Arsip Kategori: Ekologi Tumbuhan

Evapotranspirasi

Evapotranspirasi adalah perpaduan antara evaporasi dari permukaan tanah dengan transpirasi dari tumbuh-tumbuhan. Evapotranspirasi merupakan salah satu komponen utama dalam siklus hidrologi dengan kaitannya pada perhitungan ketersediaan air. Pengunaan citra satelit dalam perolehan data spasial telah terbukti dapat memberikan informasr yang akurat dan efisien. Perhitungan evapotranspirasi Penman, memanfaatkan citra satelit Landsat 5 TM untuk memperoleh distribusi evapotranspirasi spasial di daerah studi Jabotabek.

Data utama yang digunakan adalah, data meteorologi bulan Juli 1989 (temperatur udara, kelembapan udara, lama penyinaran matahari dan kecepatan angin), data citra Landsat 5 TM band 2, 4, 5 dan 6 tanggal 6 Juli 1989 dan data lahan (peta tutupan lahan dan topografi). Dari citra band 6 akan diperoleh empat buah parameter spasial yaitu temperatur permukaan, temperatur udara, kelembapan udara dan tekanan uap jenuh. Sedangkan dari pengolahan citra band 5, 4 dan 2 yang mengacu pada peta klasifikasi tutupan lahan digital, akan diperoleh peta tutupan lahan digital. Kontur topografi dan fungsi angin akan ditransformasikan menjadi model e1evasi dan fungsi angin digital. Karena daerah studi terbatas pada selang lintang yang sempit, maka lama penyinaran matahari dianggap seragam. Hasil pengolahan data dianalisis dengan teknologi SIG untuk memperoleh masukan spasial perhitungan metode Penman. Selanjutnya perhitungan dengan menggunakan metode Penman akan menghasilkan distribusi tingkatan evapotranspirasi.

Evapotranspirasi spasial berkisar antara 4.257 hingga 5.402 mm/hari yang terbagi menjadi 258 kelas. Pola distribusi evapotranspirasi terlihat pada tampilan peta tematik yang dihasilkan dengan teknologi SIG . Secara umum, pola distribusi evapotranspirasi spasial secara signifikan terlihat bersesuaian dengan pola distribusi kecepatan angin dan klasifikasi tutupan lahan. Nilai tertinggi terdistribusi pada daerah sawah dan rawa-rawa di sebelah barat dan timur pusatkota Jakarta.

Sumber:

http://gdl.geoph.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jbptitbgeoph-gdl-s1-2003-lisaasrian-662&newtheme=gray

PRAKTIKUM LAPANG EKOLOGI TUMBUHAN

PRAKTIKUM LAPANG

EKOLOGI TUMBUHAN

‘Disusun untuk Memenuhi Tugas Akhir Praktikum Ekologi Tumbuhan”

Disusun Oleh:


Fadhlan Muchlas A.                         (08330022)

Siti Halilah                             (08330024)

Utami Puji L.                         (08330025)

Fauziah                                  (08330026)

Arindi Ningtyas                     (08330027)

Wawan Wahyudi E.                         (08330029)

Etrisa Maya N.                      (08330030)

Yendri Anita                          (08330032)

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

2009


VITALITAS, PERIODITAS DAN STRATIFIKASI

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Coban Rondo merupakan suatu lokasi di daerah Malang. Daerah ini terdapat berbagai jenis spesies tanaman atau jenis dalam vegetasinya. Tanaman memiliki derajat kesuburan, cara melangsungkan hidup, dan bentuk morfologi yang berbeda antara satu spesies dan spesies yang lain.

Flora di Indonesia sangatlah banyak. Hal ini pasti dipengaruhi oleh berbagai faktor yang mendukung persebaran tersebut. Diantaranya adalah tinggi rendah dari permukaan laut, jenis tanah, jenis hutan, iklim, pengaruh manusia, keadaan air dan lain-lain.

Untuk mengetahui derajat kesuburan dari suatu jenis tanaman dalam perkembangannya, dan sebagai reaksi tumbuhan tersebut terhadap lingkungan di sekitarnya maka dilakukan praktikum mengenai vitalitas. Sedangkan pada perioditas ini menyatakan bagaimanakah kehidupan suatu tumbuhan untuk melangsungkan kehidupannya, hal ini diamati dengan ada tidaknya daun, bunga, buah, dan biji. Lapisan-lapisansecara vertikal yang dibentuk oleh keadaan bentuk atau (life from) anggota – anggota komonitas tersebut , yang di pakai sebagai dasar biasanya ketinggian dari pohon tersebut dan cara ini digunkan untuk mengukur stratifikasi.

B. Tujuan Penelitian

Tujuan dari praktikum ini adalah:

  1. Mengetahui derajat kesuburan dari suatu jenis terhadap perkembangannya.
  2. Mengetahui ritmis di dalam suatu kehidupan tumbuhan dari musim.
  3. Untuk mengetahui jenis tumbuhan yang mendominasi atau menutupi dalam sebuah vegetasi

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. A. Vitalitas

Didalam suatu objek vegetasi terdapat bermacam-macam vegetasi yang hidup  diantaranya tumbuhan di mana dalam tumbuahan musiman dan tumbuhan tahunan.  Tumbuhan musiman, segera akan tumbuh apabila hujan turun umumnya relatif  pendek, tetapi bijinya tahan lama. Sedangkan untuk tumbuhan menahun dengan ciri-cirinya:

  1. Berdaun kecil dan berdaun lebar
  2. Terdiri dari kecambah, tumbuhan muda, tumbuhan dewasa, dan tumbuhan tua.
  3. Ada yang terdiri dari bunga, buah, dan biji.

Vitalitas bertujuan untuk mengetahui derajat kesuburan dari suatu jenis tanaman dalam perkembangannya, sebagai reaksi dengan lingkungan. Hal ini dapat di lakukan  dengan lengkap tidaknya siklus hidup dari spesies tadi di dalam vegetasi. Salah satu cara dalam menggambarkan vitalitas ini adalah memperhatikan empat keadaan  sehubungan dengan siklus hidupnya, yaitu: adanya kecambah, adanya tumbuhan  muda, adanya tumbuhan dewasa, dan adanya tumbuhan tua. (Harun, 1993)

  1. B. Perioditas

Perioditas ini menyatakan keadaan“Rhytmis” di dalam suatu kehidupan tumbuhan. Keadaan ini dinyatakan dengan keadaan adanya daun, buah, bunga dan biji (Rahardjanto, 2004).

  1. C. Stratifikasi

Stratifikasi merupakan lapisan-lapisan secara vertikal yang di bentuk oleh keadaan bentuk atau (life from) angota-angota komonitas tersebut, yang di pakai sebagai dasar biasanya ketinggian dari pohon tersebut (Guritno, 1995).


BAB III

PROSEDUR KERJA

  1. A. Alat dan Bahan

Alat dan bahan praktikum ini, adalah:

  1. Alat tulis
  2. Penggaris
  3. Meteran
  4. Plastik ukuran 1 kg @ 12 lembar
  5. Tali raffia
  6. Pasak ukuran 1 meter @ 10 buah
  1. B. Cara Kerja
  2. Vitalitas
    1. Mencari kurang lebih 5 jenis pohon yang berbeda, kemudian mengamati disekitar pohon tersebut ada/ tidaknya: (1) kecambah; (2) tumbuhan muda; (3) tumbuhan dewasa; (4) tumbuhan tua.
    2. Mencatat data hasil pengamatan ke dalam tabel
    3. Perioditas
      1. Mencari kurang lebih 5 jenis pohon yang berbeda, kemudian mengamati disekitar pohon tersebut ada/ tidaknya: daun, bunga, buah, dan biji
      2. Mencatat data hasil pengamatan ke dalam tabel
      3. Stratifikasi
        1. Mencari kurang lebih 5 jenis pohon yang berbeda, kemudian menentukan stratifikasinya berdasarkan Dbh dari ketinggian pohon tersebut. Adapun ketentuan stratifikasi berdasarkan Dbh, tinggi pohonnya adalah sebagai berikut

1)   Semai          : Tumbuhan kecambah s/d tinggi 1,5 m dan Dbh < 10 cm

2)   Pancang      : Tinggi mulai 1,5 m s/d Dbh < 10 cm

3)   Tiang           : Tumbhan dengan Dbh antara 10-35 cm

4)   Pohon         : Tumbuhan dengan Dbh > 35 cm

BAB IV

DATA PENGAMATAN

  1. A. Tabel Vitalitas
No Nama Pohon Keterangan
1

2

3

4

5

Pohon Sepuran

Pohon Jarak

Pohon Gemilina

Pohon Pete

Pohon Cemara

Tumbuhan muda, tumbuhan dewasa, tumbuhan tua, kecambah

Tumbuhan muda, tumbuhan dewasa, tumbuhan tua

Tumbuhan dewasa, tumbuhan tua

Kecambah, tumbuhan muda, tumbuhan dewasa

Tumbuhan dewasa, tumbuhan tua

  1. B. Tabel Perioditas
No. Nama Pohon Daun Bunga Buah Biji
1

2

3

4

5

Pohon Sepuran

Pohon Jarak

Pohon Gemilina

Pohon Pete

Pohon Cemara

Ada

Ada

Ada

Ada

Ada (Berupa jarum)

Tidak ada

Ada

Ada

Ada

Tidak ada

Tidak ada

Ada

Ada

Tidak Ada

Tidak ada

Tidak ada

Ada

Ada

Tidak ada

Tidak ada

  1. C. Tabel Stratifikasi
No. Nama Pohon Semai Pancang Tiang Pohon Kel. (cm) Dbh (cm) Tinggi (cm)
1

2

3

4

5

Pohon Sepuran

Pohon Jarak

Pohon Gemilina

Pohon Pete

Pohon Cemara

38 cm

20 cm

42 cm

11 cm

26 cm

12,1 cm

6,36 cm

13,36 cm

3,5 cm

8,28 cm

19,3 m

4,8 m

20,2 m

1,5 m

16 m

BAB V

PEMBAHASAN

Pada praktikum vitalitas, perioditas, dan stratifikasi ini di lakukan di Coban Rondo. Pada pratikum mengenai vitalitas dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya kecambah, tumbuhan muda,tumbuhan dewasa, dan tumbuhan tua disekitar pohon yang kita amati. Hal ini dilakukan untuk menentukan jenis pohon apakah yang umum terdapat pada hutan ini. Hal ini bisa digunakan sebagai gambaran jenis hutan apakah Coban Rondo, Hutan masa lampau, masa sekarang atau masa depan.

Pada pengamatan vitalitas tumbuhan yang paling banyak ditemukan adalah tumbuhan dewasa.

Pada pengamatan perioditas, semua jenis pohon yang ditemukan tidak lengkap kecuali pohon Jarak  dan pohon Gemilina yang ditemukan secara lengkap daun, bunga, buah dan biji.

Pada pengamatan stratifikasi jenis tumbuhan di Coban Rondo memiliki stratifikasi yang berbeda antara yang satu dengan yang lain. Pohon Sepuran dan pohon Gemilina termasuk tiang, Pohon Jarak dan Cemara termasuk pancang, pohon Pete termasuk semai.

Sesuai dengan hasil pengamatan dari segi vitalitas,perioditas dan startifiasi dapat disimpulkan bahwa jenis hutan ini adalah hutan masa sekarang.

BAB VI

PENUTUP

  1. A. Kesimpulan

Kesimpulan dari praktikum ini adalah:

  1. Pada pengamatan vitalitas tumbuhan yang paling banyak ditemukan adalah tumbuhan dewasa.
  2. Pada pengamatan perioditas, semua jenis pohon yang ditemukan tidak lengkap kecuali pohon Jarak  dan pohon Gemilina yang ditemukan secara lengkap daun, bunga, buah dan biji.
  3. Pada pengamatan stratifikasi jenis tumbuhan di Coban Rondo memiliki stratifikasi yang berbeda antara yang satu dengan yang lain. Pohon Sepuran dan pohon Gemilina termasuk tiang, Pohon Jarak dan Cemara termasuk pancang, pohon Pete termasuk semai.
  4. Hutan Coban Rondo termasuk Hutan Masa kini.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, 1995, BiologiLingkungan. Ganexa exact. Bandung.

Guritno, 1995. Analisa Pertumbuhan Tanaman. Rajawali Press. Jakarta

Harun, 1993. Ekologi Tumbuhan. Bina Pustaka. Jakarta.

Rahardjanto Abdul Kadir,2005. Buku Petunjuk Pratikum Ekologi Tumbuhan. UMM Press. Malang

LUAS MINIMUM, JUMLAH MINIMUM DAN

PENYEBARAN PERCONTOH

BAB I

PENDAHULAN

  1. A. Latar Belakang

Luas daerah dalam satuan kecil yaitu komunitas atau vegetasi yang sangat bervariasi keadaannya. Keberadaannya merupakan himpunan dan spesies populasi yang sangat berinteraksi dengan banyak faktor lingkungan yang khas untuk setiap vegetasi, kemudian muncul pertanyaan yang sering timbul yaitu bagaimana cara mengamati komunitas atau vegetasi tersebut dan berapa banyak sampel yang herus di amati sehingga dikatakan representatif bila di dalamnya terdapat semua atau sebagian besar jenis tumbuhan yang membentuk komunitas atau vegetasi tersebut. Daerah minimal yang mencerminkan kekayaan komunitas atau vegetasi disebut luas minimum. Dalam mempelajari komunitas tumbuhan kita tidak mungkin melakukan penelitian pada seluruh area yang ditempati oleh komunitas, terutama apabila area tersebut sangat luas.

Oleh karena itu kita dapat melakukan penelitian disebagian area komunitas tersebut dengan syarat begian tersebut dapat mewakili seluruh komunitas.
Suatu metode untuk menentukan luas minimum suatu daerah disebut metode luas minimal. Metode ini juga dapat digunakan untuk mengetahui jumlah petak yang digunakan dalam metode tersebut.

  1. B. Tujuan

Tujuan penelitian dari praktikum ini adalah untuk mengetahui cara menentukan luas minimum dan jumlah minimum serta penyebaran percontoh.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Suatu metode untuk menentukan luas minimal suatu daerah disebut metode luas minimal. Metode ini dapat digunakan untuk mengetahui minimal jumlah petak, contoh: Sejumlah sampel akan dikatakan representatif apabila di dalamnya terdapat semua atau sebagian besar jenis tanaman pembentuk komunitas atau vegetasi disebut luas minimal (Santoso, 1994).

Untuk memahami luas,metode manapun yang di pakai untuk menggambarkan suatu vegetasi yang penting adalah harus di sesuaikan dengan tujuan luas atau sempitnya suatu area yang diamati (Anwar,1995)

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi jumlah spesies di dalam suatu daerah adalah

  1. Iklim

Fluktuasi iklim yang musiman merupakan faktor penting dalam membagi keragaman spesies. Suhu maksimum yang ekstrim, persediaan air, dan sebagainya yang menimbulkan kemacetan ekologis (bottleck) yang membatasi jumlah spesies yang dapat hidup secara tetap di suatu daerah.

  1. Keragaman Habitat

Habitat dengan daerah yang beragam dapat menampung spesies yang keragamannya lebih besar di bandingkan habitat yang lebih seragam.

  1. Ukuran

Daerah yang luas dapat menampung lebih besar spesies di bandingkan dengan daerah yang sempit. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa hubungan antara luas dan keragaman spesies secara kasaradalah kuantitatif. Rumus umumnya adalah jika luas daerah 10 x lebih besar dari daerah lain maka daerah itu akan mempunyai spesies yang dua kali lebih besar (Harun, 1993)


BAB III

PROSEDUR KERJA

  1. A. Alat dan Bahan

Alat dan bahan pada praktikum ini adalah:

  1. Pasak ukuran 1 meter @ 12 buah
  2. Tali raffia
  3. Alat tulis
  4. Kertas millimeter
  1. B. Cara kerja
  2. Penentuan luas minimum
  3. Menyiapkan 4 pasak tali rafia. Mengikat tali raffia pada tiap pasak sehingga membentuk bujur sangkar dengan ukuran (5×5)m2. Mencatat semua jeniis tumbuhan yang berada dalam kuadrat tersebut.
  4. Memperluas kuadrat yang telah dibuat 2x semula menjadi (5×10) m2. Mencatat kembali penambahan jenis tumbuhan pada ukuran yang telah diperluas lagi.
  5. Melakukan penambahan jenis penambahan luas daengan cara yang sama yaitu menjadi (10×10)m2, (20×20)m2,….dan seterusnya sampai tidak ada penembahan jenis tumbuhan baru.
  6. Membuat grafik luas minimum.
    1. Penentuan jumlah minimum
    2. Menyebarkan secara acak 3 kuadrat berukuran 1×1 m, mencatat jumlah jenis tumbuhan dari ketiga tadi.
    3. Menyebarkan lagi 3 kuadrat berikutnya dengan ukuran tetap masing-masing 1x1m, dan mencatat kembali jumlah jenis tumbuhannya.
    4. Melakukan hal yang sama berkali-kali sampai 5 kali pengamatan masing-masing membuat 3 kuadrat.
    5. Menyusun seri kuadrat tadi berdasarkan jumlah jenis dari jumlah sedikit kejumlah yang banyak tanpa memperhatikan mana yang lebih dulu diambil.
    6. Membuat grafik jumlah minimum.

BAB IV

DATA PENGAMATAN

  1. A. Tabel luas minimum
No Nama spesies Luas plot
1×1 m 2×2 m 3×3 m 4×4 m 5×5 m
1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

Alang- Alang

Rumput A

Rumput B

Rumput C

Rumput D

Rumput E

Rumput F

Rumput G

Rumput H

Rumput I

Rumput J

Rumput teki

Jarak Pagar

15

11

7

20

2

8

28

11

7

31

2

8

8

17

28

11

7

31

9

2

8

8

17

12

30

25

7

31

17

1

1

2

8

8

1

20

12

32

25

8

31

18

1

1

2

8

8

4

20

12

Jumlah Total 63 112 133 163 170
  1. B. Tabel jumlah minimum
No Nama Spesies SERI 1 SERI 2 SERI 3 SERI 4
P1 P2 P3 P1 P2 P3 P1 P2 P3 P1 P2 P3
1 Alang- Alang
2 Rumput A
3 Rumput B
4 Rumput C
5 Rumput D
6 Rumput E
7 Rumput F
8 Rumput G
9 Rumput H
10 Rumput I
11 Rumput J
12 Rumput teki
13 Jarak Pagar

Ket; p = kuadrat 1,2 & 3

(beri tanda cawang/√)

BAB V

PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini kita melakukan praktikum pada luas minimum di suatu areal vegetasi komunitas. Pengamatan dilakukan melalui pengukuran dengan membuat bujur sangkar dengan ukuran 1×1 m2 ,2×2 m2 , 3×3 m2 , 4×4 m2 , 5×5 m2 di lapangan (suatu ekosistem) dari tumbuhan.

Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh data bahwa, untuk pengukuran pertama dengan ukuran bujur sangkar 1×1 m2 di areal suatu komunitas di dalamnya ditemukan jenis tumbuhan yaitu: Rumput A, Rumput B, Rumput C, Rumput G, Rumput H, dan Alang-Alang.

Selanjutnya luas areal tersebut diperluas menjadi 2×2 m2 , ternyata dengan penambahan luas juga terjadi penambahan jenis spesies yang ditemukan dalam ekosistem tersebut. Adapun tambahan jenis tumbuhan tersebut adalah: Rumput I, dan Rumput Teki.

Pada areal 3×3 m2, dengan penambahan luas ini ditemukan spesies baru, yaitu: Jarak Pagar dan Rumput D.

Pada areal 4×4 m2 ditemukan 3 jenis spesies yang lain dari area-area sebelumnya. Jenis spesies yang ditemukan adalah: Rumput E, Rumput F, dan Rumput J.

Pada area 5×5 m 2 tidak terdapat spesies tumbuhan baru. Tumbuhan yang ditemukan pada area ini sama dengan area sebelumnya

Perbedaan jumlah tumbuhan pada suatu vegetasi dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti: suhu, kelembaban, keadaan tanah, senyawa organik dan lain-lain.  Pada praktikum spesies yang paling banyak ditemukan adalah alang-alang

BAB VI

PENUTUP

  1. A. Kesimpulan

Kesimpulan dari praktikum ini adalah

  1. Luas minimum yang diperoleh dalam pengamatan yaitu 5×5 m 2 dan ini menunjukkan bahwa luas tersebut serta jenis tumbuhan yang mendominasi di dalamnya dapat mewakili karakteristik suatu vegetasi.
  2. Jumlah minimum yang didapatkan dari pengamatan yaitu 13 jenis tumbuhan dan ini menunjukkan bahwa jumlah tersebut sudah dapat mewakili karakteristik suatu vegetasi.
  3. Penyebaran jenis tumbuhan dalam suatu vegetasi dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti suhu, kelembaban, keadaan tanah dan senyawa organik.


DAFTAR PUSTAKA

Anwar, 1995, Biologi Lingkungan. Ganexa exact. Bandung.

Guritno, 1995. Analisa Pertumbuhan Tanaman. Rajawali Press. Jakarta

Harun, 1993. Ekologi Tumbuhan. Bina Pustaka. Jakarta.

Heddy. 1986. Pengantar Ekologi. Angkasa. Bandung

Rasyid,H. 1997. Analisis Lapangan dalam Ekologi. Kanisius. Yogyakarta

Rahardjanto, A.K. 2001. Buku Petunjuk Dasar-dasar Ekologi Tumbuhan. UMM Press. Malang.

Santoso. 1994. Teknik Lapangan Ekologi Tumbuhan. Departemen Biologi ITB. Bandung.

METODE KUADRAT DAN METODE GARIS

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Ilmu vegetasi sudah di mulai hampir tiga abad yang lalu, mula- mula kegiatan utama dilakukan lebih di arahkan pada deskripsi dari bentang alam dan vegetasinya.  Kemudian pada abab ke XX usaha-usaha di arahkan untuk menyederhanakan deskripsi  dan vegetasi dengan tujuan untuk meningkatkan keakuratan dan untuk mendapatkan  standar dasar dalam evolusi secara kuantitatif.

Dalam ilmu vegetasi telah dikembangkan berbagai metode untuk menganalisis suatu vegetasi yang sangat membantu dalam mendekripsikan suatu vegetasi sesuai dengan tujuannya. Dalam hal ini suatu metodologi sangat berkembang dengan pesat seiring dengan kemajuan dalam bidang-bidang pengetahuan lainnya, tetapi tetap harus diperhitungkan berbagai kendala yang ada

Vegetasi sebagai salah satu komponen dari ekosistem yang dapat menggambarkan pengaruh dari kondisi-kondisi fakta lingkungan yang mudah di ukur dan nyata. Dalam mendeskripsikan vegetasi harus di mulai dari suatu titik padang bahwa vegetasi merupakan suatu pengelompokkan dari suatu tumbuhan yang hidup di suatu hidup tertentu yang mungkin di karakterisasi baik oleh spesies sebagai komponennya  maupun oleh kombinasi dan struktur serta fungsi sifat-sifatnya yang mengkarakterisasi gambaran vegetasi secara umum.

  1. B. Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah:

  1. Untuk mengetahui cara menganalisis vegetasi dengan metode kuadrat dan metode garis.
  2. Untuk mengetahui cara memberi nama vegetasi atau komunitas berdasarkan nilai penting.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. A. Metode Kuadrat
  2. Bentuk Cuplikan

Bentuk sampel dapat berupa segi empat atau lingkaran dengan luas tertentu. Hal ini tergantung pada bentuk vegetasi. Berdasarkan metode pantauan luas minimum akan dapat di tentukan luas kuadrat yang di perlukan untuk setiap bentuk vegetasi tadi. Untuk setiap plot yang di sebarkan di lakukan perhitungan terhadap variabel-variabel kerapatan, kerimbunan dan frekuensi. Variabel kerimbunan dan kerapatan di tentukan berdasarkan luas kerapatan. Dari spesies yang di temukan dari sejumlah kuadrat yang di buat (Rahardjanto, 2001).

  1. Sistim analisis
  2. Kerapatan, ditentukan berdasarkan jumlah individu suatu populasi jenis tumbuhan didalam area cuplikan. Pada beberapa keadaan kesulitan dalam melakukan batasan individu tumbuhan, kerapatan dapat ditentukan dengan cara pengelompokan berdasarkan kreteria tertentu.
  3. Kerimbunan, ditentukan berdasarkan penutupan oleh populasi jenis tumbuhan. Apabila dalam menentukan kerapatan di jabarkan dalam bentuk kelas kerapatan, maka untuk perimbunannyapun lebih baik di gunakan kelas keribunan.
  4. Frekuensi, di tentukan berdasarkan kerapatan dari jenis tumbuhan di jumpai dlam sejumlah area cuplikan (n) di bandingkan dengan seluruh atau total area cuplikan yang dibuat (N) biasa dalam persen (%).
  1. B. Metode Garis

Selain metode kuadran kita juga bisa menggunakan metode garis untuk menganalisis vegetasi. Panjang sample berupa garis, untuk vegetasi hutan dapat lebih dari 50 meter, semak belukar sepanjang minimal 1 meter cuplikan berupa garis, untuk vegetasi sangat di pengaruhi oleh kekompleksitasan dari hutan tersebut.

Metode garis merupakan suatu metode yang menggunakan cuplikan berupa garis. Penggunaan metode ini pada vegetasi hutan sangat bergantung pada kompleksitas hutan tersebut. Dalam hal ini, apabila vegetasi sederhana maka garis yang digunakan akan semakin pendek. Untuk hutan, biasanya panjang garis yang digunakan sekitar 50 m-100 m. sedangkan untuk vegetasi semak belukar, garis yang digunakan cukup 5 m-10 m. Apabila metode ini digunakan pada vegetasi yang lebih sederhana, maka garis yang digunakan cukup 1 m (Syafei, 1990).

Pada metode garis ini, system analisis melalui variable-variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi yang selanjutnya menentukan INP (indeks nilai penting) yang akan digunakan untuk memberi nama sebuah vegetasi. Kerapatan dinyatakan sebagai jumlah individu sejenis yang terlewati oleh garis. Kerimbunan ditentukan berdasar panjang garis yang tertutup oleh individu tumbuhan, dan dapat merupakan prosentase perbandingan panjang penutupan garis yang terlewat oleh individu tumbuhan terhadap garis yang dibuat (Syafei, 1990). Frekuensi diperoleh berdasarkan kekerapan suatu spesies yang ditemukan pada setiap garis yang disebar (Rohman, 2001).

BAB III

PROSEDUR KERJA

  1. A. Alat dan Bahan

Alat dan bahan pada praktikum ini adalah:

  1. Tali raffia
  2. Pasak ukuran 1 meter @ 16 buah
  3. Meteran
  4. Plastik ukuran 1 kg @ 15 Lembar
  5. Alat tulis
  1. B. Cara Kerja
  2. Metode Garis
  1. Membuat garis sepanjang 10 meter sebanyak 5 garis
  2. Membagi masing-masing garis menjadi 5 segmen dengan ukuran 1 meter
  3. Mencatat dan menghitung semua jenis tumbuhan yang tersentuh dan yang berada di bawah garis
  4. Menentukan presentase kanopi masing-masing jenis tumbuhan.
  5. Menghitung harga relative tiap segmen
  6. Menentukan nilai penting dengan menggunakan angka hasil perhitungan relative
  7. Menyusun jenis-jenis tumbuhan berdasarkan nilai penting yang terkecil
  8. Memberi nama bentuk vegetasi berdasarkan 2 jenis tumbuhan dengan harga nilai penting terbesar.
  1. Perhitungan Metode Garis

Kabs = Jumlah individu A yang terkena garis

Jumlah total panjang semua garis

Dabs =  Jumlah kerimbunan tumbuhan jenis A

Jumlah total kerimbunan semua garis

Fabs =  jumlah segmen yang mengandung jenis A

Jumlah seluruh segmen

Krelatif =                     Kabs

Jumlah kerapatan semua jenis

Drelatif =          Dabs jenis A

Total d abs semua jenis

Frelatif      =         Fabs jenis A

T total Fabs semua jenis

NP             = Kr + Dr + Fr

  1. Metode Kuadrat
  1. Membuat plot dengan ukuran 5×5 m secara acak sebanyak 4 plot
  2. Setiap plot dilakukan analisis vegetasi berdasarkan variable-variable kerapatan
Kelas Kerapatan Keadaan Tumbuhan
5 Dominan, tumbuhan sangat banyak dan terlihat disekeliling plot
4 Kodominan, terdapat dua atau lebih spesies yang dominan.
3 Tumbuhan agak jarang, tetapi masih terlihat di tengah plot
2 Sedikit, tetapi masih bias dicari sambil berjalan tanpa mengganggu tumbuhan lain.
1 Sangat jarang, hanya dapat ditemukan dengan mencari di antara tumbuhan lain
Kelas kerimbunan Penutupan
5 >75%
4 75-50%
3 49-25%
2 24-10%
1 <10%
  1. Menganalisa vegetasi di seluruh kuadrat dan melakukan perhitungan untuk mencari harga relatifnya dan setiap variable untuk setiap jenis atau spesies tumbuhan.
  2. Melanjutkkan perhitungan untuk mencari harga nilai penting dan setiap jenis atau spesies tumbuhan
  3. Menyusun dalam satu tabel jenis tumbuhan berdasarkan harga nilai penting dari harga terbesar sampai harga terkecil.
  4. Memberi nama vegetasi ini berdasarkan 2 jenis atau spesies dengan harga nilai penting terbesar.

BAB IV

DATA PENGAMATAN

  1. A. Tabel Metode Kuadrat
No Nama spesies Plot 1 Plot 2 Plot 3 Plot 4 Plot 5 Total
Cov Cov Cov Cov Cov Cov
1 Alang Alang 15 60 28 112 28 112 30 120 32 128 133 532
2 Rumput A 11 22 11 22 11 22 25 50 25 50 83 166
3 Rumput B 7 28 7 28 7 28 7 28 8 32 38 144
4 Rumput C 20 20 31 31 31 31 31 31 31 31 144 144
5 Rumput D 9 27 17 51 18 54 44 132
6 Rumput E 1 3 1 3 2 6
7 Rumput F 1 2 1 2 2 4
8 Rumput G 2 6 2 6 2 6 2 6 2 6 10 30
9 Rumput H 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 40 40
10 Rumput I 8 16 8 16 8 16 8 16 32 64
11 Rumput J 1 4 4 16 5 20
12 Rumput Teki 17 34 17 34 20 40 20 40 74 148
13 Jarak Pagar 12 60 12 60 12 60 36 180
  1. B. Tabel Metode garis (ke 1,2,3,…..)
No Nama spesies Garis 1 Garis 2 Garis 3 Garis 4 Garis 5 Total
Cov Cov Cov Cov Cov Cov
1 Alang- Alang 25 100 11 44 17 68 13 52 9 36 75 300
2 Rumput A 21 42 12 24 12 24 2 4 8 16 55 110
3 Rumput B 1 4 3 12 4 16
4 Rumput C 1 1 2 2 1 1 1 1 5 5
5 Rumput D 1 3 3 9 4 12
6 Rumput E 2 6 1 3 5 15 8 24
7 Rumput F 3 6 1 2 1 2 5 10
8 Rumput G 1 3 2 6 3 9
9 Rumput H 12 12 15 15 15 15 10 10 52 52
10 Rumput I 3 6 12 24 13 26 12 24 11 22 51 102
11 Rumput J 13 52 22 88 10 40 10 40 12 48 67 268
12 Rumput teki 1 2 3 6 9 18 13 26
13 Jarak Pagar 1 5 4 20 5 25
14 Pohon A 1 24 1 24
15 Pohon B 1 30 1 30 2 60
  1. Tabel nilai penting (NP) metode kuadrat dan tabel metode garis
NO Jenis (spesies) Nilai Penting
1 Alang- Alang 0,644
2 Rumput A 0,381
3 Rumput B 0,067
4 Rumput C 0,098
5 Rumput D 0,0646
6 Rumput E 0,105
7 Rumput F 0,0825
8 Rumput G 0,057
9 Rumput H 0,28
10 Rumput I 0,353
11 Rumput J 0,504
12 Rumput teki 0,126
13 Jarak Pagar 0,081
14 Pohon A 0,272
15 Pohon B 0,0567

BAB V

PERHITUNGAN

Kabs = Jumlah individu A yang terkena garis

Jumlah total panjang semua garis

  1. Kabs = 75

50

= 1,5

  1. Kabs = 55

50

= 1,1

  1. Kabs = 4

50

= 0,08

  1. Kabs = 5

50

= 0,1

  1. Kabs = 4

50

= 0.08

  1. Kabs = 8

50

= 0,16

  1. Kabs = 5

50

= 0,1

  1. Kabs = 3

50

= 0,06

  1. Kabs = 52

50

= 1,04

  1. Kabs = 51

50

= 1,02

  1. Kabs = 61

50

= 1,22

  1. Kabs = 13

50

= 0,26

  1. Kabs = 5

50

= 0,1

  1. Kabs = 1

50

= 0,02

  1. Kabs = 2

50

= 0,04

Dabs =  Jumlah kerimbunan tumbuhan jenis A

Jumlah total kerimbunan semua garis

  1. Dabs =  300

50

= 6

  1. Dabs =  110

50

= 2,2

  1. Dabs =  16

50

= 0,32

  1. Dabs =  5

50

= 0.1

  1. Dabs =  12

50

= 0,24

  1. Dabs =  24

50

= 0,48

  1. Dabs =  10

50

= 0,2

  1. Dabs =  9

50

= 0,18

  1. Dabs =  52

50

= 1,04

  1. Dabs =  51

50

= 1,02

  1. Dabs =  61

50

= 1,22

  1. Dabs =  13

50

= 0,26

  1. Dabs =  25

50

= 0,5

  1. Dabs =  24

50

= 0,48

  1. Dabs =  10

50

= 0,2

Fabs =  jumlah segmen yang mengandung jenis A

Jumlah seluruh segmen

  1. Fabs =  5

50

= 0,1

  1. Fabs =  5

50

= 0,1

  1. Fabs =  2

50

= 0,04

  1. Fabs =  4

50

= 0,08

  1. Fabs =  2

50

= 0,04

  1. Fabs =  3

50

= 0,06

  1. Fabs =  3

50

= 0,06

  1. Fabs =  2

50

= 0,04

  1. Fabs =  4

50

= 0,08

  1. Fabs =  5

50

= 0,1

  1. Fabs =  5

50

= 0,1

  1. Fabs =  3

50

= 0,06

  1. Fabs =  2

50

= 0,04

  1. Fabs =  1

50

= 0,02

  1. Fabs =  2

50

= 0,04

Krelatif =                     Kabs

Jumlah kerapatan semua jenis

  1. Krelatif = 1,5

6,88

= 0,22

  1. Krelatif = 1,1

6,88

= 0,16

  1. Krelatif = 0,08

6,88

= 0,01

  1. Krelatif = 0,1

6,88

= 0,01

  1. Krelatif = 0,08

6,88

= 0,011

  1. Krelatif = 0,16

6,88

= 002

  1. Krelatif = 0,1

6,88

= 0,01

  1. Krelatif = 0,06

6,88

= 0,008

  1. Krelatif = 1,04

6,88

= 0,15

  1. Krelatif = 1,02

6,88

= 0,14

  1. Krelatif = 1,22

6,88

= 0,18

  1. Krelatif = 0,26

6,88

= 0,037

  1. Krelatif = 0,1

6,88

= 0,014

  1. Krelatif = 0.02

6,88

= 0,002

  1. Krelatif = 0,04

6,88

= 0,005

Drelatif =          Dabs jenis A

Total d abs semua jenis

  1. Drelatif = 6

18,66

= 0,32

  1. Drelatif = 2,2

18,66

= 0,117

  1. Drelatif = 0,32

18,66

= 0,017

  1. Drelatif = 0,1

18,66

= 0,005

  1. Drelatif = 0.24

18,66

= 0,012

  1. Drelatif = 0,48

18,66

= 0,025

  1. Drelatif = 0,2

18,66

= 0,01

  1. Drelatif = 0,18

18,66

= 0,009

  1. Drelatif = 1,04

18,66

= 0,05

  1. Drelatif = 2,04

18,66

= 0,109

  1. Drelatif = 4,16

18,66

= 0,22

  1. Drelatif = 0,52

18,66

= 0,027

  1. Drelatif = 0,5

18,66

= 0,026

  1. Drelatif = 0,48

18,66

= 0,25

  1. Drelatif = 0,2

18,66

= 0,0107

Frelatif      =         Fabs jenis A

T total Fabs semua jenis

  1. Frelatif            =  0,1

0,96

= 0,104

  1. Frelatif            =  0,1

0,96

= 0,104

  1. Frelatif            =  0,04

0,96

= 0,04

  1. Frelatif            =  0,08

0,96

= 0,083

  1. Frelatif            =  0,04

0,96

= 0,0416

  1. Frelatif            =  0,06

0,96

= 0,06

  1. Frelatif            =  0,06

0,96

= 0,0625

  1. Frelatif            =  0,04

0,96

= 0,04

  1. Frelatif            =  0,08

0,96

= 0,08

  1. Frelatif            =  0,1

0,96

= 0,104

  1. Frelatif            =  0,1

0,96

= 0,104

  1. Frelatif            =  0,06

0,96

= 0,062

  1. Frelatif            =  0,04

0,96

= 0,041

  1. Frelatif            =  0,02

0,96

= 0,02

  1. Frelatif            =  0,04

0,96

= 0,041

NP             = Kr + Dr + Fr

  1. NP       = 0, 22 + 0,32 + 0,104

= 0,644

  1. NP       = 0, 16 + 0,117 + 0,104

= 0,381

  1. NP       = 0, 01 + 0,017 + 0,04

= 0,067

  1. NP       = 0,01 + 0,005 + 0,083

= 0,098

  1. NP       = 0,011 + 0,012 + 0,0416

= 0,0646

  1. NP       = 0,02 + 0,025 + 0,06

= 0,105

  1. NP       = 0,01 + 0,01 + 0,0625

= 0,0825

  1. NP       = 0,008 + 0,009 + 0,04

= 0,057

  1. NP       = 0, 15 + 0,05 + 0,08

= 0,28

  1. NP       = 0,14 + 0,109 + 0,104

= 0,353

  1. NP       = 0, 18 + 0,22 + 0,104

= 0,504

  1. NP       = 0,037 + 0,027 + 0,062

= 0,126

  1. NP       = 0, 22 + 0,32 + 0,104

= 0,644

  1. NP       = 0,002 + 0,25 + 0,02

= 0,272

  1. NP       = 0,005 + 0,0107 + 0,41

= 0,0567

Ket :

A.  Alang- Alang

B.  Rumput A

C.  Rumput B

D.  Rumput C

  1. Rumput D
  2. Rumput E

G.  Rumput F

H.  Rumput G

  1. Rumput H
  2. Rumput I

K.  Rumput J

  1. Rumput teki

M. Jarak Pagar

N.  Pohon A

O.  Pohon B

BAB VI

PEMBAHASAN

Dengan menggunkan metode garis kita dapat menggunakan data yang didapat sebagai perbandingan dengan data yang didapat dengan menggunakan metode kuadrat. Percobaan ini dilakukan dengan cara membuat garis sepanjang 10 m sebanyak 5 buah, dan mengamati semua vegetasi yang menempel atau menyentuh garis yang telah dibuat tersebut.  Menurut Syafei, (1990) Metode garis merupakan suatu metode yang menggunakan cuplikan berupa garis. Penggunaan metode ini pada vegetasi hutan sangat bergantung pada kompleksitas hutan tersebut. Dalam hal ini, apabila vegetasi sederhana maka garis yang digunakan akan semakin pendek. Untuk hutan, biasanya panjang garis yang digunakan sekitar 50 m-100 m. sedangkan untuk vegetasi semak belukar, garis yang digunakan cukup 5 m-10 m. Apabila metode ini digunakan pada vegetasi yang lebih sederhana, maka garis yang digunakan cukup 1 m.

Nilai penting tertinggi adalah alang-alang sebesar 0,644. Dengan menggunkan metode garis kita dapat mengunakan data yang didapat sebagai perbandingan dengan data yang didapat dengan menggunakan metode kuadrat. Dari data yang di dapat

BAB VII

PENUTUP

  1. A. Kesimpulan

Kesimpulan dari praktikum ini adalah:

  1. Metode garis merupakan suatu metode yang menggunakan cuplikan berupa garis. Sementara metode kuadran adalah metodengan menggunakan bentuk bujur sangkar dengan luas area tertentu
  2. Nilai penting tertinggi adalah alang-alang sebesar 0,644
    DAFTAR PUSTAKA

Anwar, 1995, Biologi Lingkungan. Ganexa exact. Bandung.

Guritno, 1995. Analisa Pertumbuhan Tanaman. Rajawali Press. Jakarta

Harun, 1993. Ekologi Tumbuhan. Bina Pustaka. Jakarta.

Rahardjanto Abdul Kadir,2005. Buku Petunjuk Pratikum Ekologi Tumbuhan. UMM Press. Malang

Syafei, Eden Surasana. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. Bandung. ITB.

METODE TANPA PLOT (INTERSEPSI TITIK)

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Dalam mendiskripsikan suatu vegetasi haruslah dimulai dari suatu titik pandang bahwa vegetasi merupakan suatu pengelompokan dan tumbuh-tumbuhan yang hidup bersama dalam suatu terutama yang mungkin dikarakterisasi baik oleh spesies sebagai komponenya. Maupu oleh kombinasi dan struktur sifat-sifatnya yang mengkarakterisasi gamberan vegetasi secara umum atau fungsionl. Dalam ilmu vegetasi telah dikembangkan berbagai metode untuk menganalisis dan juga sintesis sehingga akan memebantu dan mendiskripsikan suatu vegetasi sesuai dengan kemajuan dalam bidang-bidang pengetahuan lain.dalam waktu ini akan dipergunakan metode intersepsi titik untuk menemai suatu vegetasi.

  1. B. Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah

  1. Untuk menganalisis vegetasi dengan menggunakan metode intersepsi titik atau metode tanpa plot
  2. Untuk menganalisis vegetasi yang mendominasi di area praktikum lapang
  3. Untuk dapat memberikan sebuah nama tertentu pada vegetasi berdasarkan nilai terpentingnya

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Metode intersepsi titik merupakan suatu metode analisis vegetasi dengan menggunakan cuplikan berupa titik. Pada metode ini tumbuhan yang dapat dianalisis hanya satu tumbuhan yang benar-benar terletak pada titik-titik yang disebar atau yang diproyeksikan mengenai titik-titik tersebut. Dalam menggunakan metode ini variable-variabel yang digunakan adalah kerapatan, dominansi, dan frekuensi (Rohman, 2001).

Kelimpahan setiap spesies individu atau jenis struktur biasanya dinyatakan sebagai suatu persen jumlah total spesises yang ada dalam komunitas, dan dengan demikian merupakan pengukuran yang relatife. Dari nilai relative ini, akan diperoleh sebuah nilai yang merupak INP. Nilai ini digunakan sebagai dasar pemberian nama suatu vegetasi yang diamati.Secara bersama-sama, kelimpahan dan frekuensi adalah sangat penting dalam menentukan struktur komunitas (Michael, 1994).

BAB III

PROSEDUR KERJA

  1. A. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang dipakai pada praktikum ini adalah:

  1. Tali raffia
  2. Pasak ukuran 1 m @ 2 buah
  3. Meteran
  4. Penggaris
  1. B. Cara Kerja
  2. Menentukan lokasi untuk pengamatan
  3. Menancapkan 2 pasak dengan jarak 1 meter, dari pasak yang ke 1 ke pasak yang ke-2
  4. Membentangkan tali raffia sepanjang 1 meter antara psak ang ke satu dan pasak yang kedua
  5. Menancapkan lidi tiap titiknya yang terkena atau tersentuh lidi.
  6. Melakukan perhitungan kerapatan (Kr), dominasi (Dr), Frekuensi (Fr) dengan rumus berikut

Dabs A            = Jumlah titikyang tersentuh jenis A

Jumlah titik total

Fabs A             = Jumlah seri yang mengandung jenis A

Jenis seluruh seri

Krelatif A        = Dabs x 100%

Jumlah total Dabs semua jenis

Drelatif A        = Fabs x 100%

Jumlah total Dabs seluruh jenis

Frelatif            = Fabs jenis A x 100%

Total F abs semua jenis

NP A               = Drelatif + Frelatif

BABA IV

DATA PENGAMATAN

  1. Tabel Pengamatan Seri (1-5)
No Nama Spesies Titik ke… Jumlah
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1

2

3

4

5

6

7

8

9

Alang- Alang

Rumput A

Rumput B

Rumput C

Rumput D

Rumput E

Rumput F

Pohon A

Bunga Tele’

1

2

2

1

1

2

1

1

1

3

3

1

1

2

1

2

1

3

1

2

2

1

1

1

2

1

1

1

2

1

1

1

3

11

1

2

4

21

6

3

1

1

Jumlah 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 50
  1. Tabel data nilai terpenting (NP) dari nilai terbesar hingga terkecil
No Jenis Tumbuhan Nilai penting
1 Alang- Alang 30,18
2 Rumput A 30,18
3 Rumput B 10,06
4 Rumput C 40,24
5 Rumput D 50,30
6 Rumput E 40,24
7 Rumput F 30,18
8 Pohon A 10,06
9 Bunga Tele’ 10,06

BAB V

PERHITUNGAN

Dabs A            = Jumlah titikyang tersentuh jenis A

Jumlah titik total

  1. Dabs A     = 8

10

= 0,8

  1. Dabs A     = 1

10

= 0,1

  1. Dabs A     = 2

10

= 0,2

  1. Dabs A     = 4

10

= 0,4

  1. Dabs A     = 10

10

=  1

  1. Dabs A     = 4

10

= 0,4

  1. Dabs A     = 2

10

= 0,2

  1. Dabs A     = 1

10

= 0,1

  1. Dabs A     = 1

10

= 0,1

Fabs A             = Jumlah seri yang mengandung jenis A

Jumlah seluruh seri

  1. Fabs A      = 3

5

= 0,6

  1. Fabs A      = 3

5

= 0,6

  1. Fabs A      = 1

5

= 0,2

  1. Fabs A      = 4

5

= 0,8

  1. Fabs A      = 5

5

= 1

  1. Fabs A      = 4

5

= 0,8

  1. Fabs A      = 3

5

= 0,6

  1. Fabs A      = 1

5

= 0,2

  1. Fabs A      = 1

5

= 0,2

Krelatif A        = Dabs x 100%

Jumlah total Dabs semua jenis

  1. Krelatif A = 0,8 x 100%

3,3

= 24.24%

  1. Krelatif A = 0,1 x 100%

3,3

= 3,03%

  1. Krelatif A = 0,2 x 100%

3,3

= 6,06%

  1. Krelatif A = 0,4 x 100%

3,3

= 12,12%

  1. Krelatif A = 1 x 100%

3,3

= 30,30%

  1. Krelatif A = 0,4 x 100%

3,3

= 12,12%

  1. Krelatif A = 0,2 x 100%

3,3

= 6,06%

  1. Krelatif A = 0,1 x 100%

3,3

= 3,03%

  1. Krelatif A = 0,1 x 100%

3,3

= 3,03%

Drelatif A        = Fabs x 100%

Jumlah total Dabs seluruh jenis

  1. Drelatif A = 0,6 x 100%

3,3

= 18,18

  1. Drelatif A = 0,6 x 100%

3,3

= 18,18

  1. Drelatif A = 0,2 x 100%

3,3

= 6,06

  1. Drelatif A = 0,8 x 100%

3,3

= 24,24

  1. Drelatif A =  1 x 100%

3,3

= 30,30

  1. Drelatif A = 0,8 x 100%

3,3

= 24,24

  1. Drelatif A = 0,6 x 100%

3,3

= 18,18

  1. Drelatif A = 0,2 x 100%

3,3

= 6,06

  1. Drelatif A = 0,2 x 100%

3,3

= 6,06

Frelatif            = Fabs jenis A x 100%

Total F abs semua jenis

  1. Frelatif     = 0,6 x 100%

5

= 12

  1. Frelatif     = 0,6 x 100%

5

= 12

  1. Frelatif     = 0,2 x 100%

5

= 4

  1. Frelatif     = 0,8 x 100%

5

= 16

  1. Frelatif     =  1 x 100%

5

= 20

  1. Frelatif     = 0,8 x 100%

5

= 16

  1. Frelatif     = 0,6 x 100%

5

= 12

  1. Frelatif     = 0,2 x 100%

5

= 4

  1. Frelatif     = 0,2 x 100%

5

= 4

NP A               = Drelatif + Frelatif

  1. NP A        = 18,18 + 12

= 30,18

  1. NP A        = 18,18 + 12

= 30,18

  1. NP A        = 6,06 + 12

= 10,06

  1. NP A        = 24,24 + 12

= 40,24

  1. NP A        = 30,30 + 12

= 50,30

  1. NP A        = 24,24 + 12

= 40,24

  1. NP A        = 18,18 + 12

= 30,18

  1. NP A        = 6,06 + 12

= 10,06

  1. NP A        = 6,06 + 12

= 10,06

Ket.

  1. Alang- Alang
  2. Rumput A
  3. Rumput B
  4. Rumput C
  5. Rumput D
  6. Rumput E
  7. Rumput F
  8. Pohon A
  9. Bunga Tele’

BAB VI

PEMBAHASAN

Dalam ilmu vegetasi telah dikembangkan berbagai metode untuk menganalisis suatu vegetasi yang sangat membantu dalam mendekripsikan suatu vegetasi sesuai dengan tujuannya. Dalam hal ini suatu metodologi sangat berkembang dengan pesat seiring dengan kemajuan dalam bidang-bidang pengetahuan lainnya, tetapi tetap harus diperhitungkan berbagai kendala yang ada (Syafei, 1990).

Metodologi-metodologi yang umum dan sangat efektif serta efisien jika digunakan untuk penelitian, yaitu metode kuadrat, metode garis, metode tanpa plot dan metode kwarter. Akan tetapi dalam praktikum kali ini hanya menitik beratkan pada penggunaan analisis dengan metode intersepsi titik (metode tanpa plot).

Tumbuhan yang paling tinggi nilai pentingnya adalah Rumput D sebesar 50,30. Data pengamatan pada hasil pengamatan merupakan data dari hasil metode tanpa titik atau disebut juga intersepsi titik.

BAB VII

PENUTUP

  1. A. Kesimpulan

Kesimpulan dari praktikum ini adalah:

  1. Metode intersepsi titik merupakan suatu metode analisis vegetasi dengan menggunakan cuplikan berupa titik
  2. Tumbuhan yang paling tinggi nilai pentingnya adalah Rumput D sebesar 50,30
    DAFTAR PUSTAKA

Michael, P. 1995. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium. Jakarta: UI Press.

Rohman, Fatchur dan I Wayan Sumberartha. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. Malang: JICA.

Syafei, Eden Surasana. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. Bandung. ITB.

POLA PENYEBARAN DAN DAERAH SEBARAN TUMBUHAN

POLA PENYEBARAN DAN DAERAH SEBARAN TUMBUHAN

A. Penyebaran Tumbuhan dan Daerah Persebarannya

Dunia tumbuhan selalu mengalami proses perubahan, perkembangan dan penyebaran. Perubahan, perkembangan dan penyebaran tumbuhan di muka bumi ini “seirama” dengan perubahan dan perkembangan faktor intern dan ekstern. Faktor-faktor biologik sebagai faktor dalam (intern) meliputi perkawinan silang, mutasi, dan modifikasi genetika dari tumbuhan tersebut Faktor geografik sebagai faktor loaf (ekstern) meliputi perubahan iklim, tanah, aktivitas vulkan, dan kerak bumi. Secara garis besar penyebaran tumbuhan di muka bumi ini dapat digolongkan menjadi 8 kelompok yaitu berdaun lebar hijau sepanjang tahun, berdaun lebar disertai masa gugur daun, berdaun jarum hijau sepanjang tahun, rerumputan, bangsa lumut, campuran tumbuhan berdaun lebar dan jarum hijau sepanjang tahun, berdaun jarum mengalami musim gugur, dan campuran tumbuhan berdaun lebar hijau sepanjang tahun dan masa gugur daun.

Flora di Indonesia sangatlah banyak. Hal ini pasti dipengaruhi oleh berbagai faktor yang mendukung persebaran tersebut. Diantaranya adalah tinggi rendah dari permukaan laut, jenis tanah, jenis hutan, iklim, pengaruh manusia, keadaan air dan lain-lain. Berikut ini adalah pembagian wilayah persebaran flora di Indonesia :

Flora daerah Indonesia bagian barat memiliki banyak kesamaan dengan Benua Asia, karena daerah ini pernah bersatu dengan daratan Asia, sehingga disebut sebagai flora asiatis. Flora Indonesia bagian barat terdiri dari :

1.  Hutan hujan tropik yang ditandai oleh rimba belantara dengan tumbuhan yang beraneka ragam. Hutan hujan tropik yang masih lengkap memiliki ciri – ciri berdaun lebar, pohon tinggi besar, belukar – belukar tropik, serta cendawan. Wilayah ini terdapat di Sumatra, Jawa dan Kalimantan.

2.  Hutan musim yang merupakan daerah yang ditumbuhi flora yang menggugurkan daunnya di musim kemarau. Wilayah ini terdapat di wilayah utara Jawa.

3.  Hutan bakau yang merupakan daerah yang terdiri dari flora khas pantai, seperti rumbia, nipah dan bakau.

4.  Sabana tropik yang merupakan padang rumput yang diselingi pohon tegakan tinggi. Sabana tropik ini dapat ditemui di Gayo, wilayah timur Jawa Timur, dan  Bali.

Wilayah ini memiliki berbagai jenis vegetasi, antara lain :

1.  Sabana tropik yang berada di Nusa Tenggara Barat.

2.  Steppa yang merupakan padang rumput yang diselingi pohon tegakan tinggi. Steppa  banyak terdapat di Nusa Tenggara Timur.

3.   Hutan bakau yang terdiri dari nipah dan bakau.

4.   Hutan pegunungan yang terdiri dari cemara dan pinus.

Wilayah ini memiliki berbagai flora yang disebut sebagai flora Asustralis, karena kesamaan flora antara wilayah Indonesia bagian timur dengan Australia. Kesamaan tersebut karena daratan ini pernah bersatu dengan daratan Australia. Flora bagian timur ini banyak terdapat di Papua. Jenis vegetasinya adalah hutan hujan tropik, hutan pegunungan, dll

Persebaran flora di Indonesia terbentuk karena adanya peristiwa geologis yang terjadi pada jutaan tahun yang lalu, yaitu pada masa pencairan es (zaman glasial). Pada saat itu terjadi pencairan es secara besar-besaran yang menyebabkan naiknya permukaan air laut di bumi, hal ini menyebabkan beberapa wilayah yang dangkal kemudian menjadi tenggelam oleh air laut dan membentuk wilayah perairan yang baru.

Beberapa wilayah perairan baru di sekitar Indonesia yang terbentuk pada masa berakhirnya zaman glasial itu adalah Laut Jawa yang terdapat di daerah Dangkalan Sunda dan Laut Arafuru yang terdapat di daerah Dangkalan Sahul. Terbentuknya perairan baru di daerah dangkalan tersebut menyebakan flora yang semula dapat dengan bebas bermigrasi akhirnya terhambat oleh perubahan kondisi geologis.

Jenis tumbuhan yang tersebar di wilayah Indonesia meliputi hutan tropis, hutan musim,  hutan pegunungan, hutan bakau dan sabana tropis. Persebaran flora di wilayah Indonesia itu sendiri terbagi ke dalam 4 kelompok besar wilayah flora Indonesia, yaitu :

1. Wilayah Flora Sumatra-Kalimantan

Tersebar di pulau Sumatra dan Kalimantan serta pulau-pulau kecil di sekitarnya (Nias, Enggano, Bangka, Belitung, Kep. Riau, Natuna, Batam, Buton dll). Contoh flora khas yang tumbuh adalah Bunga Bangkai (Raflesia Arnoldi)

2. Wilayah Flora Jawa-bali

Tersebar di pulau Jawa, Madura, Bali dan kepulauan-kepulauan kecil disekitarnya (Kepulauan Seribu, Kep. Karimunjawa). Contoh flora khas yang tumbuh adalah pohon Burohal (Kepel)

3. Wilayah Flora Kepulauan Wallacea

Tersebar di pulau Sulawesi, Timor, Kepulauan Maluku dan Nusa Tenggara. Contoh flora yang tumbuh adalah pohon Sagu

4. Wilayah Flora Papua

Meliputi wilayah pulau Papua dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Contoh Flora Khas tumbuh adalah Eucalyptus, sama dengan jenis tumbuhan yang tumbuh di daerah Queensland Australia Utara.

Apabila dilihat melalui ruang lingkup dunia maka persebaran tumbuhan dibagi menjadi beberapa wilayah penyebaran, yaitu:

1. Wilayah Ethiopian

Wilayah persebarannya meliputi benua Afrika, dari sebelah Selatan Gurun Sahara, Madagaskar dan Selatan Saudi Arabia. Tumbuhan yang khas dari daerah ini meliputi kaktus.

2. Wilayah Paleartik

Wilayah persebarannya sangat luas meliputi hampir seluruh benua Eropa, Uni Sovyet, daerah dekat Kutub Utara sampai Pegunungan Himalaya, Kepulauan Inggris di Eropa Barat sampai Jepang, Selat Bering di pantai Pasifik, dan benua Afrika paling Utara. Kondisi lingkungan wilayah ini bervariasi, baik perbedaan suhu, curah hujan maupun kondisi permukaan tanahnya, menyebabkan jenis floranya juga bervariasi, seperti bunga sakura dari Jepang.

3. Wilayah Nearktik

Wilayah persebarannya meliputi kawasan Amerika Serikat, Amerika Utara dekat Kutub Utara, dan Greenland. Flora yang yang khas meliputi tumbuhan pada daerah-daerah dingin seperti cemara yang biasa tumbuh di daerah bersalju.

4. Wilayah Neotropikal

Wilayah persebarannya meliputi Amerika Tengah, Amerika .Selatan, dan sebagian besar Meksiko. Iklim di wilayah ini sebagian besar beriklim tropik dan bagian Selatan beriklim sedang. Misalnya: Pohon eboni.

5. Wilayah Oriental

Untuk daerah oriental, daerah penyebaran biotiknya meliputi daerah Asia bagian selatan pegunungan Himalaya, India, Sri Langka, Semenanjung Melayu, Sumatera, Jawa, Kalirnantan, Sulawesi, dan Filipina. Flora yang ada misalnya: Bunga Bangkai

6. Wilayah Australian

Wilayah ini mencakup kawasan Australia, Selandia Baru, Irian, Maluku, pulau-pulau di sekitarnya, dan kepulauan di Samudera Pasifik. Contohnyan adalah: Eukaliptus.

B. Pola Penyebaran Tumbuhan

Penyebaran atau distribusi tumbuhan dalam suatu populasi bisa bermacam-macam, pada umumnya memperlihatkan tiga pola penyebaran, yaitu

  1. Penyebaran secara acak , jarang terdapat di alam. Penyebaran ini biasanya terjadi apabila faktor lingkungan sangat beragam untuk seluruh daerah dimana populasi berada, selain itu tidak ada sifat-sifat untuk berkelompok dari organisme tersebut. Dalam tumbuhan ada bentuk-bentuk organ tertentu yang menunjang untuk terjadinya pengelompkan tumbuhan.

Gambar 1.  pola penyebaran Acak

  1. Penyebaran secara merata, umumnya terdapat pada tumbuhan. Penyebaran semacam ini terjadi apabila ada persaingan yang kuat antara individu-individu dalam populasi tersebut. Pada tumbuhan misalnya persaingan untuk mendapatkan nutrisi dan ruang.

Gambar 2.  pola penyebaran merata

  1. Penyebaran secara berkelompok, adalah yang paling umum di alam, terutama untuk hewan. Pengelompokan ini disebabkan oleh berbagai hal:
    1. Respon dari organisme terhadap perbedaan habitat secara lokal
    2. Respon dari organisme terhadap perubahan cuaca musiman akibat dari  cara atau proses reproduksi atau regenerasi.

Gambar 3.  pola penyebaran berkelompok

DAFTAR PUSTAKA

McNaughton, S.J. dan Larry L.  1998. Ekologi Umum. Gajah Mada University. Jogjakarta

Syafe’i, E. S. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. ITB. Bandung

Somarwoto, O. 2001. Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Djambatan. Jakarta