Category Archives: Pengetahuan Lingkungan

Pengendalian Hama

BAB I

PENDAHULUAN

Hama dan penyakit tanaman merupakan kendala yang perlu selalu diantisipasi perkembangannya karena dapat menimbulkan kerugian bagi petani. Menurut Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, hama dan penyakit yang seringkali merusak tanaman padi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir adalah tikus dengan luas serangan rata-rata 124.000 ha/tahun, diikuti oleh penggerek batang (80.127 ha/tahun), wereng coklat (28.222 ha/tahun), tungro (12.078 ha/tahun), dan blas (9.778 ha/tahun).

Oleh karena itu, hama dan penyakit ini perlu mendapat prioritas penanganan di samping hama dan penyakit potensial lainnya seperti belalang, lembing batu, ganjur, dan keong mas. Pengalaman menunjukkan bahwa pengendalian hama dan penyakit dengan mengandalkan satu komponen pengendalian saja, seperti insektisida, varietas tahan atau musuh alami, belum memberikan hasil yang optimal. Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah mengeluarkan Undang-Undang No.12/1992 tentang Sistem Budi Daya Tanaman yang menekankan pentingnya pengendalian hama terpadu.

Konsep PHT merupakan koreksi terhadap kesalahan dalam pengendalian hama dan penyakit. Penggunaan pestisida memang telah memberikan kontribusi cukup besar bagi peningkatan produksi tanaman, tetapi juga berdampak negatif terhadap lingkungan, seperti munculnya resistensi dan resurjensi beberapa jenis hama, residu pada produk, dan matinya organism bukan sasaran, termasuk musuh alami yang sebenarnya berpotensi untuk mengendalikan hama dan penyakit.

Konsep PHT dihasilkan melalui pertemuan panel para ahli Badan Pangan Dunia di Roma pada tahun 1965. Intisari dari konsep PHT adalah: PHT merupakan sistem pengendalian hama dalam hubungan antara dinamika populasi dan lingkungan suatu jenis hama, serta menggunakan berbagai teknik pengendalian.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Prinsip pengendalian hama berwawasan lingkungan.

Pengendalian hama adalah aplikasi teknologi berdasarkan pengetahuan biologi untuk menurunkan populasi atau pengaruh hama secara memuaskan (Pedigo, 1991). Berdasarkan pengertian tersebut, maka dalam pengendalian hama diperlukan dua pengetahuan dasar, yaitu teknologi dan biologi. Pengetahuan teknologi yang diperlukan meliputi alternatif teknologi paling tepat untuk digunakan dalam menekan populasi atau pengaruh hama.

Alternatif teknologi ini diantaranya termasuk teknologi penggunaan pestisida, teknologi pemanfaatan bahan-bahan alami (biologi), teknologi kultur teknis (budidaya), fisik, mekanik, rekayasa genetik, alat-alat pengendalian, dan lainlain. Pengetahuan biologi diperlukan antara lain untuk menentukan dimana, kapan, dan bagaimana teknologi itu harus digunakan. Pengetahuan biologi yang dibutuhkan tidak haya mencakup biologi dari hama itu sendiri tetapi juga biologi dari tanaman dan musuh alami hama.

Pengetahuan biologi yang diperlukan antara lain : (1) biologi spesies hama (jenis dan sifat hama, fenologi hama, kepadatan populasi, potensi merusak, dll,), (2) kisaran inang (monofag, oligofaf, dan poligofag), (3) biologi tanaman (jenis tanaman dan tingkat ketahanan tanaman), dan (4) biologi musuh alami (jenis dan sifat musuh alami, fenologi musuh alami, tingkat parasitasi/patogenisitas).

Agar pengendalian yang dilakukan dapat memberikan hasil yang memuaskan, maka Geier (1966) cit. Pedigo (1991) mengemukakan empat persyaratan berikut :

(1) pengendalian hama harus selektif terhadap hama yang dikendalikan.

(2) Bersifat komprehensif dengan sistem produksi

(3) Kompatibel dengan prinsip-prinsip ekologi

(4) Bersifat toleran terhadap spesies yang potensial dapat merusak tanaman tetapi masih dalam batas-batas yang secara ekonomis dapat diterima.

Mengacu pada persyaratan tersebut, maka oleh para akhli perlindungan tanaman pengertian Pengendalian Hama kemudian dipertajam menjadi. Konsepsi Pengelolaan Hama dengan memasukan komponen lingkungan sera eksplisit, yaitu bahwa Pengendalian Hama adalah Pengelolaan Hama yaitu pendekatan yang komprehensif dalam pengendalian hama dengan menggunakan kombinasi berbagai cara untuk menurunkan status hama sampai tingkatan yang dapat ditoleransikan sementara qualitas lingkungan dapat tetap terjaga dengan baik.

Pengertian ini hampir sama dengan Pengertian Pengenalian Hama Terpadu,

diantaranya yaitu :

(1)   Menurut Edward et al. (1990), PHT adalah sebagai strategi penanganan secara bersama terhadap hama dengan cara memaksimumkan efektivitas faktor-faktor pengendalian biologis dan budidaya tanaman, penerapan pengendalian kimiawi hanya dilakukan apabila diperlukan, dan meminimumkan kerusakan-kerusakan lingkungan. Dalam penerapannya, PHT memerlukan pengitegrasian berbagai taktik pengendalian ke dalam strategi pengelolaan secara konprehensif dengan pertimbangan ekonomis dan ekologis.

(2)   Menurut Flint anda Van den Bosch (1990), yang menyatakan bahwa PHT adalah strategi pengendalian hama berdasarkan potensi ekologi yang menitikberatkan pada pemanfaatan faktor-faktor pengendali alami, seperti musuh alami dan cuaca, serta mencari taktik pengendalian yang seminimal mungkin menyebabkan bekerjanya faktor-faktor pengendali alami tersebut. Penggunaan pestisida hanya dilakukan setelah pelaksanaan pengamatan populasi hama dan pengendali alami secara sitematik.

(3)   Menurut Commite (CRAFMMPA) (1989), PHT adalah salah satu alternatif teknologi pertanian yang mampu melindungi lingkungan dan mengurangi ketergantungan pada input kimiawi dalam pertanian.

Hama Berwawasan Lingkungan adalah tindakan pengendalian hama yang berdasarkan atau berpedoman kepada Konsepsi Pengendalian Hama Terpadu. Penerapan Konsepsi PHT tersebut didorong oleh banyak faktor yang pada dasarnya adalah dalam rangka penerapan program pembangunan nasional berkelanjutan yang berwawasan lingkungan. Faktor faktor

tersebut adalah :

1)      Kegagalan pemberantasan hama secara konvensional

Pemberantasan hama secara konvensional dengan pendekatan pada penggunaan pestisida telah terbukti menimbulkan dampak negatif, antara lain resistensi atau ketahanan hama, srurjensi hama, ledakan hama sekunder, matinya organisma bukan sasaran (musuh alami, serangga berguna, binatang ternak, dan lain-lain), residu pada hasil/produk pertanian, keracunan pada manusia, dan pencemaran lingkungan.

2) Kesadaran tentang kualitas lingkungan hidup

Karena dampak negatif pestisida terhadap organisma non sasaran dan lingkungan, maka disadari bahwa penggunaan pestisida dalam pengendalian hama merupakan teknologi pengendalian hama yang bersifat kurang ramah lingkungan. Dengan adanya kesadaran ini, kemudian muncul kesadaran lebih lanjut bahwa untuk pengendalian hama yang ramah lingkungan perlu dicari alternatif teknologi penggunaan pestisida yang ramah lingkungan atau teknologi pengendalian lain selain pestisida yang juga harus ramah lingkungan. Teknologi pengendalian hama yang ramah lingkungan tersebut adalah PHT.

3)      Dampak globalisasi ekonomi

Era globalisasi saat ini telah memunculkan era perdagangan bebas antar negara, mengakibatkan produk-produk pertanian harus memenuhi persyaratan ekolabeling. Produk pertanian yang dipasarkan dituntut harus bersifat ramah lingkungan, diantaranya tidak mengandung residu pestisida. Kondisi ini mengakibatkan penerapan teknologi PHT sebagai teknologi pengendalian yang ramah lingkungan menjadi salah satu teknologi alternatif yang dibutuhkan.

4) Kebijakan pemerintah

Era globalisasi mengakibatkan tekanan tekanan dunia internasional mengenai kelestarian lingkungan menjadi semakin tinggi. Oleh karena itu, maka pemerintah memberikan dukungan yang sangat besar terhadap penerapan PHT ini. Ini dapat dilihat dengan dikeluarkannya berbagai kebijakan yang mendukung penerapan PHT dalam sistem produksi pertanian.

Kebijakan ini telah dikeluarkan sebagai program pemerintah sejak Pelita III. Dasar hukum utama dalam penerapan dan pengembangan PHT di Indonesia adalah Instruksi Presiden No. 3 tahun 1986 dan Undang- Undang No. 12 tahun 1992 tentang Budidaya Tanaman. Dalam

operasionalnya, antara lain pemerintah telah memberikan berbagai latihan kepada petugas maupun petani, khususnya melalui program SLPHT (Sekolah Lapangan PHT).

2.2 Taktik dan Strategi Pengendalian Hama

Menurut Pedigo (1991), strategi pengelolaan hama adalah perencanaan menyeluruh untuk melenyapkan atau mengurangi permasalahan hama. Strategi utama yang dikembangkan tergantung pada karakteristik hama, tanaman yang akan dilindungi, dan prinsip ekonomi.

Berdasarkan pengertian tersebut, maka strategi yang dapat dipilih untuk pengendalian

hama (Pedigo, 1991), adalah sebagai berikut : (1) tidak melakukan tindakan apa-apa, (2) menurunkan jumlah populasi hama, (3) menurunkan kerentanan tanaman terhadap serangan hama, (4) kombinasi antara menurunkan populasi hama dengan menurunkan kerentanan tanaman.

(1) Strategi tidak melakukan tindakan apa-apa

Pada strategi ini, petani tidak melakukan tindakan apapun terhadap hama yang menyerang tanaman apabila (1) hama tersebut tidak mengakibatkan kerusakan ekonomis, atau (2) tanaman dapat mentoleransi sehingga tidak menimbulkan kerusakan ekonomis. Ini berarti apabila kepadatan hama atau intensitas serangan hama berada di bawah Ambang Ekonomi, maka strategi tidak melakukan apa-apa harus diterapkan, karena pada tingkat tersebut hama tidak akan menimbulkan kerugian yang berarti secara ekonomis.

(2) Menurunkan jumlah populasi hama

Penurunan jumlah serangga untuk mengurangi atau mencegah masalah merupakan strategi yang paling banyak digunakan dalam pengendalian hama. Strategi ini seringkali diterapkan sebagai tindakan pengobatan atau akuratif apabila kepadatan populasi hama mncapai Ambang Ekonomi atau sebagai tindakan pencegahan (preventif) yang berdasarkan kepada sejarah masalah hama tersebut. Sampai saat ini, tindakan preventif lebih banyak dipilih oleh petani dibandingkan tindakan kuraratif, karena dianggap lebih mudah dilaksanakan.

Paling sedikit ada dua strategi utama dalam menurunkan populasi hama, yaitu : (a) mengurangi puncak populasi secara perlahan apabila posisi keseimbangan umum (general equilibrium posisition, GEP) hama lebih rendah dibanding Ambang Ekonomi (AE) dimana pada kondisi ini masih belum menjadi masalah utama, dan (b) penurunan puncak populasi secara drastis apabila GEP terletak sangat dekat atau berada di atas AE.

Taktik yang dapat digunakan untuk penerapan strategi ini adalah penggunaan pestisida, musuh alami, kultivar resisten, modifikasi ekologi, dan penggunaan pengatur perkembangan serangga (insect Growth Regulator, IGR) atau penurunan laju reproduksi hama seperti pelepasan

jantan modul atau penggunaan bahan kimia pengacau aktivitas perkawinan, penggunaan perangkap pembunuh.

(3) Menurunkan kerentanan tanaman terhadap luka oleh hama

Penurunan kerentanan tanaman terhadap luka oleh hama dianggap merupakan strategi yang paling efektif dan ramah lingkungan. Strategi ini dilakukan dengan melakukan modifikasi tanaman inang atau dengan pengelolaan lingkungan tanaman. Strategi pertama dilakukan dengan

melakukan rekayasa genetika tanaman sehingga tanaman secara genetika menjadi lebih tahan (resisten) terhadap serangan hama, sedangkan strategi ke dua dilakukan dengan meningkatkan kemampuan daya hidup tanaman misalnya dengan pemupukan dan perubahan waktu tanam untuk mengganggu keselarasan antara hama dengan stadium tanaman yang peka terhadap hama. Taktik pertama seringkali disebut dengan ketahanan genetik (genetic resistance) atau ketahanan sejati (true resistance) karena tergantung pada modifikasi lingkungan dan tidak dapat diturunkan.

(4) Kombinasi atau gabungan antara menurunkan populasi hama dengan

menurunkan kerentanan tanaman

Strategi penggabungan penurunan populasi hama dan penurunan kerentanan tanaman terhadap hama dilakukan untuk menghasilkan program pengelolaan hama dengan berbagai taktik. Strategi ini merupakan strategi yang sangat diperlukan, karena dapat menghasilkan tingkat konsistensi pengendalian hama yang lebih tinggi disbanding penggunaan strategi tunggal. Strategi ini merupakan penerapan teknologi PHT secara lebih komprehensif.

2.3 Pengambilan Keputusan Pengendalian

Pasal 20 ayat 1, Undang-Undang No. 12 Tahun 1992 tentang system Budidaya Tanaman, menetapkan bahwa pengendalian hama harus dilaksanakan dengan sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Dalam pelaksanaannya, PHT merupakan tanggung jawab bersama antara masyarakat (petani) dan pemerintah (pasal 20 ayat 2).

PHT merupakan teknologi pengendalian hama berbasis lingkungan atau ekosistem. Oleh karena itu, maka agar pengendalian hama yang dilakukan dapat memberikan hasil yang baik (efektif, efisien, dan ramah terhadap lingkungan), maka diperlukan adanya pemahaman kondisi agroekosistem.

Agroekosistem pertanian merupakan ekosistem binaan yang proses pembentukan, peruntukan, dan perkembangannya ditutujukan untuk memenuhi kebutuhan manusia sehingga campur tangan atau tindakan manusia menjadi unsur yang sangat dominan. Dalam memenuhi kebutuhan tersebut, baik kuantitas maupun kualitas, manusia melakukan upaya peningkatan produktivitas ekosistem. Usaha yang dilakukan manusia untuk mencapai tersebut maka manusia memberikan masukan yang sangat tinggi ke dalam ekosistem. Masukan tersebut antara lain :

(1) Benih dan atau bibit, (2) pupuk dan pestisida atau bahan kimia lainnya, dan (3) pengairan.

Adanya masukan yang tinggi dalam upaya peningkatan produktivitas ekosistem tersebut, maka terjadi perubahan ekosistem karena :

1)      Agroekosistem sering mengalami perubahan iklim mikro yang mendadak sebagai akibat tindakan manusia dalam melakukan pengolahan tanah, penggunaan benih/bibit tanaman yang memerlukan input yang tinggi, pengairan, penyiangan, pembakaran, pemangkasan, penggunaan bahanbahan kimia, dan lain-lain.

2)      Struktur agroekosistem yang didominasi oleh jenis tanaman tertentu yang dipilih oleh manusia, beberapa diantaranya merupakan tanaman dengan materi genetik yang berasal dari luar (gen asing). Tanaman lain yang tidak mengandung gen asing biasanya diberi perlakuan pemeliharaan untuk perlindungan dari serangan hama sehingga tanaman tersebut sangat menyerupai induknya.

3)      Hampir semua agroekosistem mempunyai diversitas biotik dan spesies tanaman mempunyai diversitas intraspesifik yang rendah karena manusia lebih menyenangi pembudidayaan tanaman/varietas tanaman tertentu. Dengan perkataan lain, secara genetik tanaman cenderung seragam. Biasanya ekosistem hanya didominasi oleh satu spesies tunggal dan pembersihan spesies gulma secara kontinyu mengakibatkan kondisi lingkungan menjadi lebih sederhana.

4)      Fenologi tanaman seragam, karena untuk memudahkan pengelolaan manusia menggunakan tanaman yang mempunyai tipe dan umur yang seragam. Contohnya : waktu pembungaan atau pembentukan polong pada semua tanaman terjadi pada waktu yang hampir bersamaan.

5)      Pemasukan unsure  hara yang sangat tinggi mengakibatkan menjadi lebih disukai herbivora karena jaringan tanaman kaya unsur hara dan air. Perubahan-perubahan ekosistem tersebut di atas telah mengakibatkan terjadinya perubahan dominasi spesies herbivora.

Salah satu kelompok organisma yang mengalami perubahan dominasi adalah kelompok herbivora. Karena adanya perubahan tersebut seringkali kelompok herbivora ini mengalami letusan populasi, sehingga sangat merugikan bagi tanaman. Spesies yang bukan hama dapat berubah menjadi spesies hama, sedangkan spesies hama berubah menjadi hama yang selalu

merugikan.

Pemahaman kondisi agroekosistem hanya dapat dilakukan dengan melakukan analisis agroekosistem. Dari hasil analisis ini dapat ditentukan faktor-faktor dominan dan ko-dominan yang mendorong atau menghambat perkembangan populasi suatu hama. Berdasarkan hasil analisis tersebut, maka strategi dan taktik pengendalian hama yang bagaiamana yang akan diambil dapat ditentukan secara ringkas.

2.4 Metode Pengendalian Hama (Teknik Penggunaan Pestisida)

Pengertian yang menarik tentang pestisida dikemukaan oleh Meister et al, (1985) yang menyatakan bahwa pestisida adalah racun ekonomis. Jadi pestisida adalah racun yang mempunyai sifat ekonomis, penggunaan pestisida dapat memberikan keuntungan tetapi juga dapat dapat mengakibatkan kerugian. Pengalaman menunjukkan bahwa penggunaan pestisida sebagai racun sebenarnya lebih merugikan disbanding menguntungkan, yaitu dengan munculnya berbagai dampak negatif yang diakibatkan oleh pestisida tersebut. Karena alasan tersebut, maka dalam penggunaan pestisida harus memperhatikan hal-hal berikut :

  1. Pestisida hanya digunakan sebagai alternatif terakhir apabila belum ditemukan cara pengendalian lain yang dapat memberikan hasil yang baik.
  2. Apabila terpaksa menggunakan pestisida gunakan pestisida yang mempunyai daya racun rendah dan bersifat selektif.
  3. Apabila terpaksa menggunakan pestisida lakukan secara bijaksana.

Penggunaan pestisida secara bijaksana adalah penggunaan pestisida yang memperhatikan prinsip 5 (lima) tepat, yaitu :

1) Tepat sasaran

Tentukan jenis tanaman dan hama sasaran yang akan dikendalikan, sebaiknya tentukan pula unsur-unsur abiotis dan biotis lainnya. Ini berarti sebelum melakukan aplikasi pestisida, terlebih dahulu harus dilakukan analisis agroekosistem.

2) Tepat jenis

Setelah diketahui hasil analisis agroekosistem, maka dapat ditentukan pula jeis pestisida apa yang harus digunakan, misalnya untuk hama serangga gunakan insektisida, untuk tikus gunakan rodentisida. Pilihlah pestisida yang paling tepat diantara sekian banyak pilihan. Misalnya, untuk pengendalian hama ulat daun kubis. Berdasarkan rekomendasi dari Komisi Pestisida tersedia + 60 nama dagang insektisida. Jangan menggunakan pestisida tidak berlabel, kecuali pestisida botani racikan sendiri yang dibuat berdasarkan anjuran yang ditetapkan. Sesuaikan pilihan tersebut dengan alat aplikasi yang dimiliki atau akan dimiliki.

3) Tepat waktu

Waktu pengendalian yang paling tepat harus ditentukan berdasarkan : (1) Stadium rentan dari hama yang menyerang tanaman, misalnya stadium larva instar I, II, dan III. (2) Kepadatan populasi yang paling tepat untuk dikendalikan, lakukan aplikasi pestisida berdasarkan Ambang Kendali atau Ambang Ekonomi. (3) Kondisi lingkungan, misalnya jangan melakukan aplikasi pestisida pada saat hujan, kecepatan angin tinggi, cuaca panas terik. (4) Lakukan pengulangan sesuai dengan waktu yang dibutuhkan.

4) Tepat dosis/konsentrasi

Gunakan konsentrasi/dosis yang sesuai dengan yang dianjurkan oleh Komisi Pestisida. Untuk itu bacalah label kemasan pestisida. Jangan melakukan aplikasi pestisida dengan konsentrasi dan dosis yang melebihi atau kurang sesuai dengan anjuran akan dapat menimbulkan dampak negatif.

5) Tepat Cara

Lakukan aplikasi pestisida dengan cara yang sesuai dengan formulasi pestisida dan anjuran yang ditetapkan

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

  1. Pengendalian hama adalah aplikasi teknologi berdasarkan pengetahuan biologi untuk menurunkan populasi atau pengaruh hama secara memuaskan
  2. Pasal 20 ayat 1, Undang-Undang No. 12 Tahun 1992 tentang system Budidaya Tanaman, menetapkan bahwa pengendalian hama harus dilaksanakan dengan sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Dalam pelaksanaannya, PHT merupakan tanggung jawab bersama antara masyarakat (petani) dan pemerintah (pasal 20 ayat 2).
  3. strategi pengelolaan hama adalah perencanaan menyeluruh untuk melenyapkan atau mengurangi permasalahan hama

DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, Anwar. Ir., MS.2001. Metode Pengendalian Hama. Depdiknas. Jakarta

Dharmadi, A. dan Wahyu H., 1997. Petunjuk Kultur Teknis Tanaman Tea. PPTK Gambung.

Jahmadi 1972. Budidaya Dan Pengolahan KOPI. BPP JEMBER.

Parnata, 1980. Keadaan Hama Dan Penyakit Tanaman Coklat Di Sumatera Utara Dewasa Ini BPP (RISPA) Medan

Totok Herwanto 1988. Peralatan Pengendalian Hama Dan Penyakit Tanaman, Pusat Pengembangan Pendidikan Politeknik Pertanian. Bandung.

Degradasi tanah

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tanah hutan mempunyai laju infiltrasi permukaan yang tinggi dan makroporositas yang relatif banyak, sejalan dengan tingginya aktivitas biologi tanah dan turnover perakaran. Kondisi ini mendukung air hujan yang jatuh dapat mengalir ke dalam lapisan tanah yang lebih dalam dan juga mengalir secara lateral (Susswein et al.,2001). Perkembangan perakaran tanaman hutan mampu menekan dan memperenggang agregat tanah yang berdekatan. Penyerapan air oleh akar tanaman hutan menyebabkan dehidrasi tanah, pengkerutan, dan terbukanya rekahan-rekahan kecil. Kedua proses tersebut dapat memicu terbentuknya pori yang lebih besar (makroporositas). Dengan kata lain,pembentukan makroporositas ini selain disebabkan oleh adanya celah atau ruang yang terbentuk dari pemadatan matrik tanah juga adanya gangguan aktivitas perakaran, hewan tanah, pembengkaan, perekahan dan pengkerutan tanah (Marshall et al.,1999). Lebih jauh, exudant akar dan akar yang mati khususnya akar rambut akan memicu aktivitas mikroorganisme yang akan menghasilkan bahan humik yang berfungsi sebagai semen. Bahan humik tanah mempunyai peranan yang besar terhadap agregasi liat tanah yang berukuran relatif kecil, sedang peranannya terhadap agregasi agregat kecil atau partikel debu dan pasir relatif kecil (Marshall et al., 1999).

Kerusakan struktur tanah akan berdampak terhadap penurunan jumlah makroporositas tanah dan lebih lanjut akan diikuti penurunan laju infiltrasi permukaan tanah dan peningkatan lapisan permukaan. Kerusakan struktur tanah yang demikian akan menyebabkan berubahnya pola aliran air di dalam sistem tata guna lahan. Kerusakan struktur tanah diawali dengan penurunan kestabilan agregat tanah sebagai akibat dari pukulan air hujan dan kekuatan limpasan permukaan.Penurunan kestabilan agregat tanah berkaitan dengan penurunan kandungan bahan organik tanah, aktivitas perakaran tanaman dan mikroorganisme tanah.

1.2. Rumusan Masalah

1. Apakah pengertian degradasi tanah?

2. Apa saja factor degradasi tanah?

3. Bagaimana proses degradasi tanah?

BAB I I TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Tanah

Tanah merupakan Lapisan kerak bumi yang berada di lapisan paling atas,yang juga merupakan tabung reaksi alami yang menyangga seluruh kehidupan yang ada di bumi.Tanah juga merupakan alat produksi untuk menghasilkan produksi pertanian. Sebagai alat produksi tanah memiliki peranan-peranan yang mendorong berbagai kebutuhan diantaranya adalah sebagai alat produksi, maka peranannnya yaitu sebagai tempat pertumbuhan tanaman, menyediakan unsur-unsur makanan, sumber air bagi tanaman, dan tempat peredaran udara.

Tanah mempunyai ciri khas dan sifat-sifat yang berbeda-beda antara tanah di suatu tempat dengan tempat yang lain. Sifat-sifat tanah itu meliputi fisika dan sifat kimia. Beberapa sifat fisika tanah antara lain tekstur, struktur dan kadar lengas tanah. Untuk sifat kimia menunjukkan sifat yang dipengaruhi oleh adanya unsur maupun senyawa yang terdapat di dalam tanah tersebut. Beberapa contoh sifat kimia yaitu reaksi tanah(pH), kadar bahan organik dan Kapasitas Pertukaran Kation (KPK).

2.1.1 Jenis-jenis Tanah

1.    Tanah humus adalah tanah yang sangat subur terbentuk dari lapukan daun dan batang pohon di hutan hujan tropis yang lebat.

2.    Tanah pasir adalah tanah yang bersifat kurang baik bagi pertanian yang terbentuk dari batuan beku serta batuan sedimen yang memiliki butir kasar dan berkerikil.

3.    Tanah aluvial adalah tanah yang dibentuk dari lumpur sungai yang mengendap di dataran rendah yang memiliki sifat tanah yang subur dan cocok untuk lahan pertanian.

4.    Tanah podzolit adalah tanah subur yang umumnya berada di pegunungan dengan curah hujan yang tinggi dan bersuhu rendah / dingin.

5.    Tanah vulkanis adalah tanah yang terbentuk dari lapukan materi letusan gunung berapi yang subur mengandung zat hara yang tinggi. Jenis tanah vulkanik dapat dijumpai di sekitar lereng gunung berapi.

6.    Tanah laterit adalah tanah tidak subur yang tadinya subur dan kaya akan unsur hara, namun unsur hara tersebut hilang karena larut dibawa oleh air hujan yang tinggi. Contoh : Kalimantan Barat dan Lampung.

7.    Tanah mediteran adalah tanah sifatnya tidak subur yang terbentuk dari pelapukan batuan yang kapur. Contoh : Nusa Tenggara, Maluku, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

8.    Tanah organosol adalah jenis tanah yang kurang subur untuk bercocok tanam yang merupakan hasil bentukan pelapukan tumbuhan rawa. Contoh : rawa Kalimantan, Papua dan Sumatera.

 

2.1.2 Struktur Tanah

Struktur tanah merupakan sifat fisik tanah yang menggambarkan susunan ruangan partikel-partikel tanah yang bergabung satu dengan yang lain membentuk agregat dari hasil proses pedogenesis. Struktur tanah berhubungan dengan cara di mana, partikel pasir, debu dan liat relatif disusun satu sama lain. Di dalam tanah dengan struktur yang baik, partikel pasir dan debu dipegang bersama pada agregat-agregat (gumpalan kecil) oleh liat humus dan kalsium. Ruang kosong yang besar antara agregat (makropori) membentuk sirkulasi air dan udara juga akar tanaman untuk tumbuh ke bawah pada tanah yang lebih dalam. Sedangkan ruangan kosong yang kecil ( mikropori) memegang air untuk kebutuhan tanaman. Idealnya bahwa struktur disebut granular.

Pembentukan agregat menurut Gedroits (1955) ada dua tingkatan pembentuk agregat tanah, yaitu:
1. Kaogulasi koloid tanah (pengaruh Ca2+) kedalam agregat tanah mikro.

2.Sementasi (pengikat) agregat mikro kedalam agregat makro.

Teori pembentukan tanh berdasarkan flokulasi dapat terjadi pada tanah yang berada dalam larutan, misal pada tanah yang agregatnya telah dihancurkan oleh air hujan atau pada tanah sawah. Menurut utomo dan Dexter (1982) menyatakan bahwa retakan terjadi karena pembengkakan dan pengerutan sebagai akibat dari pembasahan dan pengeringan yang berperan penting dalam pembentukan agregat. Dapat diambil kesimpulan bahwa agregat tanah terbentuk sebagai akibat adanya interaksi dari butiran tunggal, liat, oksioda besi/ almunium dan bahan organik. Agregat yang baik terbentuk karena flokuasi maupun oleh terjadinya retakan tanah yang kemudian dimantapkan oleh pengikat (sementasi) yang terjadi secara kimia atau adanya aktifitas biologi.

Faktor yang mempengaruhi pembentukan agregat,yaitu:

1.Bahan Induk

Variasi penyusun tanah tersebut mempengaruhi pembentukan agregat-agregat tanah serta kemantapan yang terbentuk. Kandungan liat menentukan dalam pembentukan agregat, karena liat berfungsi sebagai pengikat yang diabsorbsi pada permukaan butiran pasir dan setelah dihidrasi tingkat reversiblenya sangat lambat. Kandungan liat > 30% akan berpengaruh terhadap agregasi, sedangakan kandungan liat < 30% tidak berpengaruh terhadap agregasi.

2. Bahan organik tanah

Bahan organik tanah merupakan bahan pengikat setelah mengalami pencucian. Pencucian tersebut dipercepat dengan adanya organisme tanah. Sehingga bahan organik dan organisme di dalam tanah saling berhubungan erat.

3. Tanaman

Tanaman pada suatu wilayah dapat membantu pembentukan agregat yang mantap. Akar tanaman dapat menembus tanah dan membentuk celah-celah. Disamping itu dengan adanya tekanan akar, maka butir-butir tanah semakin melekat dan padat. Selain itu celah-celah tersebut dapat terbentuk dari air yang diserp oleh tnaman tesebut.

4. Organisme tanah

Organisme tanah dapat mempercepat terbentuknya agregat. Selain itu juga mampu berperan langsung dengan membuat lubang dan menggemburkna tanaman.Secara tidak langsung merombak sisa-sisa tanaman yang setelah dipergunakan akan dikeluarlan lagi menjadi bahan pengikat tanah.

 

 

5. Waktu

Waktu menentukan semua faktor pembentuk tanah berjalan. Semakin lama waktu berjalan, maka agregat yang terbentuk pada tanah tersebut semakin mantap.

6. Iklim

Iklim berpengaruh terhadap proses pengeringan, pembasahan, pembekuan, pencairan. Iklim merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan agregat tanah.

Macam macam struktur tanah,yatu:

1.   Struktu tanah berbutir (granular): Agregat yang membulat, biasanya diameternya tidak lebih dari 2 cm.

2.   Kubus (Bloky): Berbentuk jika sumber horizontal sama dengan sumbu vertikal.

3.   Lempeng (platy): Bentuknya sumbu horizontal lebih panjang dari sumbu vertikalnya. Biasanya terjadi pada tanah liat yang baru terjadi secara deposisi (deposited).

4.   Prisma: Bentuknya jika sumbu vertikal lebih panjang dari pada sumbu horizontal.

2.1.3 Komponen Tanah

(1) Bahan Padatan berupa bahan mineral
(2) Bahan Padatan berupa bahan organik
(3) Air
(4) Udara
Bahan tanah tersebut rata-rata 50% bahan padatan (45% bahan mineral dan 5% bahan organik), 25% air dan 25% udara.

2.1.4 Fungsi Tanah

1.Tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran.

2.Penyedia kebutuhan primer tanaman (air, udara, dan unsur-unsur hara)

3.Penyedia kebutuhan sekunder tanaman (zat-zat pemacu tumbuh: hormon, vitamin, dan asam-asam organik; antibiotik dan toksin anti hama; enzim yang dapat meningkatkan kesediaan hara)

4.Sebagai habitat biota tanah, baik yang berdampak positif karena terlibat langsung atau tak langsung dalam penyediaan kebutuhan primer dan sekunder tanaman tersebut, maupun yang berdampak negatif karena merupakan hama & penyakit tanaman.

2.2 Degradasi Tanah

Kerusakan tanah didefenisikan sebagai proses atau fenomena penurunan kapasitas tanah dalam mendukung kehidupan. Arsyad (2000) menyatakan bahwa kerusakan tanah adalah hilangnya atau menurunnya fungsi tanah, baik fungsinya sebagai sumber unsur hara tumbuhan maupun maupun fungsinya sebagai matrik tempat akar tumbuhan berjangkar dan tempat air tersimpan. Oldeman (1993) mendefinisikan kerusakan tanah sebagai proses atau fenomena penurunan kemampuan tanah dalam mendukung kehidupan pada saat ini atau pada saat yang akan datang yang disebabkan oleh ulah manusia.

2.2.1 Faktor-Faktor terjadinya Degradasi Tanah

Degradasi tanah pada umumnya disebabkan karena 2 hal yaitu faktor alami dan akibat faktor campur tangan manusia. Degradasi tanah dan lingkungan, baik oleh ulah manusia maupun karena ganguan alam, semakin lama semakin meningkat. Lahan subur untuk pertanian banyak beralih fungsi menjadi lahan non pertanian. Sebagai akibatnya kegiatan-kegiatan budidaya pertanian bergeser ke lahan-lahan kritis yang memerlukan infut tinggi dan mahal untuk menghasilkan produk pangan yang berkualitas (Mahfuz, 2003).

Menurut Firmansyah (2003) faktor alami penyebab degradasi tanah antara lain: areal berlereng curam, tanah yang muda rusak, curah hujan intensif, dan lain-lain. Faktor degradasi tanah akibat campur tangan manusia baik langsung maupun tidak langsung lebih mendominasi dibandingkan faktor alami, antar lain: perubahan populasi, marjinalisasi penduduk, kemiskinan penduduk, masalah kepemilikan lahan, ketidakstabilan politik dan kesalahan pengelolaan, kondisi sosial dan ekonomi, masalah kesehatan, dan pengembangan pertanian yang tidak tepat.

Lima faktor penyebab degradasi tanah akibat campur tangan manusia secara langsung, yaitu : deforestasi, overgrazing, aktivitas pertanian, ekploitasi berlebihan, serta aktivitas industri dan bioindustri. Sedangkan faktor penyebab tanah terdegradasi dan rendahnya produktivitas, antara lain : deforestasi, mekanisme dalam usaha tani, kebakaran, penggunaan bahan kimia pertanian, dan penanaman secara monokultur (Lal, 2000). Faktor-faktor tersebut di Indonesia pada umumnya terjadi secara simultan, sebab deforestasi umumnya adalah langkah permulaan degradasi lahan, dan umumnya tergantung dari aktivitas berikutnya apakah ditolerenkan, digunakan ladang atau perkebunan maka akan terjadi pembakaran akibat campur tangan manusia yang tidak terkendali (Firmansyah, 2003).

Umumnya faktor-faktor penyebab degradasi baik secara alami maupun campur tangan manusia menimbulkan kerusakan dan penurunan produktivitas tanah. Pada sistem usaha tani tebas dan bakar atau perladangan berpindah masih tergantung pada lama waktu bera agar tergolong sistem usaha yang berkelanjutan secara ekologis. Secara khusus disebutkan bahwa sistem tersebut pada beberapa daerah marjinal dan tekanan populas terhdap lahan cukup tinggi, kebutuhan ekonomi makin meningkat mengakibatkan masa bera makin singkat sehingga sangat merusak dan menyebabkan degradasi tanah dan lingkungan. Banyak penelitian yang menyatakan bahwa setelah 5 tahun sejak pembakaran maka konsentrasi unsur hara menurun, persentase Al tinggi, dan persentase kejenuhan basa rendah di subsoil setelah 2-5 tahun kebakaran. Tanah menjadi subyek erosi, subsoil menjadi media tumbuh tanaman, dan tingginya konsentrasi Al pada tingkat meracun serta rendahnya kejenuhan basa mendorong penurunan produksi tanaman (Firmansyah, 2003).

Pengaruh antropogenik terhadap degradasi tanah akan sangat tinggi apabila tanah diusahakan bukan untuk non pertanian. Perhitungan kehilangan tanah yang ditambang untuk pembuatan bata merah sangat besar. Akibat penimbunan permukaan tanah dengan tanah galian sumur tambnag emas di Sukabumi mengakibatkan penurunan status hara, menurunkan populasi mikroba dan artropoda tanah, dan merubah iklim mikro (Hidayati, 2000).

 

Dibandingkan tanah non terdegradsai, maka terdegradasi lebi rendah 38% C organik tanah, 55% lebih rendah basa-basa dapat ditukar, 56% lebih rendah biomass mikroba, 44% lebih rendah kerapatan mikroartropoda, sebaliknya 13% lebih tinggi berat isi dan 14% pasir. Nilai pH non terdegradasi lebih tinggi daripada tanah terdegradasi. Begitu pula ditemukan bahwa dekomposisi daun dan pelepasan unsur hara lebih rendah pada tanah terdegradasi daripada non terdegradasi selama 150 percobaan (Firmansyah, 2003).

2.2.2 Klasifikasi Tanah yang Terdegradasi

Tanah merupakan faktor lingkungan penting yang mempunyai hubungan timbal balik dengan tanaman yang tumbuh di atasnya. Tanah yang produktif  harus dapat menyediakan lingkungan yang baik seperti udara dan air bagi pertumbuhan akar tanaman disamping harus mampu menyediakan unsur hara yang cukup bagi pertumbuhan tanaman tersebut. Faktor lingkungan tersebut menyangkut berbagai sifat fisik tanah seperti ketersediaan air, temperatur, aerasi dan struktur tanah yang baik (Mahfudz, 2003).

Tipe degradasi tanah dibagi 2 macam, yaitu : 1) berhubungan dengan displasemen bahan tanah yang terdiri dari erosi air dan erosi angin, 2) berdasarkan deterosiasi in situ terdiri dari degradasi kimia (hilangnya unsur hara/bahan organik, salinasi dan polusi), dan degradasi fisik. Derajat tipe degradasi terbagi menjadi rendah sedang, kuat dan ektrim, dengan faktor penyebab adalah deforestasi, overgrazing, kesalahan pengelolan pertanian, ekspoitasi berlebihan, dan aktivitas industri (Firmansyah, 2003).

2.2.3 Pengaruh Degradasi Tanah terhadap Produktivitas

Dalam rangka rehabilitasi lahan-lahan kritis yang luasnya semakin besar di Indonesia serta meningkatnya produktivitas untuk keperluan pertanian, perkebunan, kehutanan dan pelestarian alam, maka perlu dilakuakan upaya-upaya yang dapat yang dapat memodifikasi lingkungan tersebut (Subiksa, 2002). Degradasi tanah berpengaruh terhadap penurunan produktivitas tanah. Kehilanagn produktivitas dicirikan dengan terjadinya erosi akibat tanah terdegradasi diperkirakan 272 juta Mg pangan dunia hilang berdasarkan tingkat produksi tahun 1996 (Lal, 2000).

Tanah yang mengalami kerusakan baik kerusakan karena sifat fisik, kimia dan maupun biologi memiliki pengaruh terhadap penurunan produksi padi mencapai sekitar 22% pada lahan semi kitis, 32 % pada lahan kritis, dan diperkirakan sekitar 38% pada lahan sangat kritis. Sedangkan untuk kacang tanah mengalami penurunan sekitar 9%, 46%, 58% masing-masing pada tanah semi kritis, kritis dan tanah yang sangat kritis. Sifat tanah yang berkorelasi nyata terhadap produksi padi adalah kedalaman solum, kandungan bahan organik (Sudirman dan Vadari, 2000).

 

2.3 Konservasi Tanah

Konservasi tanah adalah serangkaian strategi pengaturan untuk mencegah erosi tanah dari permukaan bumi atau terjadi perubahan secara kimiawi atau biologi akibat penggunaan yang berlebihan, salinisasi, pengasaman, atau akibat kontaminasi lainnya. Strategi yang biasanya dipakai, yaitu:

Strategi lainnya yang biasa dipergunakan dalam bidang pertanian yaitu:

Banyak bidang ilmu yang terlibat dalam upaya-upaya tersebut, diantaranya agronomi, hidrologi, ilmu tanah, kimia lingkungan, meteorologi, mikrobiologi dan teknik pertanian. Resilensi (resilience) merupakan gambaran ukuran kemampuan sistem tanah untuk kembali kepada kondis asli, sedangkan resiliensi merupakan kemampuan sangga tanah atau ketahanan tanah terhadap perubahan.  Konsep resiliensi adalah mengevaluasi kemampuan tanah untuk kembali kepada tingkat penampilan semula, jika tanah tersebut mengalami degradasi atau terjadinya penurunan sifat-sifatnya dalam konteks dimensi waktu dan nilai. Resiliensi merupakan upaya dari rehabilitasi (Firmansyah, 2003), sedangkan Lal (2000) menyatakan bahwa resiliensi tanah tergantung pada keseimbangan antara restorasi tanah dan degradasi tanah. Proses degradasi di lahan kering antara lain memburuknya struktur tanah, gangguan terhadap siklus air, karbon dan hara, sedangkan restorasinya meliputi pembentukan mikroagregat mantap, mekanisme humifikasi dan biomassa C tanah, meningkatkan cadangan hara dan mekanisme siklus hara, dan keragaman hayati.

Berdasarkan penelitian Herrik dan Wander resiliensi tanah dapat dilakukan berdasarkan kuantifikasi percobaan melalui pengukuran lajunya, atau dikembangkan menjadi recovery setelah gangguan, sedangkan resistensi ditunjukkan sebagai perbandingan kapasitas fungsi tanah setelah gangguan dan kapasitasnya sebelum terganggu. Ada 2 rehabilitasi pada tanah terdegradasi,yaitu:

1.    Rehabilitasi pada Degradasi Sifat Fisik Tanah

Degradasi sifat fisik tanah pada umumnya disebabkan karena memburuknya struktur tanah. Kerusakan struktur tanah diawali dengan penurunan kestabilan agregat tanah sebagai akibat akibat dari pukulan air hujan dan kekuatan limpasan permukaan. Penurunan kestabilan agregat tanah berkaintan dengan penurunan kandungan bahan organik tanah, aktivitas perakaran dan mikroorganisme tanah. Penurunan ketiga agen pengikat tanah tersebut, selain menyebabkan agregat tanah relatif mudah pecah juga menyebabkan terbentuknya kerak di permukaan tanah (soil crusting) yang mempunyai sifat padat dan keras bila kering. Pada saat hujan turun, kerak yang terbentuk di permukaan tanah juga menyebabkan penyumbatan pori tanah. Akibat proses penyumbatan pori tanah ini, porositas tanah, disribusi pori tanah, dan kemampuan tanah untuk mengalirkan air mengalami penurunan dan limpasan permukaan akan meningkat. Sehingga upaya perbaikan degradasi sifat fisik tanah mengarah terhadap perbaikan struktur tersebut (Suprayogo et al., 2001).

Untuk pengelolaan tanah, tiga strategi dasar yang perlu untuk disarankan adalah (1) eliminasi pengkerakan tanah atas melalui ”pengolahan dalam ” secara berkala, (2) meningkatan kandungan bahan organik tanah melalui peningkatan jumlah masukan seresah yang bervariasi kualitasnya, dengan cara menanam tanaman penutup tanah atau menanam berbagai jenis pohon, dan (3) peningkatan diversitasi tanaman pohon dalam rangka meningkatkan jumlah dan penyebaran sistem perakaran (Suprayogo et al., 2001).

Firmansyah (2003) menyatakan bahwa penggunaan gambut terhumipikasi rendah dengan BD 0,10 Mg m-3 memilki pengaruh lebih besar daripada gambut terhumifikasi tinggi dengan BD 0,29 Mg m-3 dalam menurunkan kompaktibilitas tanah. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa behan organik lebih efektif untuk tanah dengan kompaktilitas tinggi, ketahanan penetrsai maksimum tanah liat menurun dari 0,64 menjadi 0,30 Mpa, dan pada tanah berpasir meningkat dari 0,64 menjadi 1,08 Mpa.

Pemberian bahan tersebut dapat memperbaiki sifat fisik tanah berupa peningkatan total ruang pori, perbaikan aerasi tanah, pori air tersedia, permeabilitas tanah dan menurunnya ketahanan penetrasi. Pemberian dosis 20 Mg/ha dapat meningkatkan aerasi diatas 12%, sedangkan pada takaran 10 Mg/ha dapat memperbaiki ketahanan penetrasi (Firmansyah, 2003).

Upaya perbaikan terhadap sifat tanah adalah dalam pemantapan agregat tanah yang memiliki tekstur lepas dengan menggunakan polimer organik. Polyacrilamide (PAM) berberat molekul tinggi dan bermuatan negatif sedang mampu memantapkan permukaan tanah, menurunkan run-of dan erosi. Rehabilitasi tanah terdegradasi dapat ditinjau dari sifat tanah yang mengalami penurunan dan diupayakan dilakukan perbaikan dengan menggunakan amelioran. Bentuk degradasi tanah yang terpenting di kawasan Asia antara lain adalah erosi tanah, degradasi sifat kimia berupa penurunan bahan organik tanah dan pencucian unsur hara (Firmansyah, 2003).

2.    Rehabilitasi terhadap Degradasi Sifat Kimia dan Biologi Tanah

Perbaikan terhadap lahan yang terdegradasi meliputi penanaman dengan vegetasi asal, penanaman tanaman penutup tanah yang cepat tumbuh, serta dengan penggunaan pupuk organik dan anorganik. Rehabilitasi pada tanah terdegradasi yang dicirikan dengan penurunan sifat kimia dan biologi tanah umumnya tidak terlepas dari penurunan kandungan bahan organik tanah, sehingga amelioran yang umum digunakan berupa bahan organik sebagai agen resiliensi. Pemberian bahan organik jerami atau mucuna sebanyak 10 Mg/ha dapat memperbaiki sifat-sifat tanah, yaitu meningkatkan aktivitas mikroba, meningkatkan pH H20, meningkatkan selisih pH, meningkatkan pH NaF (mendorong pembentukan bahan anoganik tanah yang bersifat amorf), meningkatkan pH 8,2 atau KTK variabel yang tergantung pH, menurunkan Aldd dan meningkatkan C-organik tanah. Penurunan Aldd selain disebabkan oleh kenaikan pH dan pengikatan oleh bahan-bahan tanah bermuatan negatif, juga disebabkan karena pengkhelatan senyawa humit. Peranan asam fulvik dalam mengkhelat Al jauh lebih tinggi dibandingkan asam humik sekitar tiga kalinya (Widjaja, 2002).

Lal (2000) menyatakan bahwa dalam pertanian tradisional maka pemanfaatan cover crop pada masa bera dapat meningkatkan produktivitas tanah berliat aktivitas rendah di tropika basah diperkirakan dapat memfiksasi 172 kg/N dari atmosfir selama siklus 2 tahun. Penelitian lainnya yang menggunakan tanaman penutup tinggi ybahwa Leucochepphala dan Acacia leptocarpa merupakan spesies yang menjanjikan untuk ditanam saat masa bera dengan tujuan regenerasi tanah  di tropika basah. Tingginya polifenol yang dihasilkan dari serasah daum mampu mengikat protein selama dekomposisi daun, sehingga terjadi immobilisasi N, hal tersebut merupakan peranan utama polifenol dalam bahan organik tanah dan peningkatan N pada tanah terdegradasi.

Bahan organik sebagai bahan rehabilitasi juga didapat dari limbah, terutama limbah industri kelapa sawit yang banyak diluar pulau Jawa. Manik (2002) menyatakan bahwa tandan kosong kelapa sawit sebanyak 95 Mg/ha mampu meningkatkan pH tanah, kandungan P, K, Mg, dan KTK tanah, serta meningkatkan produksi tandan buah segar 16,3%. Widhiastuti (2002) pemanfaatan limbah cair kelapa swit atau POME (Palm Oil Mill Efflunt) meningkatkan karbon mikroorganisme C-mic, dengan kecenderungan makin lama limbah diaplikasikan kandungan C-mic makin meningkat.

Amelioran lain yang umum digunakan pada tanah-tanah tropika adalah kapur. Pengapuran umumnya ditujukan  untuk menetralkan Aldd terutama pada tanaman yang peka terhadap keracunan Al. Biasanya meningkatkan pH tanah hingga 5,5 sedangkan bila karena keracunan Mn, maka pH perlu dinaikkan hingga 6,0 (Firmansyah, 2003).

BAB III KESIMPULAN

Dari makalah ni adalah:

1.    Faktor degradasi tanah dapat terjadi secara alami dan dipercepat akibat aktivitas manusia seperti deporestasi, kebakaran hutan, tambang, dan perladangan berpindah.

2.    Rehabilitasi juga berdampak meningkatkan produktivitas tanah terdegradasi sehingga mampu mendukung sistem usahatani.

3.     Degradasi tanah menurunkan sifat-sifat tanah dan produktivitas tanah.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Firmansyah, M. A. 2003. Resiliensi tanah terdegradasi. Makalah pengantar falsapah sain. IPB

Hidayati, N. 2000. Degradasi lahan pasca penambangan emas dan upaya reklamasinya: kasus penambangan emas Jampang-Sukabumi. Prosidng kongres Nasional VII HITI: pemanfaatn sumberdaya tanah sesuia dengan potensinya menuju keseimbanagan lingkungan hidup dalamrangka meningkatkan kesejahteraan rakyat. Bandung 2-4 Nopember 1999. Himpunan tanah Indonesia. Hal: 283-294

 

Lal. 2000. Soil management in the developing countris. Soil Science. 165(1):57-72

Manik, K. S. E., K. S. Susanto, dan Alfandi. 2002. Perubahan beberapa sifat kimia tanah akibat pemberian tandan kosong pada areal penanaman kelapa sawit di PT. Perkebunan Nusantara VII Unit Usaha Rejosari Lampung Selatan. J. Tanah Trop. 14:111-115

 

Subiksa, I. 2002. Pemanfaatan mikoriza untuk penanggulangan lahan kritis. http:// rudyet.triped.com/sem2-012/igm-subiksa.htm. 12 0ktober 2010.

Sudirman dan T. Vadari. 2000. Pengaruh kekritisan lahan terhadap produksi padi dan kacang tanah di Garut Selatan. Prosiding Kongres Nasional VII HITI: pemanfaatan sumberdaya tanah sesuai potensinya menuju keseimbangan lingkungan hidup dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat. Bandung 2-4 November 1999. Himpunan Tanah Indonesia. Hal: 411-417

Suprayogo, D., Widianto,. P. Purnomosidi, R. H. Widodo, F. Rusiana, Z. Z. Aini, N. Khasanah, dan Z. Kusumah. 2001. Degradasi sifat fisisk tanah sebagai akibat alih guna lahan hutan menjadi sistem kopi momokultur: kajian perubahan makro porositas tanah. Jurnal Penelitian Pertanian Universitas Brawijaya. 60-68

Widjaja, H. 2002. Peningkatan karbon pada lahan terdegradasi. http://rudyct.tripod.com/sem2 012/hermanu w.htm. 18 Oktober 2010

Widhiastuti, R. 2002. Pengaruh limbah cair pabrik pengolahan kelapa sawit yang digunakan sebagai pupuk terhadap sifat biologi dan kualitas air tanah. Jurnal Penelitian Pertanian. 21(2):105-111

Populasi Penduduk

PENDAHULUAN

Keadaan jumlah pendududk di Indonesia serta pertumbuhanya masih cukup tinggi. Tingkat kematianpun dibandingkan dengan negara yang pendapatan tiap penduduknya lebih rendah dari Indonesia, kenyataanya masih tinggi. Selain itu penyebaran penduduk yang tak merata, struktur umur serta kualitas penduduk yang masih rendah memberikan dampak pada pembagunan kebijaksanaan pembagian seyogyanya dapat mempengaruhi variable demografi untuk mencapai tujaun pembagunan. Populasi dapat dikatakan sebagai kumpulan individu-individu makhluk hidup yang sejenis (satu spesies) yang hidup dalam suatu daerah tertentu. Pengaturan populasi dipengaruhi oleh dua  faktor lingkungan yaitu faktor yang bergantung kepadatan populasi dan faktor yang tidak bergantung kepada kepadatan populasi.  Dalam demografi dipelajari tentang jumlah, penyebaran dan komposisis penduduk, termasuk perubahan serta penyebab dari perubahan tersebut seperti kelahiran,kematian dan migrasi.

Kalau jumlah individu yang keluar dan yang masuk sama, maka kepadatan populasi dikatakan sama atau tidak berubah. Suatu lingkungan hidup dapat memenuhi syarat kehidupan bagi penghuninya bila mana lingkungan hidup tadi dapat menyediakan bahan-bahan atau materi dan adanya kondisi fisik yang sesuai bagi penghuninya. Kalau keadaan lingkungan dari suatu populasi itu stabil, maka terdapatlah suatu keseimbangan yang dapat mempertahankan kenaikan atau penurunan dari suatu ukuran populasi pada suatu tingkat yang dapat mempertahankan kelangsungan hidup sejumlah individu populasi dalam keadaan lingkungannya semacam itu. Tetapi bila terjadi suatu perubahan dalam lingkungan, misalmnya perubahan sushu atau musim, maka akan terjadi perubahan kepadatan populasi. Misalnya, individu yang dapat berpindah tempat (misalnya burung) akan berusaha mencari tempat lain yang sesuai dengan lingkungannya untuk tempat hidupnya.

PEMBAHASAN

 

A. Populasi

I. Pengertian Populasi

Populasi adalah Kumpulan individu sejenis yang hidup pada suatu daerah dan waktu tertentu disebut populasi misalnya, populasi pohon kelapa dikelurahan Tegakan pada tahun 1989 berjumlah 2552 batang. Ukuran populasi berubah sepanjang waktu. Perubahan ukuran dalam populasi ini disebut dinamika populasi. Perubahan ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus perubahan jumlah dibagi waktu. Hasilnya adalah kecepatan perubahan dalam populasi. Misalnya, tahun 1980 populasi Pinus di Tawangmangu ada 700 batang. Kemudian pada tahun 1990 dihitung lagi ada 500 batang pohon Pinus. Dari fakta tersebut kita lihat bahwa selama 10 tahun terjadi pengurangan pohon pinus sebanyak 200 batang pohon, (Kalingis, 1986).

Populasi adalah sekelompok mahkluk hidup dengan spesies yang sama, yang hidup di suatu wilayah yang sama dalam kurun waktu yang sama pula. Misalnya semua rusa di Isle Royale membentuk suatu populasi, begitu juga dengan pohon-pohon cemara. Ahli ekologi memastikan dan menganalisa jumlah dan pertumbuhan dari populasi serta hubungan antara masing-masing spesies dan kondisi-kondisi lingkungan (Anonymous, 2010).

II. Sifat- sifat populasi (penduduk)

Jumlah suatu populasi tidaklah tetap sepanjang masa. Jika populasi dikaitkan dengan manusia, kita biasanya menggunakan kata penduduk. Kata populasi digunakan untuk kelompok makhluk hidup bukan manusia, misalnya populasi pohon jati, populasi nyamuk menjelang penghujan meningkat, serta populasi tikus meledak.

1. Kepadatan populasi

Kepadatan penduduk dinyatakan dengan jumlah individu per km2. Dalam kenyataannya, tidak tiap satu km2 dihuni oleh jumlah yang sama.

Secara nasional jumlah penduduk Indonesia adalah 300 jiwa per km2. Jumlah penduduk berubah-ubah dikarenakan ada yang lahir, ada yang mati, ada yang pergi, ada yang datang. Kalau angka kelahiran sama dengan angka kematian, dan angka emigrasi sama dengan angka imigrasi, maka jumlah penduduk secara keseluruhan konstan saja. Ini berarti bahwa secara local tidak ada perubahan. Contohnya pada masa giling, jumlah penduduk sekitar pabrik gula bertambah, perkampungan sekitar perguruan tinggi lebih padat penghuninya selama tahun kuliah, dan kembali seperti semula kalau mahasiswa-mahasiswanya sedang libur. Keadaan seperti ini kita sebut kepadatan musiman, dan sifatnya local. Dalam dunia tumbuhan maupun dunia hewan dikenal banyak contoh kepadatan musiman. Di musim hujan jumlah tumbuhan di suatu daerah tertentu lebih tinggi daripada di musim kering. Dari pengalaman, oarng dapat tau jumlah lalat buah meningkat di musim buah-buahan nangka. Orang dapat mengamati jumlah nyamuk yang mengalami pasang surut. Pengamatan ini menjadi pengetahuan tentang lingkungan. Ilmu lingkungan atau ekologi mempelajari atau meneliti hubungan yang terdapat antara jumlah lalat dengan jumlah buah nangka, jumlah nyamuk dengan keadaan air.

2. Pertambahan jumlah populasi

Didalam biologi dikenal dengan aksioma : tiap makhluk hidupberkembangbiak : perkembangbiakan itu perlu untuk melestarikan jenisnya. Prosesnya dipengaruhi oleh banyak factor luar seperti makanan, suhu, kebasahan, radiasi, dan factor-faktor dalam seperti usia, genetic.

Rentangan waktu dari individu sampai terjadinya individu baru lagi disebut waktu ganda. Waktu ganda tumbuhan biji ialah lamanya waktu antara biji sampai biji itu menjadi tanaman dewasa yang menghasilkan biji baru. Dalam dunia hewan kita ambil telur ayam (yang fertile) sampai telur itu meneyas dan menjadi ayam dewasa baru, itulah waktu gandanya. Kita mengetahui, bahwa waktu ganda yang paling cepat itu dimiliki oleh bakteri. Contohnya bakteri Vibrio comma (bakteri penyebab penyakit kolera) tiap 20 menit membelah menjadi dua. Suatu kenyataan dalam alam, bahwa tiap makhluk hidup mempunyai naluri untuk mempertahankan jenisnya. Berkembangbiak merupakan salah satu cara melestarikan diri dan keturunannya. Kalau manusia menuruti nalurinya semata-mata, maka jumlah populasi spesies ini dalam kurun waktu kurang dari 40 tahun sudah meningkat menjadi 25 kali. Pada intinya jika seorang wanita yang subur yang tiap bulan menghasilkan satu sel telur, maka selama 25 tahun ia mengahsilkan 300 sel telur, yaitu selama ia berusia 15 tahun sampai 40 tahun. Orang laki-laki dari umur 15 tahun sampai 60 tahun menghasilkan berjuta-juta sel mani.

Kalau seorang ibu tiap tahun melahirkan bayi, maka dalam waktu 25 tahun srepanjang suami istri yang kawin muda bisa menjadi keluarga besar berjumlah 27 oarng. Ini berarti dalam waktu 25 tahun sampai 50 tahun populasi manusia berganda 12 kali.

Populasi sekarang adalah sekitar empat kali lipat dari populasi pada 1900. Jumlah tersebut lebih dari 3,5 kali lipat populasi pada awal abad ke-20 dan sekitar dua kali lipat jumlah penduduk dunia pada 1960. Meskipun ini adalah nilai perkiraan, tapi kecenderungan pertumbuhan penduduk dunia diperoleh berdasarkan data data yang mendukukung. Laporan yang dikeluarkan lembaga tersebut pada Maret 2004 menyebutkan jumlah populasi penduduk dunia telah mencapai angka 6 miliar jiwa. Saat ini, rata-rata terjadinya kelahiran adalah 4,4 orang setiap detik. Pertambahan tercepat terjadi saat kenaikan dari angka 5 miliar ke 6 miliar yang hanya membutuhkan waktu sekitar 12 tahun. Penyebab utamanya adalah selisih angka kelahiran dan kematian yang sangat tinggi di berbagai negara, (Anonymous, 2010).

Sebagai individu kemampuan berkembangbiak itu terbatas, antaralain oleh usia, kesehatan dan lain-lain factor lagi. Tetapi sebagai populasi proses perkembangbiakan berjalan terus, maksimal selama faktor lingkungan memungkinkan. Factor pembatas menyebabkan perkembangbiakan tidak berjalan terus ialah daya dukung lingkungan. Daya dukung menyangkut tempat dan sumber makanan. Meskipun daya dukung suatu lingkungan tidak terlampaui, namun grafik pertambahan populasi tidak berupa garis lurus seperti diharapkan dari segi matematik. Dwidjoseputro, D. 1990. Ekologi Manusia dan Lingkungannya. Jakarta : Erlangga.

III. Pertumbuhan Populasi

Ukuran populasi umumnya bervariasi dari waktu ke waktu biasanya mengikuti dua pola. Beberapa populasi mempertahankan ukuran populasi yang relative konstan, sedangkan populasi-populasi lain berfruktuasi relative besar. Hal ini dikarenakan,

  • · Spesies- spesies tidaklah sama melimpahnya dalam seluruh wilayah, beberapa spesies mungkin banyak jumlahnya, sedangkan spesies lainnya barangkali sedikit
  • · Spesies-spesies tidaklah sama melimpahnya di suatu daerah dibandingkan dengan daerah lainnya di wilayah tersebut.

IV. Populasi yang berfluktuasi

Banyak populasi yang tidak terlihat memberikan respon pada kapasitas dukung dengan suatu penurunan pertumbuhan populasi, jika ukuran populasi meningkat. Dalam beberapa hal, r tetap tinggi atau bahkan tetap meningkat ketika ukuran populasi meningkat. Karena beberapa factor, seperti energy yang tersedia atau nutrient. Akhirnya menjadi pembatas di dalam lingkungan, populsi akan tumbuh dan jumlahnya akan turun secara mendadak, (McNaughton S. J, 1990).

V. Statistik penting dari populasi

Dua factor yang menentukan laju pertumbuhan populasi tidak dipengaruhi oleh migrasi : laju kelahiran dan laju kematian. Factor factor ini dipengaruhi oleh seluruh factor lingkungan, dan masing-masing juga memiliki komponen genetic yang telah berevolusi sesuai dengan kondisi lingkungan. Walaupun laju kelahiran dan laju kematian mendukung laju pertumbuhan populasi sebenarnya, dan struktur umur populasi, mereka kenyataanya terpisah dalam kesatuan dan mereka dibicarakan seperti dalam diskusi selanjutnya. Hal ini bukan berarti bahwa tidak ada hubungan evolusioner antara keduanya, (McNaughton S. J, 1990).

Kalau suatu saat makanan musnah oleh suatu sebab yang terjadi di lingkungan, maka makhluk hidup yang hanya memakan satu jenis makanan akan terancam kelangsungan hidupnya. Sedangkan untuk makhluk hidup yang mempunyai seratus jenis makanan, sedikit sekali kemungkinan keseratus jenis mankanan itu musnah semuanya dalam waktu yang sama. Jadi makin beranekaragam jenis makanan suatu spesies maka makin kurang bahayanya bagi spesies itu menghadapi perubahan lingkungan yang dapat memusnahkan sumber makannya.

Populasi sekarang adalah sekitar empat kali lipat dari populasi pada 1900. Jumlah tersebut lebih dari 3,5 kali lipat populasi pada awal abad ke-20 dan sekitar dua kali lipat jumlah penduduk dunia pada 1960. Meskipun ini adalah nilai perkiraan, tapi kecenderungan pertumbuhan penduduk dunia diperoleh berdasarkan data data yang mendukukung. Laporan yang dikeluarkan lembaga tersebut pada Maret 2004 menyebutkan jumlah populasi penduduk dunia telah mencapai angka 6 miliar jiwa. Saat ini, rata-rata terjadinya kelahiran adalah 4,4 orang setiap detik. Pertambahan tercepat terjadi saat kenaikan dari angka 5 miliar ke 6 miliar yang hanya membutuhkan waktu sekitar 12 tahun. Penyebab utamanya adalah selisih angka kelahiran dan kematian yang sangat tinggi di berbagai negara, (McNaughton S. J, 1990).

Kepadatan pupulasi dapat mengalami perubahan melalui adanya kelahiran , kematian dan migrasi dari individu populasi, serta perubahan lingkungan tempat populasi itu hidup. Pertumbuhan dalam populasi yang terus menerus akibat lebih besarnya jumlah kelahiran daripada jumlah kematian membuat kepadatan populasi itu anik. Tetapi karena kemampuan habitat untuk menyokong kehidupan suatu spesies itu tertentu, maka perlu ada keseimbangan antara pertumbuhan populasi dengan daya dukung lingkungan. Bila pertumbuhan populasi melampaui daya dukung lingkungan, maka akan terjadi persaingan antar mahluk hidup dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Persaingan ini dalam waktu yang singkat dapat menimbulkan akibat ekologi, dan dalam jangka waktu yang panjang dapat menimblkan akibat evolusi.

a. Penyebab ledakan jumlah populasi penduduk :

1) angka kelahiran tinggi

2) angka kematian rendah

3) ekonomi yang teratur dan meningkat

4) membaiknya kesehatan masyarakat

5) tingkat pendidikan penduduk yang masih rendah

b. Dampak dari ledakan penduduk :

1) Sosial: Urbanisasi penduduk tidak merata, angka kemiskinan dan kriminalitas meningkat sebagai akibat moralitas menurun.

2) Ekonomi : Kebutuhan akan pangan dan lahan sebagai tempat hunian serta industri meningkat sedangkan lahan yang tersedia semakin menurun/sedikit.

3) Bidang Pendidikan : Tingkat pendidikan menurun dan biaya pendidikan meningkat

4) Bidang Kesehatan : Akibat kualitas lingkungan menurun, penyakit merajalela, sehingga kualitas kesehatan masyarakat menurun.

5) Bidang lingkungan hidup :

a) Kerusakan ekosistem :

Kerusakan hutan akibat ladang berpindah, kekurangan air, kekurangan oksigen, keterbatasan lahan, penebangan pohon secara liar.

b) Pencemaran dan polusi meningkat :

Sebagai akibat dari kerusakan ekosistem dan pertumbuhan industry serta penggunaan kendaraan semakin mengingkat, maka tingkat pencemaran dan polusi tak terkendali. Sehingga semakin banyak limbah industry dan rumah tangga serta asap kendaraan bermotor yang menyebabkan polusi air, tanah, dan udara.

c. Usaha untuk mengatasi ledakan penduduk:

1. Menurunkan laju pertumbuhan penduduk dengan menyelenggarakan progam KB.

2. Meningkatkan kualitas penduduk dengan cara :

a) Meningkatkan gizi balita.

b) Menunda perkawinan usia dini (muda).

c) Prinsip-Prinsip Ekologi Pendidikan (program pendidikan 9 tahun, menghapuskan    buta huruf dll).

d) Meningkatka pencegahan, pengobatan dan penanggulangan penyakit pada ibu dan    anak.

3. Meningkatkan lapangan pekerjaan dengan mengembangkan industry dan keterampilan masyakarat agar mandiri.

4. Mengimbangi laju pertambahan penduduk dengan meningkatkan produksi pangan, melalui program:

Intensifikasi (peningkatan produksi pertanian melalui perbaikan cara bercocok tanam, hal ini dilakukan dilahan sempit/terbatas).

Ektensifikasi (peningkatan produksi pertanian melalui perluasan lahan).

Diversifikasi (penganekaragaman jenis makanan).

Hukum toleransi menunjukkan, bahwa suatu makhluk hidup dalam suatu populasi tertentu mengehndaki suatu luasan tanah tertentu dengan keadaan temperature, intensitas cahaya matahari dan lain-lain yang tertentu pula. Jadi  perlu ada keseimbangan anatara kepadatan populasi menyebabkan terjadfi perubahan baik kepadatan populasi maupun kepada daya dukung lingkungan. Kepadatan populasi dapat mengalami perubahan melalui :

 

1.      Pertambahan individu dalam populasi, seperti adanya kelahiran dan imigrasi (masuknya individu kedalam populasi)

2.      Pengurangan individu dalam populasi, seperti adanya kematian dan emigrasi (adanya individu yang keluar dari populasi

3.      Perubahan lingkungan tempat hidup populasi

Kalau jumlah individu yang keluar dan yang masuk sama, maka kepadatan populasi dikatakan sama atau tidak berubah. Suatu lingkungan hidup dapat memenuhi syarat kehidupan bagi penghuninya bila mana lingkungan hidup tadi dapat menyediakan bahan-bahan atau materi dan adanya kondisi fisik yang sesuai bagi penghuninya. Kalau keadaan lingkungan dari suatu populasi itu stabil, maka terdapatlah suatu keseimbangan yang dapat mempertahankan kenaikan atau penurunan dari suatu ukuran populasi pada suatu tingkat yang dapat mempertahankan kelangsungan hidup sejumlah individu populasi dalam keadaan lingkungannya semacam itu. Tetapi bila terjadi suatu perubahan dalam lingkungan, misalmnya perubahan sushu atau musim, maka akan terjadi perubahan kepadatan populasi. Misalnya, individu yang dapat berpindah tempat (misalnya burung) akan berusaha mencari tempat lain yang sesuai dengan lingkungannya untuk tempat hidupnya.

Kalau suatu saat makanan musnah oleh suatu sebab yang terjadi di lingkungan, maka makhluk hidup yang hanya memakan satu jenis makanan akan terancam kelangsungan hidupnya. Sedangkan untuk makhluk hidup yang mempunyai seratus jenis makanan, sedikit sekali kemungkinan keseratus jenis mankanan itu musnah semuanya dalam waktu yang sama. Jadi makin beranekaragam jenis makanan suatu spesies maka makin kurang bahayanya bagi spesies itu menghadapi perubahan lingkungan yang dapat memusnahkan sumber makannya.

 

Faktor Lingkungan Yang Berperan Dalam Pengaturan Populasi

Adapun factor yang mempengaruhi populasi yaitu :

Faktor yang menentukan populasi

Jumlah dari suatu populasi tergantung pada pengaruh dua kekuatan dasar. Pertama adalah jumlah yang sesuai bagi populasi untuk hidup dengan kondisi yang ideal. Kedua adalah gabungan berbagai efek kondisi faktor lingkungan yang kurang ideal yang membatasi pertumbuhan. Faktor-faktor yang membatasi diantaranya ketersediaan jumlah makanan yang rendah, pemangsa, persaingan dengan mahkluk hidup sesama spesies atau spesies lainnya, iklim dan penyakit.

Jumlah terbesar dari populasi tertentu yang dapat didukung oleh lingkungan tertentu disebut dengan kapasitas beban lingkungan untuk spesies tersebut. Populasi yang normal biasanya lebih kecil dari kapasitas beban lingkungan bagi mereka disebabkan oleh efek cuaca yang buruk, musim mengasuh bayi yang kurang bagus, perburuan oleh predator, dan faktor-faktor lainnya, (Anonymous, 2010)

Faktor-faktor yang merubah populasi

Tingkat populasi dari spesies bisa banyak berubah sepanjang waktu. Kadangkala perubahan ini disebabkan oleh peristiwa-peristiwa alam. Misalnya perubahan curah hujan bisa menyebabkan beberapa populasi meningkat sementara populasi lainnya terjadi penurunan. Atau munculnya penyakit-penyakit baru secara tajam dapat menurunkan populasi suatu spesies tanaman atau hewan. Sebagai contoh peralatan berat dan mobil menghasilkan gas asam yang dilepas ke dalam atmosfer, yang bercampur dengan awan Dan turun ke bumi sebagai hujan asam. Di beberapa wilayah yang menerima hujan asam dalam jumlah besar populasi ikan menurun secara tajam(Anonymous,2010)

 

KESIMPULAN

  1. Populasi adalah Kumpulan individu sejenis yang hidup pada suatu daerah dan waktu tertentu

b. Sifat- sifat populasi (penduduk) terdiri atas

  • · Kepadatan populasi
  • · Pertambahan jumlah populasi
  1. Besarnya suatu populasi terbatasi oleh faktor –faktor lingkungan tertentu yang menentukan daya dukung suatu wilayah
  2. Besarnya suatu populasi dan laju perubahannya bergantung kepada beberapa faktor, termasuk kemampuan reproduksi, laju kelahiran, laju kematian emigrasi, imigrasi, dan tingkat usia

e.       Faktor Lingkungan Yang Berperan Dalam Pengaturan Populasi ada dua yaitu

  • Faktor yang menentukan populasi dimana Jumlah dari suatu populasi tergantung pada pengaruh dua kekuatan dasar. Pertama adalah jumlah yang sesuai bagi populasi untuk hidup dengan kondisi yang ideal. Kedua adalah gabungan berbagai efek kondisi faktor lingkungan yang kurang ideal yang membatasi pertumbuhan.
  • Faktor-faktor yang merubah populasi dimana tingkat populasi dari spesies bisa banyak berubah sepanjang waktu. Kadangkala perubahan ini disebabkan oleh peristiwa-peristiwa alam.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

http://www.satuiku.com/2010/02/populasi-penduduk-propinsi-kalimantan.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Populasi

http://pasfmpati.com/101/index.php?option=com_content&view=article&id=1177:revitalisasi-kb-nasional-bhakti-tni-kendalikan-populasi-penduduk&catid=1:latest-news

 

file://localhost/E:/Semester%205/Kang%20Uzen_%20PENGARUH%20KEPADATAN%20POPULASI%20MANUSIA%20TERHADAP%20LINGKUNGAN.mht

http://makalah-artikel-online.blogspot.com/2009/03/beban-atau-sumberdaya-jumlah-penduduk.html

 

Dwijoseputro, D. 1994. Ekologi Manusia dengan Lingkungannya. Erlangga. Jakarta.

Kalingis, Jenny R.E. 1986. Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup.    Karunika Universitas Terbuka. Jakarta

McNaughton, S.J, dkk. 1990. Ekologi Umum. Universitas Gajah Mada Press. Yogyakarta

Suksesi

SUKSESI adalah EKOSISTEM TUMBUH DAN BERKEMBANG (BERUBAH) AKIBAT DARI PERUBAHAN KESEIMBANGAN INTERAKSI ANTAR KOMPONEN PERUBAHAN LINGKUNGAN SECARA LAMBAT (EVOLUSI LINGKUNGAN)
Suksesi tumbuhan Adalah penggantian suatu komunitas tumbuh-tumbuhan oleh yang lain.Hal ini dapat terjadi pada tahap integrasi lambat ketika tempat tumbuh mula-mula sangat keras sehingga sedikit tumbuhandapat tumbuh diatasnya, atau suksesi tersebut dapat terjadi sangat cepat ketika suatu komunitas dirusak oleh suatu faktor seperti api, banjir, atau epidemi seranggadan diganti oleh yang lain(Daniel, et al, 1992).
Akhir proses suksesi komunitas yaitu terbentuknya suatu bentuk komunitas klimaks. Komunitas klimaks adalah suatu komunitas terakhir dan stabil (tidak berubah) yang mencapai keseimbangan dengan lingkungannya. Komunitas klimaks ditandai dengan tercapainya homeostatis atau keseimbangan,

gambar 1. Proses suksesi

SECARA OBYEKTIF SUKSESI SELALU PROGRESIF (MAJU) KUANTITAS (JENIS DAN JUMLAH ORGANISME) MENINGKAT SEHINGGA   MAKIN KOMPLEKS KUALITAS LINGKUNGAN MENINGKAT

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KECEPATAN SUKSESI

Jenis substrat baru yang terbentuk
Iklim
Sifat – sifat jenis tumbuhan
Luas komunitas asal yang rusak
Jenis-jenis tumbuhan yang terdapat di sekitar komunitas
Kehadiran pemencar benih

Gambar 2. Proses suksesi primer

Berdasarkan kondisi habitat pada awal suksesi, suksesi dibagi menjadi 2

1.Suksesi Primer
Terjadi jika suatu komunitas mendapat gangguan yang mengakibatkan komunitas awal hilang secara total sehingga terbentuk habitat baru dari awal.
PERUBAHAN YANG TERJADI SELAM PROSES SUKSESI:
1.Perkembangan sifat substrat/tanah
2.Pertambahan kepadatan komunitas
3.Peningkatan pemanfaatan SDL
4.Perubahan iklim mikro
5.Komunitas menjadi lebih kompleks
2.Suksesi Sekunder

Terjadi jika suatu gangguan terhadap suatu komunitas tidak bersifat merusak total tempat komunitas tersebut sehingga masih terdapat kehidupan atau substrat seperti sebelumnya

Proses suksesi sekunder dimulai lagi dari tahap awal, tetapi tidak dari komunitas pioner. Gangguan yang menyebabkan terjadinya suksesi sekunder dapat berasal dari peristiwa alami atau akibat kegiatan manusia.

Ekosistem Lingkungan

PENDAHULUAN

Di sekitar kita terdapat berbagai komponen lingkungan yang saling berinteraksi antara satu dengan yang lainnya. Interaksi tersebut telah terjalin sekian lama, sehingga terbentuk sebuah keseimbangan. Namun sayangnya berbagai intervensi manusia telah merusak tatanan dan keseimbangan yang terjadi, sehingga diperlukan waktu yang lama untuk memulihkannya. Manusia bersama tumbuhan, hewan dan jasad renik menempati suatu ruang tertentu. Kecuali makhluk hidup, dalam ruangan itu terdapat juga benda tak hidup, seperti misalnya udara yang terdiri atas bermacam gas, air dalam bentuk uap, cair dan padat, tanah dan batu. Ruang yang ditempati suatu makhluk hidup bersama dengan benda hidup dan tak hidup didalamnya disebut lingkungan hidup.

Di bumi terdapat berbagai macam ekosistem. Keberadaannya sebagian telah mengalami kerusakan karena intervensi manusia. Akibatnya terjadi berbagai permasalahan lingkungan akibat dari tidak seimbangnya interaksi yang terjadi didalamnya. Keteraturan ekosistem menunjukkan, ekosistem tersebut ada dalam suatu keseimbangn tertentu.keseimbngan itu tidak bersifat statis melainkan dinamis. Ia selalu berubah-ubah. Kadang-kadang perubahan itu besar kadang-kadang kecil. Perubahan itu dapat terjadi secara ilmiah, maupun sebagai akibat sebagai perbuatan manusia.

Dengan adanya fenomena diatas maka diperlukan adanya konsep ekosistem yang membuat kita memandang unsur-unsur dalam lingkungan hidup kita tidak secara tersendiri, melainkan secara terintegrasi sebagai sebagai komponen yang berkaitan dalam suatu sistem. Pendekatan ini disebut pendekatan ekosistem atau pendekatan holistik yang merupakan perhatian utama dalam pendekatan ekosistem.

PEMBAHASAN

A. Lingkungan Hidup

I. Pengertian Lingkungan Hidup

Lingkungan hidup merupakan tempat, wadah atau ruang yang ditempati oleh makhluk hidup dan tak hidup yang berhubungan dan saling ketergantungan satu sama lain, baik antara makhluk-makhluk itu sendiri maupun antara makhluk itu dengan alam sekitarnya (M. Harun, 1995). Menurut D. Valentinus (1995), lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang mempengaruhi perkembangan kehidupan manusia baik langsung maupun tidak langsung. Lingkungan bisa dibedakan menjadi lingkungan biotik dan abiotik. Jika kalian berada di sekolah, lingkungan biotiknya berupa teman-teman sekolah, bapak ibu guru serta karyawan dan semua orang yang ada di sekolah, juga berbagai jenis tumbuhan yang ada di kebun sekolah serta hewan-hewan yang ada di sekitarnya. Adapun lingkungan abiotik berupa udara, meja kursi, papan tulis, gedung sekolah dan berbagai macam benda mati yang ada di sekitar.

II. Unsur – Unsur Lingkungan Hidup

Unsur-unsur lingkungan hidup dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:

1. Unsur Hayati (Biotik)

Unsur hayati (biotik) yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari makhluk hidup seperti manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan dan jasad renik. Jika kalian berada di kebun sekolah, maka lingkungan hayatinya didominasi oleh tumbuhan. Tetapi jika berada di dalam kelas, maka lingkungan hayati yang dominan adalah teman-teman atau sesama manusia.

2. Unsur Sosial Budaya

Unsur sosial budaya yaitu lingkungan sosial dan budaya yang dibuat manusia yang merupakan sistem nilai, gagasan dan keyakinan dalam perilaku sebagai makhluk sosial. Kehidupan masyarakat dapat mencapai keteraturan berkat adanya sistem nilai dan norma yang diakui dan ditaati oleh segenap anggota masyarakat.

3. Unsur Fisik (Abiotik)

Unsur fisik (abiotik) yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari benda-benda tidak hidup seperti tanah, air, udara, iklim dan lain-lain. Keberadaan lingkungan fisik sangat besar peranannya bagi kelangsungan hidup segenap kehidupan di bumi. Bayangkan, apa yang terjadi jika air tak ada lagi di muka bumi atau udara yang dipenuhi asap. Tentu saja kehidupan di muka bumi tidak akan berlangsung secara wajar. Akan terjadi bencana kekeringan, banyak hewan dan tumbuhan mati, perubahan musim yang tidak teratur, munculnya berbagai penyakit dan lain-lain (Darsono, 1995).

III. Kerusakan Lingkungan Hidup

Berdasarkan faktor penyebabnya, bentuk kerusakan lingkungan hidup dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:

1.  Bentuk Kerusakan Lingkungan Hidup Akibat Peristiwa Alam

Berbagai bentuk bencana alam yang akhir-akhir ini banyak melanda Indonesia telah menimbulkan dampak rusaknya lingkungan hidup. Dahsyatnya gelombang tsunami yang memporak-porandakan bumi Serambi Mekah dan Nias, serta gempa 5 skala Ritcher yang meratakan kawasan DIY dan sekitarnya, merupakan contoh fenomena alam yang dalam sekejap mampu merubah bentuk muka bumi. Peristiwa alam lainnya yang berdampak pada kerusakan lingkungan hidup antara lain:

a. Letusan gunung berapi

b. Gempa bumi

c. Angin topan

2. Kerusakan Lingkungan Hidup Karena Faktor Manusia

Manusia sebagai penguasa lingkungan hidup di bumi berperan besar dalam menentukan kelestarian lingkungan hidup. Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang berakal budi mampu merubah wajah dunia dari pola kehidupan sederhana sampai ke bentuk kehidupan modern seperti sekarang ini. Namun sayang, seringkali apa yang dilakukan manusia tidak diimbangi dengan pemikiran akan masa depan kehidupan generasi berikutnya (Dwijoseputro, 1994). Banyak kemajuan yang diraih oleh manusia membawa dampak buruk terhadap kelangsungan lingkungan hidup. Beberapa bentuk kerusakan lingkungan hidup karena faktor manusia antara lain:

a. Terjadinya pencemaran (pencemaran udara, air, tanah, dan suara) sebagai dampak adanya kawasan industri.

b. Terjadinya banjir, sebagai dampak buruknya drainase atau sistem pembuangan air dan kesalahan dalam menjaga daerah aliran sungai dan dampak pengrusakan hutan.

c. Terjadinya tanah longsor, sebagai dampak langsung dari rusaknya hutan (M Harun, 1993).

IV. Permasalahan Lingkungan

Dalam suatu lingkungan hidup yang baik, terjalin suatu interaksi yang harmonis dan seimbang antar komponen-komponen lingkungan hidup. Stabilitas keseimbangan dan keserasian interaksi antara komponen lingkungan tersebut tergantung pada usaha manusia. Ada dua kejadian yang dianggap mengganggu stabilitas lingkungan yaitu perusakan dan pencemaran (M Harun, 1993).

Perusakan lingkungan adalah perbuatan manusia yang secara langsung ataupun tidak langsung mengakibatkan rusaknya suatu lingkungan. Penggalian tanah pasir atau batuan yang mengandung resiko tanah longsor dan banjir adalah sekedar contoh perusakan lingkungan yang masih merajalela (Dwijoseputro, 1994). Bentuk-bentuk pencemaran dapat dikategorikan sebagai:

a.       Pencemaran udara oleh limbah atau buangan dari rumah tangga, pabrik, dan alat transportasi. Pencemaran dapat berupa gas CO2, CO, SO2, NH3, H2S.

b.      Pencemaran air oleh limbah pabrik dan rumah tangga, sisa-sisa pestisida, hujan asam.

c.       Pencemaran tanah oleh air yang sudah tercemar oleh limbah dan sampah dari pabrik.

V. Langkah Penyelesaian

Penyelesaian masalah pencemaran terdiri dari langkah pencegahan dan pengendalian. Langkah pencegahan pada prinsipnya mengurangi pencemar dari sumbernya untuk mencegah dampak lingkungan yang lebih berat. Di lingkungan yang terdekat, misalnya dengan mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan, menggunakan kembali (reuse) dan daur ulang (recycle) (Prawiro, 1988). Di bidang industri misalnya dengan mengurangi jumlah air yang dipakai, mengurangi jumlah limbah dan mengurangi keberadaan zat kimia PBT (Persistent, Bioaccumulative, and Toxic) serta berangsur-angsur menggantinya dengan Green Chemistry. Green chemistry merupakan segala produk dan proses kimia yang mengurangi atau menghilangkan zat berbahaya.

Tindakan pencegahan dapat pula dilakukan dengan mengganti alat-alat rumah tangga atau bahan bakar kendaraan bermotor dengan bahan yang lebih ramah lingkungan. Pencegahan dapat pula dilakukan dengan kegiatan konservasi, penggunaan energi alternatif, penggunaan alat transportasi alternatif dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) (Soemarwoto, 2001).

Langkah pengendalian sangat penting untuk menjaga lingkungan tetap bersih dan sehat. Pengendalian dapat berupa pembuatan standar baku mutu lingkungan, monitoring lingkungan dan penggunaan teknologi untuk mengatasi masalah lingkungan. Untuk permasalahan global seperti perubahan iklim, penipisan lapisan ozon dan pemanasan global diperlukan kerjasama semua pihak antara satu negara dengan negara lain.

Sebagai warga negara yang baik, masyarakat harus memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kelestarian lingkungan hidup di sekitarnya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Beberapa upaya yang dapat dilakukan masyarakat berkaitan dengan pelestarian lingkungan hidup antara lain:

a. Pelestarian tanah (tanah datar, lahan miring/perbukitan)

Terjadinya bencana tanah longsor dan banjir menunjukkan peristiwa yang berkaitan dengan masalah tanah. Banjir telah menyebabkan pengikisan lapisan tanah oleh aliran air yang disebut erosi yang berdampak pada hilangnya kesuburan tanah serta terkikisnya lapisan tanah dari permukaan bumi. Tanah longsor disebabkan karena tak ada lagi unsur yang menahan lapisan tanah pada tempatnya sehingga menimbulkan kerusakan. Jika hal tersebut dibiarkan terus berlangsung, maka bukan mustahil jika lingkungan berubah menjadi padang tandus (Dwijoseputro, 1994).

Upaya pelestarian tanah dapat dilakukan dengan cara menggalakkan kegiatan menanam pohon atau penghijauan kembali (reboisasi) terhadap tanah yang semula gundul. Untuk daerah perbukitan atau pegunungan yang posisi tanahnya miring perlu dibangun terasering atau sengkedan, sehingga mampu menghambat laju aliran air hujan (Prawiro, 1988).

b. Pelestarian udara

Udara merupakan unsur vital bagi kehidupan, karena setiap organisme bernapas memerlukan udara. Kalian mengetahui bahwa dalam udara terkandung beranekaragam gas, salah satunya oksigen. Udara yang kotor karena debu atau pun asap sisa pembakaran menyebabkan kadar oksigen berkurang. Keadaan ini sangat membahayakan bagi kelangsungan hidup setiap organisme. Maka perlu diupayakan kiat-kiat untuk menjaga kesegaran udara lingkungan agar tetap bersih, segar, dan sehat (M Harun, 1993). Upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga agar udara tetap bersih dan sehat antara lain:

1) Menggalakkan penanaman pohon atau pun tanaman hias di sekitar kita.

Tanaman dapat menyerap gas-gas yang membahayakan bagi manusia. Tanaman mampu memproduksi oksigen melalui proses fotosintesis. Rusaknya hutan menyebabkan jutaan tanaman lenyap sehingga produksi oksigen bagi atmosfer jauh berkurang, di samping itu tumbuhan juga mengeluarkan uap air, sehingga kelembapan udara akan tetap terjaga.

2) Mengupayakan pengurangan emisi atau pembuangan gas sisa pembakaran.

Mengupayakan pengurangan emisi atau pembuangan gas sisa pembakaran baik pembakaran hutan maupun pembakaran mesin asap yang keluar dari knalpot kendaraan dan cerobong asap merupakan penyumbang terbesar kotornya udara di perkotaan dan kawasan industri. Salah satu upaya pengurangan emisi gas berbahaya ke udara adalah dengan menggunakan bahan industri yang aman bagi lingkungan, serta pemasangan filter pada cerobong asap pabrik.

3) Mengurangi atau bahkan menghindari pemakaian gas kimia yang dapat merusak lapisan ozon di atmosfer.

Gas freon yang digunakan untuk pendingin pada AC maupun kulkas serta dipergunakan di berbagai produk kosmetika, adalah gas yang dapat bersenyawa dengan gas ozon, sehingga mengakibatkan lapisan ozon menyusut. Lapisan ozon adalah lapisan di atmosfer yang berperan sebagai filter bagi bumi, karena mampu memantulkan kembali sinar ultraviolet ke luar angkasa yang dipancarkan oleh matahari. Sinar ultraviolet yang berlebihan akan merusakkan jaringan kulit dan menyebabkan meningkatnya suhu udara. Pemanasan global terjadi di antaranya karena makin menipisnya lapisan ozon di atmosfer (Prawiro, 1988).

c. Pelestarian hutan

Eksploitasi hutan yang terus menerus berlangsung sejak dahulu hingga kini tanpa diimbangi dengan penanaman kembali, menyebabkan kawasan hutan menjadi rusak. Pembalakan liar yang dilakukan manusia merupakan salah satu penyebab utama terjadinya kerusakan hutan. Padahal hutan merupakan penopang kelestarian kehidupan di bumi, sebab hutan bukan hanya menyediakan bahan pangan maupun bahan produksi, melainkan juga penghasil oksigen, penahan lapisan tanah, dan menyimpan cadangan air.

Upaya yang dapat dilakukan untuk melestarikan hutan:

1) Reboisasi atau penanaman kembali hutan yang gundul.

2) Melarang pembabatan hutan secara sewenang-wenang.

3) Menerapkan sistem tebang pilih dalam menebang pohon.

4) Menerapkan sistem tebang–tanam dalam kegiatan penebangan hutan.

5) Menerapkan sanksi yang berat bagi mereka yang melanggar ketentuan mengenai pengelolaan hutan (Prawiro, 1988).

d. Pelestarian laut dan pantai

Seperti halnya hutan, laut juga sebagai sumber daya alam potensial. Kerusakan biota laut dan pantai banyak disebabkan karena ulah manusia. Pengambilan pasir pantai, karang di laut, pengrusakan hutan bakau, merupakan kegatan-kegiatan manusia yang mengancam kelestarian laut dan pantai. Terjadinya abrasi yang mengancam kelestarian pantai disebabkan telah hilangnya hutan bakau di sekitar pantai yang merupakan pelindung alami terhadap gempuran ombak (Prawiro, 1988).

Adapun upaya untuk melestarikan laut dan pantai dapat dilakukan dengan cara:

1) Melakukan reklamasi pantai dengan menanam kembali tanaman bakau di areal sekitar pantai.

2) Melarang pengambilan batu karang yang ada di sekitar pantai maupun di dasar laut, karena karang merupakan habitat ikan dan tanaman laut.

3) Melarang pemakaian bahan peledak dan bahan kimia lainnya dalam mencari ikan.

4) Melarang pemakaian pukat harimau untuk mencari ikan.

e. Pelestarian flora dan fauna

Kehidupan di bumi merupakan sistem ketergantungan antara manusia, hewan, tumbuhan, dan alam sekitarnya. Terputusnya salah satu mata rantai dari sistem tersebut akan mengakibatkan gangguan dalam kehidupan. Oleh karena itu, kelestarian flora dan fauna merupakan hal yang mutlak diperhatikan demi kelangsungan hidup manusia. Upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian flora dan fauna di antaranya adalah:

1) Mendirikan cagar alam dan suaka margasatwa.

2) Melarang kegiatan perburuan liar.

3) Menggalakkan kegiatan penghijauan.

B. Ekosistem

I. Pengertian Ekosistem

Ekosistem merupakan satuan fungsional dasar yang menyangkut proses interaksi organisme hidup dengan lingkungan mereka. Istilah tersebut pada mulanya diperkenalkan oleh A.G.Tansley pada tahun 1935. Sebelumnya, telah digunakan istilah-istilah lain yairu biocoenosis dan mikrokosmos. Setiap ekosistem memiliki enam komponen yaitu produsen, makrokonsumen, mikrokonsumen, bahan anorganik, bahan organik, dan kisaran iklim (Resosoedarmo, 1990). Perbedaan antar ekosistem hanya pada unsur-unsur penyusun masing-masing komponen tersebut. Masing-masing komponen ekosistem mempunyai peranan dan mereka saling terkait dalam melaksanakan proses-proses dalam ekosistem. Proses-proses dalam ekosistem meliputi aliran energi, rantai makanan, pola keanekaragaman, siklus materi, perkembangan, dan pengendalian.

II. Susunan Ekosistem

Dilihat dari susunan dan fungsinya, suatu ekosistem tersusun atas komponen sebagai berikut:

a. Komponen autotrof

Autotrof adalah organisme yang mampu menyediakan/mensintesis makanan sendiri yang berupa bahan organik dari bahan anorganik dengan bantuan energi seperti matahari dan kimia. Komponen autotrof berfungsi sebagai produsen, contohnya tumbuh-tumbuhan hijau.

b. Komponen heterotrof

Heterotrof merupakan organisme yang memanfaatkan bahan-bahan organik sebagai makanannya dan bahan tersebut disediakan oleh organisme lain. Yang tergolong heterotrof adalah manusia, hewan, jamur, dan mikroba.

c. Bahan tak hidup (abiotik)

Bahan tak hidup yaitu komponen fisik dan kimia yang terdiri dari tanah, air, udara, sinar matahari. Bahan tak hidup merupakan medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan, atau lingkungan tempat hidup.


d. Pengurai (dekomposer)

Pengurai adalah organisme heterotrof yang menguraikan bahan organik yang berasal dari organisme mati (bahan organik kompleks). Organisme pengurai menyerap sebagian hasil penguraian tersebut dan melepaskan bahan-bahan yang sederhana yang dapat digunakan kembali oleh produsen. Termasuk pengurai ini adalah bakteri dan jamur.

III. Macam-Macam Ekosistem

Secara garis besar ekosistem dibedakan menjadi ekosistem darat dan ekosistem perairan. Ekosistem perairan dibedakan atas ekosistem air tawar dan ekosistem air laut.

a. Ekosistem darat

Ekosistem darat ialah ekosistem yang lingkungan fisiknya berupa daratan. Berdasarkan letak geografisnya (garis lintangnya), ekosistem darat dibedakan menjadi beberapa bioma, yaitu sebagai berikut:

  • Bioma gurun

Beberapa Bioma gurun terdapat di daerah tropika (sepanjang garis balik) yang berbatasan dengan padang rumput. Ciri-ciri bioma gurun adalah gersang dan curah hujan rendah (25 cm/tahun). Suhu slang hari tinggi (bisa mendapai 45°C) sehingga penguapan juga tinggi, sedangkan malam hari suhu sangat rendah (bisa mencapai 0°C). Perbedaan suhu antara siang dan malam sangat besar. Tumbuhan semusim yang terdapat di gurun berukuran kecil. Selain itu, di gurun dijumpai pula tumbuhan menahun berdaun seperti duri contohnya kaktus, atau tak berdaun dan memiliki akar panjang serta mempunyai jaringan untuk menyimpan air. Hewan yang hidup di gurun antara lain rodentia, ular, kadal, katak, dan kalajengking.

  • Bioma padang rumput

Bioma ini terdapat di daerah yang terbentang dari daerah tropik ke subtropik. Ciri-cirinya adalah curah hujan kurang lebih 25-30 cm per tahun dan hujan turun tidak teratur. Porositas (peresapan air) tinggi dan drainase (aliran air) cepat. Tumbuhan yang ada terdiri atas tumbuhan terna (herbs) dan rumput yang keduanya tergantung pada kelembapan. Hewannya antara lain: bison, zebra, singa, anjing liar, serigala, gajah, jerapah, kangguru, serangga, tikus dan ular


  • Bioma Hutan Basah

Bioma Hutan Basah terdapat di daerah tropika dan subtropik. Ciri-cirinya adalah, curah hujan 200-225 cm per tahun. Species pepohonan relatif banyak, jenisnya berbeda antara satu dengan yang lainnya tergantung letak geografisnya. Tinggi pohon utama antara 20-40 m, cabang-cabang pohon tinngi dan berdaun lebat hingga membentuk tudung (kanopi). Dalam hutan basah terjadi perubahan iklim mikro (iklim yang langsung terdapat di sekitar organisme). Daerah tudung cukup mendapat sinar matahari. Variasi suhu dan kelembapan tinggi/besar; suhu sepanjang hari sekitar 25°C. Dalam hutan basah tropika sering terdapat tumbuhan khas, yaitu liana (rotan), kaktus, dan anggrek sebagai epifit. Hewannya antara lain, kera, burung, badak, babi hutan, harimau, dan burung hantu.

  • Bioma hutan gugur

Bioma hutan gugur terdapat di daerah beriklim sedang. Ciri-cirinya adalah curah hujan merata sepanjang tahun. Terdapat di daerah yang mengalami empat musim (dingin, semi, panas, dan gugur). Jenis pohon sedikit (10 s/d 20) dan tidak terlalu rapat.Hewannya antara lain rusa, beruang, rubah, bajing, burung pelatuk, dan rakoon (sebangsa luwak).

  • Bioma taiga

Bioma taiga terdapat di belahan bumi sebelah utara dan di pegunungan daerah tropik. Ciri cirinya adalah suhu di musim dingin rendah. Biasanya taiga merupakan hutan yang tersusun atas satu spesies seperti konifer, pinus, dap sejenisnya. Semak dan tumbuhan basah sedikit sekali. Hewannya antara lain moose, beruang hitam, ajag, dan burung-burung yang bermigrasi ke selatan pada musim gugur.

  • Bioma tundra

Bioma tundra terdapat di belahan bumi sebelah utara di dalam lingkaran kutub utara dan terdapat di puncak-puncak gunung tinggi. Pertumbuhan tanaman di daerah ini hanya 60 hari. Contoh tumbuhan yang dominan adalah Sphagnum, liken, tumbuhan biji semusim, tumbuhan kayu yang pendek, dan rumput. Pada umumnya, tumbuhannya mampu beradaptasi dengan keadaan yang dingin.

Hewan yang hidup di daerah ini ada yang menetap dan ada yang datang pada musim panas, semuanya berdarah panas. Hewan yang menetap memiliki rambut atau bulu yang tebal, contohnya muscox, rusa kutub, beruang kutub, dan insekta terutama nyamuk dan lalat hitam.

b. Ekosistem Air Tawar

Ciri-ciri ekosistem air tawar antara lain variasi suhu tidak menyolok penetrasi cahaya kurang, dan terpengaruh oleh iklim dan cuaca. Macam tumbuhan yang terbanyak adalah jenis ganggang, sedangkan lainnya tumbuhan biji. Hampir semua filum hewan terdapat dalam air tawar. Organisme yang hidup di air tawar pada umumnya telah beradaptasi.

Habitat air tawar merupakan perantara habitat laut dan habitat darat. Penggolongan organisme dalam air dapat berdasarkan aliran energi dan kebiasaan hidup. Berdasarkan aliran energi, organisme dibagi menjadi autotrof (tumbuhan) dan fagotrof (makrokonsumen) yaitu karnivora predator, parasit dan saprotrof atau organisme yang hidup pada substrat sisa-sisa organisme. Berdasarkan kebiasaan hidup, organisme dibedakan sebagai berikut:

a. Plankton

Terdiri alas fitoplankton dan zooplankton;

biasanya melayang-layang (bergerak pasif) mengikuti gerak aliran air.

b. Nekton

Hewan yang aktif berenang dalam air, misalnya ikan.

c. Neuston

Organisme yang mengapung atau berenang di permukaan air atau

bertempat pada permukaan air, misalnya serangga air.

d. Perifiton

merupakan tumbuhan atau hewan yang melekat/bergantung pada tumbuhan atau benda lain, misalnya keong.

e.    Bentos

hewan dan tumbuhan yang hidup di dasar atau hidup pada endapan. Bentos dapat sesil (melekat) atau bergerak bebas, misalnya cacing dan remis.

Gambar 1. Berbagai Organisme air tawar dan cara hidupnya

Ekosistem air tawar digolongkan menjadi air tenang dan air mengalir. Termasuk ekosistem air tenang adalah danau dan rawa, termasuk ekosistem air mengalir adalah sungai.

1. Danau

Di danau terdapat pembagian daerah berdasarkan penetrasi cahaya matahari. Daerah yang dapat ditembus cahaya matahari sehingga terjadi fotosintesis disebut daerah fotik. Daerah yang tidak tertembus cahaya matahari disebut daerah afotik. Di danau juga terdapat daerah perubahan temperatur yang drastis atau termoklin. Termoklin memisahkan daerah yang hangat di atas dengan daerah dingin di dasar. Komunitas tumbuhan dan hewan tersebar di danau sesuai dengan kedalaman dan jaraknya dari tepi. Berdasarkan hal tersebut danau dibagi menjadi 4 daerah sebagai berikut:

a) Daerah litoral

Daerah ini merupakan daerah dangkal. Cahaya matahari menembus dengan optimal. Air yang hangat berdekatan dengan tepi. Tumbuhannya merupakan tumbuhan air yang berakar dan daunnya ada yang mencuat ke atas permukaan air. Komunitas organisme sangat beragam termasuk jenis-jenis ganggang yang melekat (khususnya diatom), berbagai siput dan remis, serangga, krustacea, ikan, amfibi, reptilia air dan semi air seperti kura-kura dan ular, itik dan angsa, dan beberapa mamalia yang sering mencari makan di danau.

b. Daerah limnetik

Daerah ini merupakan daerah air bebas yang jauh dari tepi dan masih dapat ditembus sinar matahari. Daerah ini dihuni oleh berbagai fitoplankton, termasuk ganggang dan sianobakteri. Ganggang berfotosintesis dan bereproduksi dengan kecepatan tinggi selama musim panas dan musim semi. Zooplankton yang sebagian besar termasuk Rotifera dan udang-udangan kecil memangsa fitoplankton. Zooplankton dimakan oleh ikan-ikan kecil. Ikan kecil dimangsa oleh ikan yang lebih besar, kemudian ikan besar dimangsa ular, kura-kura, dan burung pemakan ikan.

c. Daerah profundal
Daerah ini merupakan daerah yang dalam, yaitu daerah afotik danau. Mikroba dan organisme lain menggunakan oksigen untuk respirasi seluler setelah mendekomposisi detritus yang jatuh dari daerah limnetik. Daerah ini dihuni oleh cacing dan mikroba.

d. Daerah bentik
Daerah ini merupakan daerah dasar danau tempat terdapatnya bentos dan sisa-sisa organisme mati.

Gambar 2:

Daerah pembagian danau sesuai dengan kedalaman dan jaraknya dari tepi


2. Sungai

Sungai adalah suatu badan air yang mengalir ke satu arah. Air sungai dingin dan jernih serta mengandung sedikit sedimen dan makanan. Aliran air dan gelombang secara konstan memberikan oksigen pada air. Suhu air bervariasi sesuai dengan ketinggian dan garis lintang.

Komunitas yang berada di sungai berbeda dengan danau. Air sungai yang mengalir deras tidak mendukung keberadaan komunitas plankton untuk berdiam diri, karena akan terbawa arus. Sebagai gantinya terjadi fotosintesis dari ganggang yang melekat dan tanaman berakar, sehingga dapat mendukung rantai makanan.

Komposisi komunitas hewan juga berbeda antara sungai, anak sungai, dan hilir. Di anak sungai sering dijumpai Man air tawar. Di hilir sering dijumpai ikan kucing dan gurame. Beberapa sungai besar dihuni oleh berbagai kura-kura dan ular. Khusus sungai di daerah tropis, dihuni oleh buaya dan lumba-lumba.Organisme sungai dapat bertahan tidak terbawa arus karena mengalami adaptasi evolusioner.Misalnya bertubuh tipis dorsoventral dan dapat melekat pada batu.  Beberapa jenis serangga yang hidup di sisi-sisi hilir menghuni habitat kecil yang bebas dari pusaran air.

c.  Ekosistem air laut

Ekosistem air laut dibedakan atas lautan, pantai, estuari, dan terumbu karang.

1. Laut

Habitat laut (oseanik) ditandai oleh salinitas (kadar garam) yang tinggi dengan ion CI- mencapai 55% terutama di daerah laut tropik, karena suhunya tinggi dan penguapan besar. Di daerah tropik, suhu laut sekitar 25°C. Perbedaan suhu bagian atas dan bawah tinggi. Batas antara lapisan air yang panas di bagian atas dengan air yang dingin di bagian bawah disebut daerah termoklin.

Di daerah dingin, suhu air laut merata sehingga air dapat bercampur, maka daerah permukaan laut tetap subur dan banyak plankton serta ikan. Gerakan air dari pantai ke tengah menyebabkan air bagian atas turun ke bawah dan sebaliknya, sehingga memungkinkan terbentuknya rantai makanan yang berlangsung balk. Habitat laut dapat dibedakan berdasarkan kedalamannya dan wilayah permukaannya secara horizontal.

 

1.      Menurut kedalamannya, ekosistem air laut dibagi sebagai berikut :

a.       Litoral merupakan daerah yang berbatasan dengan darat.

b.      Neretik merupakan daerah yang masih dapat ditembus cahaya  matahari sampai bagian dasar dalamnya ± 300 meter.

c.       Batial merupakan daerah yang dalamnya berkisar antara 200-2500 m

d.      Abisal merupakan daerah yang lebih jauh dan lebih dalam dari pantai (1.500-10.000 m).

2.      Menurut wilayah permukaannya secara horizontal, berturut-turut dari tepi laut semakin ke tengah, laut dibedakan sebagai berikut:

a. Epipelagik merupakan daerah antara permukaan dengan kedalamanair sekitar 200 m.

b. Mesopelagik merupakan daerah dibawah epipelagik dengan kedalaman 200-1000 m.

c. Batiopelagik merupakan daerah lereng benua dengan kedalaman 200-2.500 m. Hewan yang hidup di daerah ini misalnya gurita.

d. Abisalpelagik merupakan daerah dengan kedalaman mencapai 4.000m; tidak terdapat tumbuhan tetapi hewan masih ada. Sinar matahari tidak mampu menembus daerah ini.

e. Hadal pelagik merupakan bagian laut terdalam (dasar). Kedalaman lebih dari 6.000 m. Di bagian ini biasanya terdapat lele laut dan ikan Taut yang dapat mengeluarkan cahaya. Sebagai produsen di tempat ini adalah bakteri yang bersimbiosis dengan karang tertentu.

Di laut, hewan dan tumbuhan tingkat rendah memiliki tekanan osmosis sel yang hampir sama dengan tekanan osmosis air laut. Hewan tingkat tinggi beradaptasi dengan cara banyak minum air, pengeluaran urin sedikit, dan pengeluaran air dengan cara osmosis melalui insang. Garam yang berlebihan diekskresikan melalui insang secara aktif.

2.      Pantai

Ekosistem pantai letaknya berbatasan dengan ekosistem darat, laut, dan daerah pasang surut. Ekosistem pantai dipengaruhi oleh siklus harian pasang surut laut. Organisme yang hidup di pantai memiliki adaptasi struktural sehingga dapat melekat erat di substrat keras. Daerah paling atas pantai hanya terendam saat pasang naik tinggi. Daerah ini dihuni oleh beberapa jenis ganggang, moluska, dan remis yang menjadi konsumsi bagi kepiting dan burung pantai.

Daerah tengah pantai terendam saat pasang tinggi dan pasang rendah. Daerah ini dihuni oleh ganggang, porifera, anemon laut, remis dan kerang, siput herbivora dan karnivora, kepiting, landak laut, bintang laut, dan ikan-ikan kecil. Daerah pantai terdalam terendam saat air pasang maupun surut. Daerah ini dihuni oleh beragam invertebrata dan ikan serta rumput laut.

3. Estuari

Estuari (muara) merupakan tempat bersatunya sungai dengan laut. Estuari sering dipagari oleh lempengan lumpur intertidal yang luas atau rawa garam.  Salinitas air berubah secara bertahap mulai dari daerah air tawar ke laut. Salinitas ini juga dipengaruhi oleh siklus harian dengan pasang surut aimya. Nutrien dari sungai memperkaya estuari.

Komunitas tumbuhan yang hidup di estuari antara lain rumput rawa garam, ganggang, dan fitoplankton. Komunitas hewannya antara lain berbagai cacing, kerang, kepiting, dan ikan. Bahkan ada beberapa invertebrata laut dan ikan laut yang menjadikan estuari sebagai tempat kawin atau bermigrasi untuk menuju habitat air tawar. Estuari juga merupakan tempat mencari makan bagi vertebrata semi air, yaitu unggas air.

4. Terumbu karang

Di laut tropis, pada daerah neritik, terdapat suatu komunitas yang khusus yang terdiri dari karang batu dan organisme-organisme lainnya. Komunitas ini disebut terumbu karang. Daerah komunitas ini masih dapat ditembus cahaya matahari sehingga fotosintesis dapat berlangsung. Terumbu karang didominasi oleh karang (koral) yang merupakan kelompok Cnidaria yang mensekresikan kalsium karbonat. Rangka dari kalsium karbonat ini bermacammacam bentuknya dan menyusun substrat tempat hidup karang lain dan ganggang.  Hewan-hewan yang hidup di karang memakan organisme mikroskopis dan sisa organik lain. Berbagai invertebrata, mikro organisme, dan ikan, hidup di antara karang dan ganggang. Herbivora seperti siput, landak laut, ikan, menjadi mangsa bagi gurita, bintang laut, dan ikan karnivora.

IV. Konsep Ekosistem

Masing – masing komponen ekosistem saling berhubungan satu sama lain, dalam hubungan antar komponen tersebut terjadi hubungan yang bersifat netral, ada yang bekerja sama, ada yang menyesuaikan diri, tetapi ada pula yang menguasai komponen lain, tetapi pada akhirnya alam menentukan adanya keserasian dan keseimbangan dalam interaksi antar komponen – komponen ekosistem tersebut (Dwijoseputro, 1994).

Menurut Ruslan H. Prawiro (1988) interaksi antar komponen ekosistem adalah sebagai berikut:

a.       Interaksi Simbiosis

Yaitu interaksi yang terjadi antar komponen, dimana kedua belah pihak tidak ada yang dirugikan. Salah satu atau keduanya memperoleh keuntungan. Interaksi simbiosa ini terdiri dari dua bentuk yaitu:

1.      Simbiosis mutualisme

Yaitu kedua komponen atau organisme saling mendapat keuntungan. Pertumbuhan dan survivalnya diuntungkan karenanya dan dalam keadaan wajar organisme tidak dapat lestari apabila terpisah dari partnernya.

2.      Simbiosis komensalisme

Yaitu hanya satu pihak saja yang diuntungkan, sedang yang lain tidak dirugikan. Termasuk disini tumbuhan epifit yang hidup pada tumbuhan lain, seperti anggrek, lumut pohon, dan sebagainya.

b.      Interaksi Antagonisme (Simbiosis Antagonisme)

Dalam bentuk ini terdapat sifat antibiosa, eksploitasi dan kompetisi.

1.      Antibiosa yaitu komponen atau organisme mengeluarkan bermacam-macam bahan dari hasil metabolismenya. Adakalanya ada bahan produksi khusus yang sangat antagonistik terhadap spesies lain. cendawan seringkali mengeluarkan bahan-bahan semacam itu, seperti peniciline, streptomycine, auromycine.

2.      Eksploitasi dilakukan organisme predator atau parasit. Predator menyerang makhluk lain untuk dikonsumsi. Termasuk golongan ini ialah pemakan makhluk lain, seperti sapi, harimau, dan manusia. Parasit relatif kecil dibanding makhluk lain yang dieksploitasi, hidupnya yang mengambil bahan makanan dari induk semangnya.

3.      Kompetisi atau persaingan ada dua macam, yaitu tipe persaingan yang langsung bertindak terhadap organisme lain dan tipe lain yang didorong untuk memenuhi kebutuhan sumber daya hidup, lebih – lebih apabila persediaan sumber daya kurang. Misalnya persaingan untuk memperoleh cahaya, air dan bahan makanan. Apabila kedua belah pihak sama sekali tidak saling mempengaruhi, maka mereka tidak menjalankan interaksi, mereka mengikuti netralisme.

KESIMPULAN

Masing – masing komponen ekosistem saling berhubungan satu sama lain, dalam hubungan antar komponen tersebut terjadi hubungan yang bersifat netral, ada yang bekerja sama, ada yang menyesuaikan diri, tetapi ada pula yang menguasai komponen lain, tetapi pada akhirnya alam menentukan adanya keserasian dan keseimbangan dalam interaksi antar komponen – komponen ekosistem tersebut.

Penyelesaian masalah pencemaran terdiri dari langkah pencegahan dan pengendalian. Beberapa upaya yang dapat dilakukan masyarakat berkaitan dengan pelestarian lingkungan hidup antara lain:

a.       Pelestarian tanah (tanah datar, lahan miring/perbukitan).

b.      Pelestarian udara.

c.       Pelestarian hutan.

d.      Pelestarian laut dan pantai.

e.       Pelestarian flora dan fauna.

DAFTAR PUSTAKA

Darsono, Valentinus. 1995. Pengantar Ilmu Lingkungan. Universitas Atmajaya Press. Yogyakarta.

Dwijoseputro, D. 1994. Ekologi Manusia dengan Lingkungannya. Erlangga. Jakarta.

M Harun, Husein. 1993. Lingkungan Hidup: Masalah, Pengelolaan dan Penegakan Hukumnya. Bumi Aksara. Jakarta.

Prawiro, Ruslan H. 1988. Ekologi Lingkungan Pencemaran. Satya Wacana. Jakarta.

Resosoedarmo S, Dkk. 1990. Pengantar Ekologi. Remaja Rosdakarya Offset. Bandung.

Soemarwoto, Otto. 2001. Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Djambatan. Jakarta.