Arsip Kategori: Parasitologi

Dracunculus medinensis

Dracunculus medinensis

Kingdom: Animalia
Phylum: Nemathelminthes

Class: Nematoda
Order: Camallanidae
Superfamily: Dracunculoidea
Family: Dracunculidae
Genus: Dracunculus
Species: D. medinensis


Dracunculus medinensis atau cacing Madinah (dulu endemik dikota Madinah, sekarang dinyatakan sudah musnah dari sana oleh WHO) merupakan parasit pada manusia dan mamalia di Asia dan Afrika. Larvanya terdapat pada tubuh Cyclops sp. diperairan tawar.

Morfologi

Cacing ini berbentuk silindris dan memanjang  seprti benang. Permukaan tubuh berwarna  putih susu dengan kutikula yang halus. Ujung anterior berbentuk bulat tumpul sedangkan  ujung posterior melengkung membentuk kait. Memiliki mulut yang kecil dan ujung anteriornya  dikelilingi paling sedikit 10 papila. Cacing jantan panjangnya 12-40 mm dan lebarnya 0,4 mm Cacing betina panjangnya 120 cm dan lebarnya1-2 mm.

Nama Penyakit

Dracunculiasis adalah infeksi yang disebabkan oleh cacing gelang Dracunculus medinensis. Yang menyebabkan rasa sakit, luka kulit meradang dan radang sendi yang melemahkan.  Infeksi tersebut terjadi sebagian besar pada jalur sempit melintasi beberapa negara di daerah Afrika Selatan dan di Yaman dan hanya berlangsung pada musim tertentu

Siklus hidup

Bila manusia meminum air mentah mengandung cyclops yang telah terinfeksi oleh larva cacing ini  menetas lalu menembus dinding usus menuju jaringan bawah kulit, jantung atau otak            Setahun kemudian, cacing yang telah dewasa akan bereproduksi dan bergerak menuju permukaan kulit (umumnya tangan atau kaki), jantan akan mati setelah 3-7 bulan setelah infeksi. Betina yang akan bereproduksi akan menimbulkan bercak merah yang terasa sangat panas lalu menimbulkan luka terbuka pada anggota badan tersebut. Pada saat bagian tubuh yang terluka itu direndam air (untuk mengurangi rasa panas yang ditimbulkan)  cacing betina dewasa akan keluar (dapat dilihat dengan mata) dari luka tersebut dan melepaskan larva muda   kemudian larva muda mencari Cyclops dan siklus kembali terulang.  setelah proses ini terselesaikan, betina akan mati, apabila tidak dapat keluar dari tubuh maka cacing tersebut akan terkristalisasi didalam tubuh inangnya. Luka terbuka yang diakibatkan oleh penetrasi cacing ini memiliki potansi yang besar terkena infeksi bakteri sekunder (bakteri tetanus,bakteri pemakan daging dsb) apabila tidak diobati secara tepat.

PENYEBAB

Orang menjadi terinfeksi dengan meminum air yang mengandung semacam binatang air yang terinfeksi berkulit keras yang kecil, yang selanjutnya menjadi hunian untuk cacing tersebut. setelah penyerapan, crustacean mati dan melepaskan larva, yang menembus dinding usus. Larva matang menjadi cacing dewasa sekitar 1 tahun. Setelah dewasa, cacing betina bergerak melalui jaringan di bawah kulit, biasanya menuju kaki. Di sana, mereka membuat bukaan pada kulit sehingga ketika mereka melepaskan larva, larva tersebut bisa meninggalkan tubuh, masuk ke air, dan menemukan hunian crustacean. Jika larva tidak mencapai kulit, mereka mati dan hancur atau mengeras (calcify) di bawah kulit.

GEJALA

Gejala-gejala diawali ketika cacing tersebut menembus kulit. Sebuah lepuhan terbentuk pada bukaan. Daerah di sekitar lepuhan gatal, terbakar, dan meradang-bengkak, merah, dan menyakitkan. Material yang dilepaskan cacing tersebut bisa menyebabkan reaksi alergi, yang bisa mengakibatkan kesulitan bernafas, muntah, dan ruam yang gatal. Gejala-gejala reda dan lepuhan tersebut sembuh setelah cacing dewasa meninggalkan tubuh. pada sekitar 50% orang, infeksi bakteri terjadi di sekitar bukaan karena cacing tersebut. Kadangkala persendian dan tendon di sekitar lepuhan rusak.

Diagnosa

Diagnosa adalah jelas ketika cacing dewasa tampak pada lepuhan. Sinar X kemungkinan dilakukan untuk menentukan klasifikasi cacing.  Dapat dibuat bila terdapat garis linier berliku-liku pada permukaan kulit dan ditemukannyan papula atau vesikula pada salah satu ujung gris tersebut serta munculnya prodromal atau sistemik.

Pengobatan

Biasanya, cacing dewasa pelan-pelan diangkat lebih dari sehari sampai seminggu dengan memutarnya pada sebuah batang. Cacing tersebut bisa diangkat dengan cara operasi setelah bius lokal digunakan, tetapi pada banyak daerah, metode ini tidak tersedia. Orang yang juga mengalami infeksi bakteri kadangkala diberikan metronidazole untuk mengurangi peradangan.

PENCEGAHAN

1. Penyaringan air minum melalui kain katun tipis.

2. merebus air hingga mendidih sebelum  digunakan.

3. dan hanya meminum air berklorin membantu mencegah dracunculiasis.

 

 

Diphyllobothrium latum & Sparganosis

Diphyllobothrium latum & Sparganosis

1. Diphyllobothrium latum (Tenia lata, Dibothriocephalus latus, broad tapeworm, fish tapeworm)

Kingdom              : Animalia

Phylum                 : Platyhelminthes

Class                      : Cestoda

Subclass               : Eucestoda

Order                    : Pseudophyllidea

Family                   : Diphyllobothriidae

Genus                   : Diphyllobothrium

Spesies : D. latum


Sejarah

1602 : Cacing pita ikan dikenal sebagai spesies yang berbeda oleh Plater di Switzerland

1977 : Bonet dapat membedakan  cacing ini dengan T. solium dengan mendeskripsikan skolexnya

1858 : Pertama kali diperiksa oleh Wemland di Amerika

1879 : Pemeriksaan pada penderita yang terinfeksi cacing ini oleh Leidy di Eropa.

1906 : Perkembangan fokus endemik di Amerika utara oleh imigran yang terinfeksi pertama kali

1935 : kasus Autokton digambarkan di Filipina

1963 : dilaporkan 2 kasus dari 141 penduduk asli Farmosa dan keadaan endemik di Papua Nugini

Hospes dan Nama Penyakit

Macam-Macam Hospes

Hospes Definitif : Manusia

Hospes Reservoar : Anjing, kucing dan 22 jenis mamalia lainnya, seperti: walrus, singa laut, babi dan serigala.

Hospes Perantara I : Cyclops

Hospes Perantara II : Ikan

Nama Penyakit : Difilobotriasis

Distribusi Geografik

Parasit ini ditemukan di Amerika, kanada, Eropa, daerah danau di Swiss, Rumania, Turkestan, Israel, Mancuria, Jepang, Afrika, Malagasi dan Siberia.

Morfologi

Cacing Dewasa

}  Berwarna gading

}  Panjang sampai 10m

}  Terdiri dari 3000-4000 prologtid; tiap proogtid terdiri dari alat kelamin jantan dan betina yang lengkap

Telur

}  Mempunyai operkulum

}  Berukuran 70×45 mikron

Daur hidup

Telur  → dikeluarkan melalui lubang uterus proglotid gravid di tinja → menetas dalam air → Larva (koradisium) → dimakan H P pertama, anggota Cepepoda (ex. Cyclops dan Dioptomus) → larva menjadi proserkoid → cyclops dimakan H P kedua, ikan (ex. Salem) → proserkoid berubah menjadi larva pleroserkoid (sparganum) → termakan manusia → sparganum menjadi cacing dewasa di rongga usus halus manusia

Patologi dan Gejala Klinis

Gejala yang ditimbulkan tidak begitu berat, misalnya :

}  Gejala saluran cerna (ex. Diare)

}  Tidak nafsu makan

}  Tidak enak di perut

Bila cacing sudah hidup di permukaan usus, gejala yang ditimbulkan:

-          Anemia  hiperkrommakrositer

-          Defisiensi B12

-          Sumbatan usus secara mekanis bila cacing banyak

-          Obstruksi usus → cacing membentuk benang kusut

Diagnosis

Menemukan telur atau proglotid dalam tinja

Pengobatan

}  Obat Atabrin dalam keadaan perut kosong, disertai Na-Bikarbonas, dosis 0,5 gr

}  Niclosamid (Yomesan), 4 tablet (2gr) dikunyah setelah makan hidangan ringan

}  Paromomisin, 1 gram aetiap 4 jam sebanyak 4 dosis

}  Prazikuantel dosis tunggal 10 mg/kg BB

Prognosis

Prognosis difilobotriasis baik, walaupun dengan anemia berat, karena setelah cacing dikeluarkan anemianya akan sembuh.

Epidemiologi

}  Penyakit Jarang ditemukan di Indonesia akan tetapi di tempat yang banyak makan ikan salem mentah atau kurang matang.

}  Untuk mencegah terjadinya infeksi ikan harus dimasak sempurna sebelum dihidangkan, Anjing sebagai H R diberikan obat cacing.

2. Sparganosis


Sejarah

}  1882 : Manson mendapatkan sparganosis jaringan dari penduduk asli yang diautopsi di Amoy-RRC

}  Larva pleroserkoid dari berbagai spesies  Diphyllobothrium telah ditemukan pada manusia dan diketahui sebagai sparganum dan penyakitnya disebut sparganosis

}  Diphyllobothrium pada binatang mis. D. mansoni memerlukan anjing, kucing dan binatang lainnya sebagai hospes definitifnya

}  Manusia dapat bertindak sebagai hospes perantara kedua apabila mengandung sparganum (pleroserkoid)

Daur Hidup

}  Sparganum → mengembara di otot dan fasia → larva tidak bisa menjadi dewasa.

}  Daur hidup menyerupai D. latum,


H P pertama : Cyclops, dibentuk proserkoid

H P kedua : Hewan pengerat kecil, ular dan kodok, ditemukan pleroserkoid atau sparganum

Patologi dan Gejala Klinis

Larva dapat ditemukan di seluruh daerah badan, pada mata, kulit, jaringan otot, toraks, perut, paha, daerah inguinal dan dada bagian dalam. Sparganum dapat menyebar ke seluruh jaringan.

Perentangan dan pengerutan larva dapat

menyebabkan:

1. Peradangan

2. Edema jaringan sekitar yang nyeri

Larva yang rusak menyebabkan peradangan lokal yang dapat menyebabkan nekrosis

Menunjukkan sakit lokal, urtikaria raksasa  yang timbu secara periodik, edema dan kemerahan yang disertai dengan menggigil, demam dan hipereosinofilia

Infeksi pada bola mata menyebabkan konjungtivitis disertai dengan bengkak dan lakrimasi dan ptosis.

Diagnosis

Menemukan larva di tempat kelainan, Untuk mengidentifikasi diperlukan binatang percobaan

Pengobatan

}  Pembedahan

}  Pengangkatan larva

Prognosis

prognosis terkandung pada lokasi parasit dan pembedahan yang berhasil

Epidemiologi

Parasit ditemukan di Asia Timur dan Asia Tenggara, Jepang, Cina, Afrika, Eropa, Australia, Amerika utara-Selatan dan Indonesia

Penyebab

}  Mengandung air yang mengandung cyclops yang infektif

}  Makan kodok, ular atau binatang pengerat yang mengandung pleroserkoid

}  Mempergunakan daging kodok yang infektif untuk obat

Pencegahan

}  Air minum dimasak atau disaring

}  Memasak daging hospes perantara sempurna

}  Pencegahan penggunaan daging kodok sebagai pengobatan pada daerah mukosa-kutan yang meradang

Taenia saginata

Nama penyakit: Taeniasis saginata

HD: Manusia

HP: Sapi

Habitat: usus halus

MORFOLOGI

-          Terdiri dari kepala (skoleks), leher, dan strobila

-           skoleks diameter: 1-2 milimeter

-           bentuk leher sempit, ruas-ruas tidak jelas

-           strobila  1000 – 2000 segmen

-           Panjang cacing 4-12 meter atau lebih

-           Mempunyai 4 batil isap dengan otot-otot yang kuat, tanpa (rostellum) kait- kait

-           Tiap proglotid dewasa mempunyai susunan alat kelamin jantan dan betina yang lengkap, keadaan ini disebut hemafrodit

-          proglottid gravid ukuran 16-20    5-7 mm, cabang lateral uterus  15-30 pada tiap sisi

-           telur dibungkus embriofor, telur   berdiameter: 30-40 mikron

Siklus hidup

Proglottid Masak (terdapat dalam feses) bila tertelan oleh sapi   –>  Larva onkoster, menembus usus dan masuk ke dalam pembuluh darah, sampai ke otot lurik  —> Larva Sistiserkus —> Daging mentah tertelan manusia  –>Cacing dewasa.


PATOLOGI DAN GEJALA KLINIS

  • Menyebabkan gejala klinis yang ringan, seperti sakit ulu hati, perut merasa tidak enak, Mual, muntah, mencret, pusing, atau gugup. Di sertai dengan ditemukannya proglotid cacing yang Bergerak-gerak lewat dubur bersama dengan atau tanpa tinja.
  • Gejala yang lebih berat apabila proglotid menyasar masuk apendiks, atau terdapat ileus yang  di sebabkan obstruksi usus oleh strobila cacing.
  • Berat badan tidak jelas menurun, eosinofilia dapat ditemukan di darah tepi.

Pencegahan

  • Menghilangkan sumber infeksi dengan mengobati penderita
  • Memelihara sapi pada tempat yang tidak tercemar atau sapi dikandangkan sehingga tidak berkeliaran
  • Menghilangkan kebiasaan makan makanan yang mengandung daging setengah matang atau mentah
  • memasak daging sampai matang/sempurna di atas 57°c dalam waktu cukup lama

PENGOBATAN

  • obat tradisional: biji labu merah, biji pinang
  • obat baru: niklosamid atau prazikuantel
    Tinja diperiksa kembali setelah 3 dan 6 bulan untuk memastikan bahwa infeksi telah terobati.

Enterobius (Oxyuris) vermicularis

Enterobius (Oxyuris) vermicularis (cacing kremi)

Penyakit              : Enterobiasis / oksiuriasis
Hospes                 : Manusia
Habitat                 : Di rongga sekum dan usus halus serta usus besar
yang berdekatan dengan sekum, makanannya
usus halus

Morfologi :

-cacing betina berukuran 8-13 mm x 0,4mm, pada ujung anterior ada penebalan kutikulum seperti sayap (alae)
- cacing jantan 2-5 mm mempunyai sayap dekornya melingkar, bentuknya seperti tanda tanya (?)

SIKLUS HIDUP
Cacing dewasa hidup di sekum, usus besar dan di usus halus yang berdekatan dengan sekum. Mereka memakan isi usus penderitanya.
Perkawinan (atau persetubuhan) cacing jantan dan betina kemungkinan terjadi di sekum. Cacing jantan mati setelah kawin dan cacing betina mati setelah bertelur. Cacing betina yang mengandung 11.000-15.000 butir telur akan bermigrasi ke daerah sekitar anal (perianal) untuk bertelur. Migrasi ini berlangsung 15 – 40 hari setelah infeksi. Telur akan matang dalam waktu sekitar 6 jam setelah dikeluarkan, pada suhu tubuh. Dalam keadaan lembab telur dapat hidup sampai 13 hari.

Patologi dan gejala klinis
-
Iritasi di sekitar anus, perienum dan vagina oleh cacing betina gravid yang bermigrasi ke daerah anus dan vagina sehingga menyebabkan pruritus lokal
- kurang nafsu makan, berat  badan turun, aktivitas meninggi, enuresis, cepat marah, gigi menggeretak, insomnia, dan mastrubasi,tetapi kadang sulit untuk membuktikan sebab cacing kremi

Pengobatan
-
obat piperazin dosis tunggal 3-4 gram(dewasa) atau 25mg/kg berat  badan (anak-anak) diminum dengan segelas air pada pagi hari sehingga obat sampai di sekum dan kolon.
- pirantel pamoat dosis 10 mg/ kg berat badan
- mebendazol dosis tunggal 100 mg
- albendazol dosis tunggal 400 mg
pencegahan dengan kebersihan lingkungan dan selalu cuci tangan sebelum makan

Pencegahan

1. Mencuci tangan sebelum makan dan setelah buang air besar

2.Memotong kuku dan menjaga kebersihan kuku

3.Mencuci seprei minimal 2 kali/minggu

4.Mencuci jamban setiap hari

5.Menghindari penggarukan daerah anus karena bisa mencemari jari-jari tangan dan setiap benda yang dipegang/disentuhnya

6.Menjauhkan tangan dan jari tangan dari hidung dan mulut

Infeksi dan penularan

  1. Penularan dari tangan ke mulut (hand to mouth), setelah anak – anak menggaruk daerah sekitar anus oleh karena rasa gatal, kemudian mereka memasukkan tangan atau jari – jarinya ke dalam mulut. Kerap juga terjadi, sesudah menggaruk daerah perianal mereka menyebarkan telur kepada orang lain maupun kepada diri sendiri karena memegang benda-benda maupun pakaian yang terkontaminasi.
  2. Debu merupakan sumber infeksi oleh karena mudah diterbangkan oleh angin sehingga telur yang ada di debu dapat tertelan.
  3. Anjing dan kucing bukan mengandung cacing kremi tetapi
    dapat menjadi sumber infeksi oleh karena telur dapat menempel pada bulunya.

Loa loa

Loa loa (Cacing mata)

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan              : Animalia
Filum                     : Nemathelmynthes
Kelas                     : Nematoda
Order                    : Spirurida
Superfamili         : Filarioidea
Keluarga              : Onchocercidae
Genus                   : Loa
Spesies                 : Loa loa

Sejarah

  • Kasus pertama infeksi Loa loa tercatat di Karibia (Santo Domingo) pada tahun 1770. Seorang ahli bedah Prancis bernama Mongin mencoba tetapi gagal untuk menghapus cacing yang lewat di mata seorang wanita. Beberapa tahun kemudian, pada 1778, ahli bedah Guyot Francois dapat melakukan pembedahan pada cacing di mata seorang budak dari Afrika Barat pada kapal Prancis ke Amerika.
  • Identifikasi microfilaria dibuat pada tahun 1890 oleh Stephen dokter mata McKenzie. Sebuah presentasi klinis umum loiasis, yang diamati pada tahun 1895 di pesisir kota Nigeria maka terciptalah nama Calabar swelling.
  • Pengamatan ini dibuat oleh seorang dokter mata Skotlandia bernama Douglas Argyll-Robertson, tetapi hubungan antara Loa loa dan Calabar swelling tidak disadari sampai tahun 1910 (oleh Dr Patrick Manson). Penentuan vektor lalat Chrysops diketahui pada tahun 1912 oleh British parasitologist Robert Thompson Leiper.

 

  • Nama Penyakit : Loa loa filariasis, loaiasis, Calabar swelling(Fugitiveswelling), Tropical swelling dan Afrika eyeworm
  • HP: Lalat Crysops silaceae dan C dimidiata

  • Daya hidup: 4-17 tahun
  • Distribusi: terbatas pada hutan dan tepi hutan di daerah katulistiwa afrika yang sering hujan

Loa loa adalah nematoda filarial yang menyebabkan loaiasis. Ini adalah bagian dari kelompok nematoda parasit filarial yang menyebabkan filariasis limfatik

Morfologi

  1. Cacing dewasa hidup dalam jaringan sub kutan,
  2. betina berukuran 50-70 mm x 0,5 mm
  3. jantan 30-34 mm x 0,35-0,43 mm. Cacing
  4. Cacing betina mengeluarkan mikrofilaria yang beredar dalam darah pada siang hari (diurna).
  5. Pada malam hari mikrofilaria berada dalam pembuluh darah paru-paru.

Nama Penyakit

Loa loa filariasis (juga dikenal sebagai loaiasis, Calabar swelling, Fugitive swelling, Tropical swelling dan Afrika eyeworm) penyakit mata yang disebabkan oleh cacing nematoda, loa loa.

Gejala klinis

  1. Menimbulkan gangguan di  konjungtiva mata dan pangkal hidung dengan menimbulkan:
  • iritasi pada mata,
  • mata sendat, sakit,
  • pelupuk mata menjadi bengkak.
  1. Pembengkakan jaringan yang  tidak sakit
  2. ensefalitis

Distribusi geografis

Distribusi geografis loaiasis manusia terbatas pada hutan hujan dan rawa kawasan hutan Afrika Barat, terutama di Kamerun dan di Sungai Ogowe. Manusia adalah satu-satunya reservoir alami. Diperkirakan 12-13 juta manusia terinfeksi larva Loa loa.

Siklus Hidup

Parasit ini ditularkan oleh lalat Chrysops. Mikrofilaria yang beredar dalam darah diisap oleh lalat dan setelah kurang lebih 10 hari di dalam badan serangga, mikrofilaria tumbuh menjadi larva infektif dan siap ditularkan kepada hospes lainnya. Cacing dewasa tumbuh dalam badan manusia dan dalam waktu 1  sampai 4 minggu mulai berkopulasi dan cacing betina dewasa mengeluarkan mikrofilarianya.

Diagnosis

Diagnosis dibuat dengan menemukan mikrofilaria di dalam darah yang diambil pada waktu siang hari atau menemukan cacing dewasa di konjungtiva mata ataupun dalam jaringan subkutan

Pengobatan

  • Penggunaan dietilkarbamasin (DEC) dosis 2 mg/kgBB/hari, 3 x sehari selama 14 hari
  • Pembedahan pada mata

PENCEGAHAN

  1. Menghindari gigitan Lalat
  2. Pemberian obt-obatan 2 bln sekali
  3. Jangan sering-sering masuk hutan

Prognosis

Prognosis biasanya baik apabila cacing dewasa telah dikeluarkan dari mata dan pengobatan berhasil dengan baik

Fasciola hepatica

Fasciola hepatica
(Cacing Hati)

Kingdom                                              : Animalia

Phylum                                                 : Platyhelminthes

Klas                                                         : Trematoda

Ordo                                                        : Echinostomida

Genus                                                       : Fasciola

Spesies                                                     : Fasciola Hepatica

Ciri-ciri morfologi Fasciola hepatica

  • Bersifat hermaprodit.
  • Sistem reproduksinya ovivar.
    Bentuknya menyerupai daun berukuran 20 – 30 mm x 8 – 13 mm.
  • Mempunyai tonjolan konus (cephalis cone) pada bagian anteriornya.
  • Memiliki batil isap mulut dan batil isap perut.
  • Uterus pendek berkelok-kelok.
  • Testis bercabang banyak, letaknya di pertengahan badan berjumlah 2 buah

Hospes Definitif                                : Manusia, kambing dansapi

Hospes Perantara            : I. Keong air (Lymnea)  II. Tanaman air

Nama penyakit                 : fasioliasis

DAur Hidup


Patologi dan Gejala klinis

Terjadi sejak larva masuk kesaluran empedu sampai menjadi dewasa. Parasit ini dapat menyebabkan iritasi pada saluran empedu dan penebalan dinding saluran. Selain itu, dapat terjadi perubahan jaringan hati berupa radang sel hati. Pada keadaan lebih lanjut dapat timbul sirosis hati disertai asites dan edema. Luasnya organ yang mengalami kerusakan bergantung pada jumlah cacing yang terdapat disaluran empedu dan lamanya infeksi

gejala dari penyakit fasioliasis biasanya pada stadium ringan tidak ditemukan gejala. Stadium progresif ditandai dengan menurunnya nafsu makan, perut terasa penuh, diare dan pembesaran hati. Pada stadium lanjut didapatkan sindrom hipertensi portal yang terdiri dari perbesaran hati, ikterus, asites, dan serosis hepatis.

Pengobatan

Pengobatan yang dapat diberikan antara lain:

  • Heksakloretan
  • Heksaklorofan
  • Rafoxamide
  • Niklofolan
  • Bromsalan yang disuntikkan di bawah kulit

Cara-cara pencegahan

  • Tidak memakan sayuran mentah.
  • Pemberantasan penyakit fasioliasis pada hewan ternak.
  • Kandang harus dijaga tetap bersih, dan kandang sebaiknya tidak dekat kolam atau selokan.
  • Siput-siput disekitar kandang dimusnakan untuk memutus siklus hidup Fasciola hepatica.

TAENIA SOLIUM

TAENIA SOLIUM

Hospes dan Nama Penyakit

Nama Penyakit                 : Taeniasis solium (dewasa), Sistiserkosis   (larva)

Hospes Definitif               : Manusia.

Hospes Perantara           : Manusia dan babi

Habitat                                : Usus halus (dewasa), jar subkutis, mata, otak, hati, paru,

otot jantung, rongga perut.

MORFOLOGI

  1. Berukuran pjg kira-kira 2-4 meter dan kadang-kadang sampai 8 meter.
  2. Terdiri dari skoleks, leher dan strobila yang terdiri dari 800-1000 ruas proglotid.
  3. Strobila terdiri dari rangkaian proglotid yg belum dewasa (imatur), dws(matur) dan mengandung telur (gravid).
  4. Lubang kelamin letaknya bergantian selang seling pada sisi kanan atau sisi kiri strobila scr tidak beraturan.

DAUR HIDUP

Telur → termakan oleh hospes → embrio keluar dr telur → menembus dinding usus → saluran getah bening/darah →tersangkut diotot hospes → larva sistiserkus → daging hospes dimakan manusia (dinding kista dicerna) → skoleks mengalami eviginasi → melekat pd dinding usus halus → dewasa (3 bulan) → melepas proglotid dengan telur.

PATOLOGI DAN GEJALA KLINIS

Cacing dewasa yang berjumlah seekor tidak menyebabkan  gejala klinis. Bila ada, dapat berupa nyeri ulu hati, mencret, mual, obstipasi dan sakit kepala.

Gejala klinis yang sering diderita, disebabkanoleh larva (sistiserkosis), infeksi ringan tidakmenunjukkan gejala, kecuali yang dihinggapi merupakan alat tubuh yang penting.

Pada manusia, sistiserkus sering menghinggapi subkuti, mata, jar otak, otot, otot jantung, hati, paru dan rongga perut.

  • Pada jar otak atau medula spinalis, larva jarang mengalami kalsifikasi, sehingga menimbulkan reaksi jaringan da dapat menyebabkan epilepsi, meningo-ensefalitis gejala yang disebabkanoleh tekananintrakranial yang tinggi seperti nyeri kepala dan kelainan jiwa. Hidrosefalus internus dapat terjadi bila timbul sumbatan aliran cairan serebrospinal.

DIAGNOSIS

  • Dengan menemukan telur dan proglotid
  • Dengan sistiserkosis dapat dilakukan dengan :
  1. Ekstirpasi benjolan.
  2. Radiologi dengan CTscan.
  3. Deteksi antibody

Pencegahan

  • Kehidupan penduduk yang dipengaruhi tradisi kebudayaan dan agama sangat penting. Pada orang-orang yang bukan islam biasanya mengkonsumsi babi.
  • Cara terbaik untuk mengendalikan cacing pita ini adalah dengan makan daging babi yang dimasak sepenuhnya.
  • Kebersihan pribadi dan pencegahan terhadap kontaminasi tinja dengan makan daging babi juga memainkan peranan besar dalam pencegahan mendapatkan parasit.

Pengobatan

  • Untuk pengobatan  T. solium dapat digunakan prazikuantel dan untuk larvanya digunakan obat prazikuantel, albendazol atau dilakukan pembedahan.

Trichuris trichiura

Trichuris trichiura /
Trichocephalus dispar

(Cacing Cambuk)
Trichuris trichiura (cacing cambuk) adalah salah satu cacing penyebab penyakit cacingan pada manusia.Cacingan merupakan penyakit yang endemik dan kronik. Tidak mematikan, tetapi mengganggu kesehatan tubuh manusia dan dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia (SDM).

MORFOLOGI
Ø Cacing jantan
Panjang 4 cm dengan ujung ekor melingkar dan terdapat spikulum.
Ø Cacing betina
Panjang 5 cm dengan ujung ekor membulat.

Ø Telur
Berukuran 50-54 mikron x 32 mikron, berbentuk seperti tempayan dengan semacam penonjolan yang jernih pada kedua kutub. Kulit telur bagian luar berwarna kekuning-kuningan dan bagian dalamnya jernih.

DAUR HIDUP
Telur keluar bersama tinja  lingkungan (tanah yang lembab/tempat yang teduh) —> telur matang (3-6 minggu) —>  makanan/minuman terkontaminasi          tertelan manusia   —>    usus halus  —>   larva —>  cacing dewasa —>      kolon/sekum
Hospes Definitif  : manusia
Hospes Perantara : tanah
Nama Penyakit :
Trikhuriasis, trikhosefaliasis

PATOLOGI DAN GEJALA KLINIS
Cacing cambuk pada manusia terutama hidup di sekum dan dapat juga ditemukan di kolon asendes.
Seseorang akan terinfeksi trikuriasis apabila menelan telur cacing cambuk yang telah matang
Telur parasit ini ditemukan pada pemeriksaan tinja mikroskopis berbentuk seperti tong.
Gejala yang ditimbulkan penyakit trikuriasis adalah :
a.nyeri di ulu hati;
b.diare yang sering diselingi dengan sindrom disentri;
c.peradangan usus buntu (apendisitis);
d.rektum menonjol melewati anus (prolapsus rektum) akibat mengejannya penderita pada waktu defekasi;
e.berat badan turun akibat kehilangan nafsu makan;
f.Anemia karena cacing cambuk menghisap darah hospesnya

PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN
PENCEGAHAN
1. Individu
a.  Mencuci tangan sebelum & sesudah makan;
b.Mencuci sayuran yang dimakan mentah;
c.Memasak sayuran di air mendidih;
2. Lingkungan
a.Menggunakan jamban ketika buang air besar;
b.Tidak menyiram jalanan dengan air got;
c.Tidak jajan di sembarang tempat.
Dalam membeli makanan, kita harus memastikan bahwa penjual makanan memperhatikan aspek kebersihan dalam mengolah makanan

PENGOBATAN
1. Mebendazol
•Bentuk sediaan :
tablet, sirup 100 mg/ 5ml (botol 30 ml)
•Cara kerja obat :
memiliki khasiat sebagai obat kecacingan yang mempunyai jangkauan luas terhadap cacing-cacing parasit.
•Aturan pemakaian
100 mg, 2 kali sehari selama3 hari
•Efek yang tidak diinginkan : kadang-kadang terjadi nyeri perut, diare, sakit kepala, demam, gatal-gatal, ruam kulit
•Tidak boleh digunakan pada anak-anak balita dan wanita hamil.
2. Albendazol; dosis tunggal 400 mg
3. Oksantel pirantel pamoat; dosis tunggal 10-15 mg/kgBB

Echinococcus alveolaris

Echinococcus alveolaris
Kerajaan  : Animalia
Phylum  : Platyhelminthes
Class  : Cestoda
Order  : Cyclophyllidea   Family  : Taeniidae   Genus  : Echinococcus
Spesies  : E. alveolaris
Hospes dan Penyakit
•Hospes parasit ini adalah anjing dan karnivora lain.
•Parasit ini dapat menyebabkan hidatidosis.
Kista hidatid paru sangat berbahaya dan fatal terutama apabila kista ini pecah dapat menyebabkan shock yang berat


Morfologi
•Ukurannya 1,2-3,7 mm.
•Bentuknya sama dengan Echinococcus granulosus.
•Kista hidatid dapat menyebar ke alat dalam lainnya.


Daur Hidup
Cacing dewasa di usus anjing → Telur dikeluarkan bersama tinja → telur tertelan hospes perantara → telur menetas di rongga duodenum → embrio yang dikeluarkan menembus dinding usus → masuk ke saluran limfe → peredaran darah → alat-alat tubuh (terbentuk kista hidatid) → kista termakan anjing → cacing dewasa


Patologi dan gejala Klinis
•Kista hidatid tumbuh seperti tumor ganas.
•Skoleks tersebar ke seluruh tubuh.
•Gejala-gejala : hemoptisis ringan, batuk, dispnea, sakit dada yang tidak menetap, palpitasi, urtikaria.
•ditandai dengan invasi dan penghancuran jaringan karena kista melakukan pengelompokan kedalam membentuk kista kecil-kecil yang banyak jumlahnya yang membentuk sarang tawon pada organ yang terkena.
•Proses penularan ada 2 cara:
1. Kontak langsung feses hospes definitif yang terdapat larva Echinococcus.
2. Makan daging hospes perantara yang dimasak kurang matang.
Pencegahan
•Infeksi dapat dicegah dengan menghindari kontak dengan tinja anjing, terutama pada anak-anak.
•Meningkatkan kesadaran higienis dan sanitasi air.
•Menjaga kebersihan dan kesehatan hewan piaraan terutama anjing dan kucing.
•Cara terbaik untuk menghindari infeksi manusia adalah menghindari menelan makanan atau bahan lain yang terkontaminasi dengan kotoran anjing.
Pengobatan
•Dilakukan bioterapi untuk membunuh parasit dan membiarkan absorpsi yang perlahan-lahan.
•Dengan mebendazol selama jangka waktu panjang pada dosis rendah.

Echinococcus granulosus

Kerajaan  : Animalia
Phylum  :Platyhelminthes
Class  : Cestoda
Order  : Cyclophyllidea
Family  : Taeniidae
Genus  : Echinococcus
Species  : E. granulosus


Hospes dan Nama Penyakit
•Hospes cacing ini adalah anjing dan karnivora lainnya.
•Parasit ini dapat menyebabkan hidatidosis.
•Kista hidatid paru sangat berbahaya dan fatal terutama apabila kista ini pecah dapat menyebabkan shock yang berat.
Morfologi
•Cacing dewasa adalah cacing kecil yang berukuran 3-6 mm.
•Skoleks bukat, dilengkapi 4 batil isap dan rostelum dengan kait-kait, mempunyai leher.
•Mempunyai 1 proglotid imatur, 1 proglotid matur, 1 proglotid gravid
Daur Hidup
Cacing dewasa di usus anjing → Telur dikeluarkan bersama tinja → telur tertelan hospes perantara → telur menetas di rongga duodenum → embrio yang dikeluarkan menembus dinding usus → masuk ke saluran limfe → peredaran darah → alat-alat tubuh (terbentuk kista hidatid) → kista termakan anjing → cacing dewasa


Patologi dan Gejala Klinis
•Ada beberapa hal gejala, yaitu:
1. Desakan kista hidatid
2. Cairan kista yang dapat menmbulkan reaksi alergi
3. Pecahnya kista, cairan kista masuk peredaran darah, dapat menimbulkan renjatan anaflaktik yang dapat menyebabkan kematian
•Gejala-gejala lain: hemoptisis ringan, batuk, dispnea, sakit dada yang tidak menetap, palpitasi, urtikaria.
•Infeksi ditandai dengan adanya pembentukan kista tunggal unilokular atau majemuk yang membesar.
Pencegahan
•Infeksi dapat dicegah dengan menghindari kontak dengan tinja anjing, terutama pada anak-anak.
•Meningkatkan kesadaran higienis dan sanitasi air.
•Menjaga kebersihan dan kesehatan hewan piaraan terutama anjing dan kucing.
•Cara terbaik untuk menghindari infeksi manusia adalah menghindari menelan makanan atau bahan lain yang terkontaminasi dengan kotoran anjing.
Pengobatan
•Dilakukan dengan pembedahan yang hanya berhasil pada penderita dengan kista unilokuler.
•Dengan mebendazol selama jangka waktu panjang pada dosis rendah.