pengalaman ini, telah ada pada mahluk-mahluk hidup ini sejak pertama kali mereka lahir (Yahya, 2001).

Pada praktikum kali ini akan dibahas tentang pola aktivitas laba-laba dalam sehari dan juga jarak edar laba-laba. Praktikum ini merupakan suatu latihan dan contoh melakukan autoekologi, mengenai suatu populasi, yang memerlukan  pengamatan secara berkala tiap interval waktu tertentu.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada praktikum ini adalah:

  1. Bagaimana jarak edar pada laba-laba dalam sehari ?
  2. Bagaimana pola aktifitas pada laba-laba dalam sehari?

1.3 Tujuan Praktikum

Tujuan dari praktikum ini adalah:

  1. Untuk mengetahui jarak edar laba-laba dalam sehari.
  2. Untuk mengetahui pola aktifitas laba-laba dalam sehari.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tentang Hewan Pengamatan

Laba-laba, atau disebut juga labah-labah, adalah sejenis hewan berbuku-buku (arthropoda) dengan dua segmen tubuh, empat pasang kaki, tak bersayap dan tak memiliki mulut pengunyah. Semua jenis laba-laba digolongkan ke dalam ordo Araneae; dan bersama dengan kalajengking, ketonggeng, tungau semuanya berkaki delapan dimasukkan ke dalam kelas Arachnida. Bidang studi mengenai laba-laba disebut arachnologi.

Laba-laba merupakan hewan pemangsa (karnivora), bahkan kadang-kadang kanibal. Mangsa utamanya adalah serangga. Hampir semua jenis laba-laba, dengan perkecualian sekitar 150 spesies dari suku Uloboridae dan Holarchaeidae, dan subordo Mesothelae, mampu menginjeksikan bisa melalui sepasang taringnya kepada musuh atau mangsanya. Meski demikian, dari puluhan ribu spesies yang ada, hanya sekitar 200 spesies yang gigitannya dapat membahayakan manusia.

Tidak semua laba-laba membuat jaring untuk menangkap mangsa, akan tetapi semuanya mampu menghasilkan benang sutera yakni helaian serat protein yang tipis namun kuat– dari kelenjar (disebut spinneret) yang terletak di bagian belakang tubuhnya. Serat sutera ini amat berguna untuk membantu pergerakan laba-laba, berayun dari satu tempat ke tempat lain, menjerat mangsa, membuat kantung telur, melindungi lubang sarang, dan lain-lain (Anonim, Tanpa tahun).

2.1.1. Klasifikasi Ilmiah Laba-Laba

Kerajaan          : Animalia

Filum               : Arthropoda

Kelas               : Arachnida

Ordo                : Araneae

Subordo          :Mesothelae
Mygalomorphae
Araneomorphae

Genus : Salcitus

Spesies : Salcitus scenicus

Hingga sekarang, sekitar 40.000 spesies laba-laba telah dipertelakan, dan digolong-golongkan ke dalam 111 suku. Akan tetapi mengingat bahwa hewan ini begitu beragam, banyak di antaranya yang bertubuh amat kecil, seringkali tersembunyi di alam, dan bahkan banyak spesimen di museum yang belum terdeskripsi dengan baik, diyakini bahwa kemungkinan ragam jenis laba-laba seluruhnya dapat mencapai 200.000 spesies.

Ordo laba-laba ini selanjutnya terbagi atas tiga golongan besar pada aras subordo, yakni:

  1. Mesothelae, yang merupakan laba-laba primitif tak berbisa, dengan ruas-ruas tubuh yang nampak jelas; memperlihatkan hubungan kekerabatan yang lebih dekat dengan leluhurnya yakni artropoda beruas-ruas.
  2. Mygalomorphae atau Orthognatha, yalah kelompok laba-laba yang membuat liang persembunyian, dan juga yang membuat lubang jebakan di tanah. Banyak jenisnya yang bertubuh besar, seperti tarantula dan juga lancah maung.
  3. Araneomorphae adalah kelompok laba-laba ‘modern’. Kebanyakan laba-laba yang kita temui termasuk ke dalam subordo ini, mengingat bahwa anggotanya terdiri dari 95 suku dan mencakup kurang lebih 94% dari jumlah spesies laba-laba. Taring dari kelompok ini mengarah agak miring ke depan (dan bukan tegak seperti pada kelompok tarantula) dan digerakkan berlawanan arah seperti capit dalam menggigit mangsanya (Anonim, Tanpa Tahun).

2.1.2. Morfologi Laba-Laba

Tak seperti serangga yang memiliki tiga bagian tubuh, laba-laba hanya memiliki dua. Segmen bagian depan disebut cephalothorax atau prosoma, yang sebetulnya merupakan gabungan dari kepala dan dada (thorax). Sedangkan segmen bagian belakang disebut abdomen (perut) atau opisthosoma. Antara cephalothorax dan abdomen terdapat penghubung tipis yang dinamai pedicle atau pedicellus.

Pada cephalothorax melekat empat pasang kaki, dan satu sampai empat pasang mata. Selain sepasang rahang bertaring besar (disebut chelicera), terdapat pula sepasang atau beberapa alat bantu mulut serupa tangan yang disebut pedipalpus. Pada beberapa jenis laba-laba, pedipalpus pada hewan jantan dewasa membesar dan berubah fungsi sebagai alat bantu dalam perkawinan.

Laba-laba tidak memiliki mulut atau gigi untuk mengunyah. Sebagai gantinya, mulut laba-laba berupa alat pengisap untuk menyedot cairan tubuh mangsanya.

Mata pada laba-laba umumnya merupakan mata tunggal (mata berlensa tunggal), dan bukan mata majemuk seperti pada serangga. Kebanyakan laba-laba memiliki penglihatan yang tidak begitu baik, tidak dapat membedakan warna, atau hanya sensitif pada gelap dan terang. Laba-laba penghuni gua bahkan ada yang buta. Perkecualiannya terdapat pada beberapa jenis laba-laba pemburu yang mempunyai penglihatan tajam dan bagus, termasuk dalam mengenali warna.

Untuk menandai kehadiran mangsanya pada umumnya laba-laba mengandalkan getaran, baik pada jaring-jaring suteranya maupun pada tanah, air, atau tempat yang dihinggapinya. Ada pula laba-laba yang mampu merasai perbedaan tekanan udara. Indera peraba laba-laba terletak pada rambut-rambut di kakinya (Anonim, Tanpa tahun).

2.1.3. Anatomi Laba-Laba

Anatomi laba-laba, meliputi:

  1. esophagus, lambung penghisap, sekum, rectum, kelenjar-kelenjar hepatic, saku kloaka dorsal dan anus sebagai sistem digesti.
  2. Paru-paru yang terdiri dari lamel-lamel yang berlipat dalam ruang pernafasan, jantung pada bagian dorsal abdomen yang terletak di ruang pericardial dan menerima darah melaluli sepasang ostium. Darah dipompa keluar melalui pembuluh-pembuluh terus masuk ke sinus-sinus tubuh. Sinus ventral menghubungkan sinus-sinus itu dengan paru-paru buku
  3. Tabung Malphigi sebagai sistem eksresi
  4. Ganglion ventral dan ganglion dorsal sebagai sistem saraf dan perasa
  5. Gonad pada bagian ventral abdomen (Brotowidjojo, 1989).

Selain bagian bagian diatas laba laba juga dapat membuat sarang atau dapat juga disebut sutra. Dari penelitian yang dilakukan Vollrath (1998), laba-laba mengeraskan suteranya dengan mengasamkannya. Vollrath memusatkan penelitiannya pada laba-laba taman yang dikenal sebagai Araneus diadematus, dan memeriksa saluran yang dilalui sutera sebelum keluar dari tubuhnya. Sebelum memasuki saluran ini, sutera terdiri dari protein-protein sutera. Di dalam saluran ini, sel-sel khusus mengeluarkan air dari protein-protein sutera tersebut. Atom-atom hidrogen yang diambil dari air tersebut dipompakan ke bagian lain dari saluran dan menghasilkan bak asam. Ketika protein-protein sutera bersentuhan dengan asam tersebut, protein-protein ini melipat dan saling membentuk jembatan-jembatan yang mengeraskan suteranya. Agar sutera terbentuk, diperlukan bahan-bahan lain dengan segudang sifat yang beragam (Yahya, 2001).

Menurut Scheibel (2004), kelenjar sutera menghasilkan suatu transisi dari ‘gel’ yang disimpan ke serabut padat akhir. Gel yang dihasilkan oleh kelenjar dimasukkan ke dalam spinneret. Laba-laba memiliki delapan spinneret, pada umumnya tersusun berpasangan. Tekanan serabut protein di dalam suatu lingkungan mengandung air dikenal sebagai ‘ wet-spinning’. Proses ini mampu memproduksi serabut sutera dengan diameter 2.5-4 m pada laba-laba alami. Spinneret pada laba-laba merupakan suatu bagian yang sangat maju sebagai alat untuk mengorganisir protein sutera. Secara rinci, spinneret menciptakan suatu gradien konsentrasi protein, pH, dan tekanan, yang mendorong protein sutera dalam bentuk gel untuk menjadi fase kristal. Permulaan kelenjar pada spinneret kaya akan thiol dan tyrosine. Ketika proses pembuatan sutera mulai, ampulla bertindak sebagai suatu kantung (gudang penyimpanan) untuk serabut yang baru dihasilkan. Dari bagian ampulla, memutar saluran pipa yang secara efektif memindahkan air dari sutera yang dihasilkan. Pengeluaran sutera pada ujung distal saluran pipa, dan terdapat suatu klep. Klep tersebut berfungsi untuk membantu menggabungkan lagi sutera yang patah atau rusak.

Spinneret pada Araneus diadematus terdiri dari beberapa kelenjar, yaitu sebagai berikut:

  1. 500 buah glandulae piriformes, berfungi untuk penunjuk pemasangan jaring.
  2. 4 buah glandulae ampullaceae, berfungsi untuk menghasilkan bingkai jarring.
  3. 300 buah glandulae aciniformes, untuk lapisan kantung telur yang luar dan untuk memperdaya mangsa.
  4. 4 glandulae tubuliformes, untuk sutera kantung telur.
  5. 4 glandulae aggregatae, berfungsi sebagai lem untuk saling menempelkan jaring.
  6. 2 glandulae coronatae, berfungsi sebagai lem dalam bentuk benang (Anonim, Tanpa tahhun).

Beberapa jenis laba-laba mempunyai kelenjar yang berbeda-beda untuk menghasilkan sutera, misalnya untuk konstruksi sarang, pertahanan terhadap predator, menangkap mangsa, atau mobilitas. Komponen dan material sutera berbeda-beda antara satu bentuk dengan bentuk yang lain, disesuaikan khusus untuk penggunaannya agar optimal. Sebagai contoh, Argiope argentata mempunyai lima jenis sutera yang berbeda, masing-masing jenis sutera untuk suatu tujuan yang berbeda, yaitu:

  1. Dragline sutera, digunakan untuk komunikasi antar sarang. Memiliki ciri sekuat baja dan tahan lama.
  2. Capture spiral sutera, yang digunakan untuk menangkap mangsa, memiliki ciri lengket, sangat kuat dan elastis.
  3. Tubiliform sutera, digunakan dalam pembuatan kantung telur. Bersifat melindungi, terdiri dari sutera paling kaku.
  4. Aciniform sutera, digunakan untuk menangkap dan membungkus mangsa. Memiliki ciri 3 kali lebih kuat daripada sutera yang lain.
  5. Minor ampullate sutera, digunakan untuk perancah selama pembuatan konstruksi jaring.

2.2. Jarak Edar

Jarak Edar adalah sebuah gerakan periodik hewan dari tempat di mana ia telah tinggal ke daerah yang baru dan kemudian melakukan perjalanan kembali ke habitat asli. Jarak edar pergerakan binatang dipengaruhi oleh distribusi dan sumber daya seperti makanan atau habitat pemeliharaan keturunannya, dan dengan struktur fisik bentang lahan (Aprianto, 2010).

Ruang lingkup jarak edar hewan bisa menjadi luas seperti migrasi. Migrasi hewan umumnya menggunakan rute yang sama dari tahun ke tahun – dari generasi ke generasi. Tanah lintas hewan bisa berupa gunung, sungai, dan padang tanahyang luas. Burung, kelelawar, dan serangga terbang dalam jangkauan jarak yang panjang, kadang-kadang melampaui seluruh benua atau lautan. hewan yang berenang sering kali bermigrasi hampit meliputi jarak setengah dari seluruh dunia.

Gerakan berpindah hewan biasanya terkait dengan perubahan musim. Banyak hewan bermigrasi ke daerah utara selama bulan-bulan dalam musim panas. karena pada hari musim panas yang panjang di bagian paling utara dunia dapat menjamin pemberian pasokan makanan yang baik. Seperti pada pendekatan ramalan cuaca musim gugur dan dingin, banyak hewan bermigrasi ke selatan untuk mencari cuaca yang hangat pada musim dingin dan tersedianya makanan (Anonim, Tanpa Tahun).

2.3. Pola Aktivitas

Bumi ini dihuni oleh berjuta jenis hewan yang berbeda dan setiap jenis memiliki perbedaan sendiri. Demikian juga dengan perilaku, hewan memiliki perilaku umum yang dimiliki oleh banyak jenis dan sedikit pola perilaku yang dimiliki oleh banyak jenis. Ketika semua jenis hewan memerlukan reproduksi, makan dan juga mencoba untuk tidam menjadi santapan oleh makhluk apapun, semua jenis hewan memiliki beberapa jenis tipe perilaku reproduksi, perilaku mencari makan dan perilaku bertahan. Untuk sekian lama, seleksi alam juga memungkinkan jenis hewan tertentu memiliki kemampuan untuk mencapai tujuan-tujuan perilaku termasuk perilaku komunikasi, perilaku penguasaan wilayah, perilaku penyebaran dan perilaku sosial (Sukarsono, 2009).

Perilaku hewan dibedakan menjadi beberapa bagian, diataranya:

  1. Perilaku reproduksi, kebanyakan hewan harus menemukan pasangan untuk bereproduksi. Umumnya jantan, mencoba untuk berperilaku atraktif untuk menarik lawan jenisnya.
  2. Perilaku mencari makan, hewan memperlihatkan beberapa tipe perilaku mencari makan yang berbeda. Beberapa jenis hewan sangat selektif terhadap apa yang mereka makan.
  3. Perilaku bertahan, beberapa jenis hewan memiliki kemampuan perilaku untuk melepaskan diri dari pemangsa.
  4. Perilaku komunikasi, memegang peran penting bagi hewan dengan menggunakan tanda (signal) dan suara, beberapa jenis hewan melakukan komunikasi dengan menggunakan baha-bahan kimia.
  5. Perilaku territorial, perancangan dan pemeliharaan kawasanmerupakan perilaku yang diperlihatkan oleh hewan. Pemilik hewan pada umumnya mencoba mengusir individu lain yang memasuki kawasannya.
  6. Perilaku sosial, temasuk perilaku penyebaran yang diperlihatkan oleh individu hewan dengan menjauhi area dimana mereka dilahirkan. Perilaku sosial didefinisikan sebagai interaksi diantara individu, secara normal di dalam spesies yang sama yang saling mempengaruhi satu sama lain
  7. Perilaku migrasi, banyak jenis hewan melakukan perjalanan untuk bersarang atau berpinda dari suatu tempat ke tempat lainnya. Untuk melakukan hal ini, hewan harus melakukan sendiri jalur terbang dengan stimulus lingkungan. Perjalanan sekelompok hewan dalam jarak jauh disebut migrasi. Tujuan atau orientasi pergerakan sudah jelas untuk menghindari kondisi lingkungan yang sangat tidak menguntungkan bagi kelangsungan hidup populasinya atau untuk kegiatan bereproduksi. (Sukarsono, 2009)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian pada  praktikum ini adalah pengamatan. Pada praktikum kali ini akan diamati beberapa hal, yaitu:

3.1.1 Pengukuran Kondisi Faktor Lingkungan

Pengukuran faktor-faktor lingkungan fisik hewan di area pengamatan meliputi suhu, udara, kelembapan relative udara, intensitas cahaya, suhu tanah dan kelembapan tanah.

3.1.2 Pengukuran Jarak Edar

Cara pengukuran jarak total yang ditempuh hewan dalam melakukan aktivitas sehari-hari terdapat bermacam-macam. Semuanya didasarkan pada posisi hewan pada waktu berurutan itu. Taksiran jaraknya makin baik jika waktu (t) = 0. Jarak yang ditempuh hewan merupakan jarak sebenarnya, dengan mengukur jarak-jarak yang ditempuh setiap interval waktu 2 jam, maka jumlah total selama 24 jam akan merupakan suatu angka dibawah jarak sebenarnya.

Cara pengukuran jarak edar yang lain adalah dengan menggunakan kisi-kisi sebagai acuan posisi hewan dan pengukuran jarak tempuhnya. Dalam hal ini area pengamatan dibagi menjadi petakan-petakan segi empat 2×2 cm2. Area pengamatan berikut susunan kisi-kisi digambarkan menurut skala (1:250) pada kertas mili meter. Pada gambar peta dibuat sama sejumlah individu yang diamati. Jadi setiap lembar diperuntukkan bagi tiap individu. Jarak tempuh tiap 2 Jam dihitung dari hasil pengukuran jarak tiap 2 titik hasil pengamatan yang berurutan, dan jumlah total dari jarak tempuh tersebut merupakan jarak edar selama 24 jam

3.2. Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilakukan pada hari minggu tanggal 11 April 2010 dari jam 06.00 sampai jam 18.00. Tempat pengamatan di lahan bambu daerah Karangploso-Malang.


3.3 Alat dan Bahan

  1. Hewan pengamatan (laba-laba)
  2. Kertas skala (millimeter)
  3. Termometer
  4. Hygrometer

3.4 Cara Kerja

  1. Menentukan jenis hewan yang akan diamati (minimal terdapat 2 individu), beserta habitatnya
  2. Mengamati kondisi lingkungan (habitat) hewan tersebut (suhu, kelembapan dll)
  3. Mengamati hewan tersebut dari pukul 06.00 sampai pukul 18.00. Mengamati aktivitas apa saja yang dilakukan dan pada pukul berapa pada saat melakukan aktivitas tersebut.
  4. Pengamatan jarak edar dilakukan dengan kasat mata, keemudian dilakukan pengamatan yang selanjutnya yaitu mengukur sesungguhnya jarak setiap titik.
  5. Memasukkan hasil pengamatan ke dalam data pengamatan.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Data Pengamatan

4.1.1. Pelaksanaan Pengamatan

Tempat penelitian                    : Lahan Bambu Karangploso Malang

Hari/Tanggal                           : 11 April 2010

Waktu                                     : 06.00-18.00

Luas Jaring                              : 116 cm

Jenis hewan pengamatan         : Laba-Laba

Jumlah hewan pengamatan     : 2 ekor

Ciri-ciri hewan pengamatan    : Berkaki 4 pasang, Mata 4 buah

4.1.2. Hasil Pengamatan

Pola Aktifitas 1

Waktu Aktivitas
06.00

08.00

10.00

12.00

14.00

16.00

18.00

Diam (Ab)

Jalan terus diam (Aa – Ab)

Jalan (Aa)

Diam (Ab)

Membungkus mangsa (Ac)

Jalan (Aa)

Diam (Ab)

Pola Aktifitas 2

Waktu Aktivitas
06.00

08.00

10.00

12.00

14.00

16.00

18.00

Membuat sarang/Jalan (Aa)

Membuat sarang/Jalan (Aa)

Diam (Ab)

Membuat sarang/Jalan (Aa)

Membuat sarang/Jalan (Aa)

Membuat sarang/Jalan (Aa)

Diam (Ab)

Keterangan:

Aa       = Berjalan atau melakukan aktivitas lain

Ab       = Diam

Ac       = Makan atau melakukan sesuatu yang berhubungan dengan makan

Ad       = Melakukan defekasi

Ae       = Hewan sedang kawin

4.2 Pembahasan

Pada percobaan tentang jarak edar laba-laba diambil sampel 2 jenis laba-laba secara acak pada lahan bambu daerah Karangploso Malang. Suhu pada masing-masing lokasi pada jam 06.00 adalah 31oC sementara pada jam 18.00 adalah 30oC. Kelembapan pada jam 06.00 adalah 44, sementara pada pukul 18.00 adalah 44.

Setelah dilakukan pengukuran luas tempat jarak edar, tepatnya pada sarang laba-laba itu sendiri yaitu 116cm.

Pada laba-laba pertama diamati gerakannya adalah gerakan acak dan tak beraturan. Jarak edar laba-laba pertama setelah dijumlah adalah sejauh 16 cm. Pada laba-laba kedua gerakannya memiliki pola yang beraturan yaitu seperti “obat nyamuk” menuju suatu titik dikarenakan kegiatannya didominasi dengan membuat sarang, jarak edar laba-laba kedua sejauh 26,5 cm.

Pola aktifitas laba-laba pertama dari jam 06.00 sampai 18.00, dengan pengamatan setiap 2 jam, meliputi: diam, jalan terus diam, jalan, diam, membungkus mangsa, jalan, dan diam. Pada laba-laba pertama aktifitas tidak terlalu banyak dan umumnya hanya diam. Laba-laba kedua berbeda dengan laba-laba pertama, laba-laba kedua lebih aktif karena aktifitasnya didominasi dengan membuat sarang. Kegiatan laba-laba kedua, meliputi: membuat sarang, membuat sarang, Diam, membuat sarang, membuat sarang

membuat sarang dan diam.

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Jadi, kesimpulan dari penelitian ini adalah:

  1. Jarak edar keseluruhan yang dilakukan oleh laba-laba pertama adalah sejauh 16 cm dengan pola yang tidak beranturan, sementara jarak edar keseluruhan yang dilakukan laba-laba kedua adalah sejauh 26,5 cm dengan pola melingkar seperti “obat nyamuk”
  2. Pola kegiatan pada laba laba pertama adalah: diam(06.00), jalan terus diam(08.00), jalan(10.00), diam(12.00), membungkus mangsa(14.00), jalan(16.00), dan diam(18.00), sementara pada laba-laba kedua adalah: membuat sarang (06.00), membuat sarang(08.00), diam(10.00), membuat sarang(12.00), membuat sarang(14.00), membuat sarang(16.00) dan diam(18.00).

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. ______. Laba-Laba. (online)http://id.wikipedia.org/wiki/laba-laba. Diakses tanggal 23 April 2010

Anonim. ______. Migrasi. (online)http://id.wikipedia.org/wiki/migrasi. Diakses tanggal 23 April 2010

Anonim. ______. Silk Spider. (online)http://en.wikipedia.org/wiki/silk_spider. Diakses tanggal 23 April 2010

Aprianto. 2010. Pola Perpindahan Beruang Kutub. (online) http://chusnan.web.ugm. ac.id/index.php?subaction=showfull&id=1196835229&archive=&start_from = & ucat =2&do=artikel. Diakses tanggal 23 April 2010

Browidjojo. M. Dj. 1989. Zoologi Dasar. Erlangga. Jakarta

Scheibel. 2004. Spider silks: Recombinant Synthesis, Assembly, Spinning, and Engineering of Synthetic Proteins. (online) http://hubcap.clemson.edu/~ellisom/ biomimeticmaterials/files/spiderbiology.htm

Sukarsono. 2009. Ekologi Hewan. UMM Press. Malang

Yahya, H. 2001. Keajaiban Dunia Laba-Laba. (online) http://www.keajaiban labalaba.com/. Diakses tanggal 23 April 2010