Arsip Harian: Desember 12, 2009

SEKOLAH DAN PERANANNYA DALAM MEMBERANTAS RENDAHNYA KEMAMPUAN MATEMATIKA DAN SAINS SISWA

SEKOLAH DAN PERANANNYA DALAM MEMBERANTAS RENDAHNYA KEMAMPUAN

MATEMATIKA DAN SAINS SISWA

PERANAN DAN KEDUDUKAN SEKOLAH DALAM PENDIDIKAN

Ringkasan

Sungguh memprihatinkan jika kita berkaca kepada fenomena pendidikan di Indonesia. Kemampuan siswa pada bidang matematika dan sains masih jauh dari harapan. Menurut Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Departemen Pendidikan Nasional, Bahrul Hayat, Ph.D, selaku ketua Tim peneliti OECD PISA Indonesia mengatakan, penelitian dilakukan terhadap 7.355 siswa usia 15 tahun dari 290 SLTP/SMU/SMK se-Indonesia pada 2003 dan diketahui bahwa 70 persen siswa RI hanya mampu menguasai matematika dan sains sebatas memecahkan satu permasalahan sederhana (tahap-I), belum mampu menyelesaikan dua masalah (tahap-II), belum mampu menyelesaikan masalah kompleks (tahap-III) dan belum mampu menyelesaikan masalah rumit (tahap-IV). Dari kelemahan siswa Indonesia pada aspek inilah maka, perlunya peranan sekolah untuk memperbaiki kelemahan Indonesia pada bidang matematika dan sains.

Pendahuluan

Ilmu pendidikan khususnya matematika dan sains sebagai basic skill harusnya sudah dikuasai siswa untuk dapat bersaing di tingkat Internasional. Basic Skill ini harusnya menjadi pokok permasalahan dalam dunia pendidikan karena 70 persen siswa di Indonesia hanya bisa menyelesaikan masalah sederhana saja. Menurut hasil penelitian Tim Pusat Pengembangan Penataran Guru Matematika di beberapa Sekolah Dasar di Indonesia mengungkapkan bahwa kesulitan siswa dalam belajar matematika yang paling menonjol adalah keterampilan berhitung yaitu 51%, penguasaan konsep dasar yaitu 50%, dan penyelesaian soal pemecahan masalah 49%. Dari data tersebut dapat dikatakan kemampuan basic skill siswa di Indonesia masih rendah.

Dari hasil studi TIMSS tahun 2003 untuk siswa kelas VIII, menempatkan siswa Indonesia pada urutan ke-34 dari 46 dengan nilai rata-rata untuk kemampuan matematika secara umum adalah 411. Prestasi siswa Indonesia ini berada dibawah siswa Malaysia dan Singapura. Siswa malaysia memperoleh nilai rata-rata 508 dan Singapura memperoleh nilai rata-rata 605. Skala matematika TIMSS-Benchmark Internasional menunjukkan bahwa siswa Indonesia berada pada peringkat bawah, Malaysia pada peringkat tengah, dan Singapura berada pada peringkat atas. Padahal jam pelajaran matematika di Indonesia 169 jam untuk kelas VIII lebih banyak dibanding Malaysia 120 jam dan Singapura 112 jam. Ini dikarenakan Indonesia hanya menerapkan pada kemampuan dasar saja, namun hanya sedikit menerapkan matematika dalam konteks kehidupan sehari-hari.

Sebagai basic Skill matematika dan sains harus dikuasai siswa dari dini. Merupakan tanggung jawab sekolah dan semua pendidik untuk mengajari siswa basic skill secara maksimal dan kemampuan basic skill tidak hanya pada kemampuan dasar saja tapi juga penerapannya dikehidupan sehari-hari. Karena basic skill disini merupakan kunci pokok pendidikan dimana dengan penguasaan basic skill inilah maka kualitas danmutu pendidikan akan baik.

Isi

Sekolah sebagai suatu tempat dimana siswa menuntut ilmu seharusnya memberikan perhatian khusus pada siswanya dalam menimba ilmu. Fenomena yang sering terjadi di sekolah bahwa sekolah belum berhasil mendidik siswanya secara maksimal karena siswa disini hanya menjadi sebuah “boneka” yang hanya diam duduk manis mendengarkan guru yang seperti “tukang obat di pasar”. Hal inilah yang membuat kemampuan siswa Indonesia masih jauh dari yang diharapkan.

Dapat dikatakan juga sekolah disini merupakan salah satu jalur pendidikan. Jalur pendidikan disini merupakan suatu proses dari dasar menuju tingkat selanjutnya yang mana proses ini siswa dituntut untuk mempu mengikuti setiap apa yang tercantum dalam proses tersebut. Kedudukan sekolah dalam sistem pendidikan nasional di Indonesia merupakan salah satu jalur pendidikan yaitu jalur pendidikan formal. Menurut pasal 1 Ayat 11 UU SPN No. 20 Tahun 2003: Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.

Menurut pasal 1 ayat 1 UUSPN No. 20 tahun 2003 tujuan pendidikan adalah sebagai berikut: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Hal ini sangat bertentangan dengan fenomena yang terjadi sehingga murid tidak dapat mengembangkan potensinya bahkan lebih parahnya lagi murid kemampuannya tidak terasah sama sekali di sekolah sehingga mereka hanya sekedar masuk sekolah tanpa ada satu ilmupun yang dapat diserap.

  1. A. Fenomena Pendidikan di Indonesia

Suatu pertanyaan besar terhadap pendidikan di sekolah saat ini “apakah sekolah sudah benar mendidik siswanya?”. Memang pertanyaan yang sulit untuk dijawab karena apabila sekolah dianggap tidak mendidik siswanya kenyataannya sekolah sudah melakukan kegiatan belajar mengajar setiap hari tapi, jika dianggap sudah mendidik siswanya kenyataannya tidak ada hasil memuaskan yang merubah siswa baik dalam bidang akademik maupun non-akademik.

Menurut Admin Superadmin selama tiga dasawarsa terakhir dunia pendidikan Indonesia secara kuantitatif telah berkembang sangat cepat. Pada tahun 1965 jumlah sekolah dasar (SD) sebanyak 53.233 dengan jumlah murid dan guru sebesar 11.577.943 dan 274.545 telah meningkat pesat menjadi 150.921 SD dan 25.667.578 murid serta 1.158.004 guru. Jadi dalam waktu sekitar 30 tahun jumlah SD naik sekitar 300%. Perkembangan pendidikan seperti sepatutnya harus disyukuri. Namun, perkembangan pendidikan tersebut tidak diikuti dengan peningkatan kualitas dan mutu pendidikan sehingga muncul ketimpangan antara kualitas output pendidikan dan kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan serta ketimpangan kualitas pendidikan antar daerah.

Permasalahan yang paling fatal dalam dunia pendidikan adalah kesulitan siswa dalam mengembangkan ilmunya karena pengetahuan dalam pendidikan di Indonesia siswa hanya diajarkan dead knowledge, yakni pengetahuan yang bersifat text-book sehingga daya nalar siswa sangat rendah dan siswa tidak mampu mengembangkan ilmunya. Inilah yang membuat siswa hanya berputar-putar pada suatu lingkaran tanpa menemukan titik temu dan juga ini hanya akan memperburuk daya pikir siswa yang hanya berpatokan pada satu sumber saja.

Selain itu permasalahan lain dalam dunia pendidikan dimana pendidikan hanya menjadi suatu simbol sosial. Dimana orang yang menempuh jalur pendidikan disini dipandang sebagai orang yang mempunyai status sosial tinggi sementara orang yang tidak menempuh jalur pendidikan dianggap sebagai “sampah” yang tidak ada harganya sama sekali.

Berbagai macam upaya sudah dilakukan untuk meningkatkan kalitas pendidkan di Indonesia. Tapi mengapa upaya itu hanya seperti “angin lalu” tanpa ada hasil yang nyata?. Sesungguhnya bukan pada bentuk pembaharuannya yang menyebabkan sering terjadi kegagalan tetapi kegagalan tersebut dikarenakan ketergantungan penentu kebijakan pendidikan yang menggantungkan kepada harapan yang tidak mungkin bisa dicapai.

  1. B. Rendahnya Kemampuan Matematika dan Sains sebagai Basic Skill Siswa

Basic skills adalah kemampuan atau kompetensi dasar yang harus dimiliki seorang siswa, yaitu matematika, kimia, fisika dan biologi untuk bisa mengembangkan kemampuan di bidang yang ia terjuni. Memang kelemahan yang sangat fatal siswa Indonesia tidak dapat menguasai basic skill yang seharusnya sudah mulai dikuasai sedari dini. Sebagai pelajaran yang menjadi momok bagi siswa memang matematika dan sains merupakan pelajaran yang mampu membuat kepala pusing, tapi bukan itu permasalahannya ini dikarenakan kurang maksimalnya sekolah memberikan pengajaran pelajaran matematika dan sains kepada siswa sehingga siswa mencap pelajaran ini sebagai pelajaran yang membosankan.

Disamping kurang maksimal pengajaran terhadap matematika dan sains ini juga dikarenakan guru hanya berputar-putar pada teori saja tanpa menerapkan dalam konteks sehari-hari. Padahal jam pelajaran matematika di Indonesia 169 jam untuk kelas VIII lebih banyak dibanding Malaysia 120 jam dan Singapura 112 jam. Oleh karena itu, kita patut malu kepada negara tetangga yang mampu memaksimalkan proses pengajarannya. Indonesia pada bidang matematika dan sains berada di urutan terbawah seharusnya patut malu kepada Malaysia yang berada diurutan tengah dan Singapura pada urutan atas. Sungguh menyedihkan kita membuang banyak waktu dalam pelajaran matematika dan sains tanpa memperoleh hasil sama sekali. Penerapan teori yang membosankanlah yang sering memicu kemalasan siswa dalam mengikuti pelajaran ini dan juga tidak mampunya pendidik menerapkannya pada konteks sehari-harilah yang juga memicu kejenuhan siswa sehingga siswa sulit menangkap pelajaran yang diajarkan.

Pada aspek utama inilah siswa kita lemah. Sehingga kelemahan kita juga akan berdampak terhadap sumber daya manusia yang dihasilkan Tak mengherankan kalau sumber daya manusia Indonesia tak memiliki nyali bersaing di pasar kerja mancanegara.

  1. C. Peran Sekolah Terhadap Peningkatan Kemampuan Matematika dan Sains Siswa

Dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna. Dan bahwasanya Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu)”(QS An-Najm :  39-42). Dari sepenggal ayat dari surat An-Najm kita dapat mengambil pelajaran bahwasanya kita harus senantiasa berusaha untuk bisa mencapai hasil yang maksimal. Bangsa Indonesia memang harus berusa untuk dapat memajukan pendidikannya yang memprihatinkan. Seharusnya kita sadar apabila kita hanya  diam saja tanpa melakukan suatu usaha meningkatkan pendidikan di Indonesia maka kita hanya akan memperoleh nol besar.

Kendala yang sering terjadi dalam pembelajaran matematika dan sains siswa di sekolah, diantaranya

1. Penguasaan konsep dasar matematika dan sains siswa masih rendah.

2. Kemampuan siswa dalam pemecahan masalah masalah matematika dan sains masih rendah.

3. Kemampuan komunikasi matematika dan sains siswa siswa masih rendah.

4. Dalam pembelajaran matematika dan sains siswa cenderung pasif

5. Pembelajaran matematika dan sains masih berpusat pada guru.

6. Guru cenderung memilih metode pembelajaran konvensional dalam pembelajaran  matematika dan sains.

Lalu bagaimana seharusnya peran sekolah untuk memajukan pendidikan di Indonesia khususnya kemampuan dasar (Basic Skill) siswa yang meliputi matematika dan sains dengan kendala-kendala diatas?. Harusnya sekolah mengembangkan kemampuan  TLC (think, learn and create). Think menekankan pada pengembangan critical thinking. Learn menekankan pada kemampuan untuk bisa secara terus menerus dan mandiri menguasai dan mengolah informasi. Create menekankan pada pengembangan kemampuan untuk dapat memecahkan berbagai macam problem yang berbeda-beda.

Selain penerapan kemampuan TLC  profesionalisme guru sebagai pendidik juga harus ditingkatkan. Profesionalisme menekankan kepada penguasaan ilmu pengetahuan atau kemampuan manajemen beserta strategi penerapannya. Maister (1997) mengemukakan bahwa profesionalisme  bukan sekedar pengetahuan teknologi dan manajemen tetapi lebih merupakan sikap , pengembangan profesionalisme lebih dari seorang teknisi bukan hanya memiliki keterampilan yang tinggi tetapi memiliki suatu tingkah laku yang dipersyaratkan.

Menurut Dahrin (2000) profesionalisme guru dan tenaga kependidikan masih belum memadai utamanya dalam hal bidang keilmuannya. Misalnya guru biologi dapat mengajar kimia dan fisika. Ataupun guru IPS dapat mengajar bahasa Indonesia. Memang jumlah tenaga kerja pendidik secara kuantitatif sudah cukup banyak, tetapi mutu dan profesionalisme belum sesuai dengan harapan. Banyak diantaranya yang tidak berkualitas menyampaikan materi yang keliru sehingga mereka tidak atau kurang mampu menyajikan dan menyelenggarakan pendidikan yang benar-benar berkualitas.

Untuk memenuhi standart pofesionalisme Stiles dan Horsley (1998) dan NRC (1996) bahwa ada empat standar pengembangan profesi guru, yaitu :

  1. Standar pengembangan profesi A adadalah pengembangan profesi untuk para guru sains memerlukan pembelajaran isi sains yang diperlukan melalui perspektif-perspektif dan metode-metode inquiri. Para guru dalam sketsa ini melalui proses observasi fenomena alam, membuat penjelasan dan menguji penjelasan tersebut berdasarkan fenomena alam.
  2. Standar pengembangan profesi B adalah pengembangan profesi untuk guru sains memerlukan pengintegrasian pengetahuan sains, pembelajaran, pendidikan, dan siswa juga menerapkan pengetahuan tersebut kepengajaran sains. Pada guru yang efektif tidak hanya tahu sains namun mereka juga tahu bagaimana mengajarkannya. Guru yang efektif dapat memahami bagaimana siswa mempelajari konsep-konsep yang penting, konsep-konsep apa yang mampu dipahami siswa pada tahap-tahap pengembangan, profesi yang berbeda, dan pengalaman, contoh dan representasi apa yang membantu siswa belajar.
  3. Standar pengembangan profesi C adalah pengembangan profesi untuk para guru sains memerlukan pembentukan pemahaman dan kemampuan untuk pmbelajaran sepanjang masa. Guru yang baik biasanya tahu bahwa dengan memilih profesi guru, mereka telah berkomitmen untuk belajar sepanjang masa. Pengetahuan baru selalu dihasilkan  sehingga guru berkesempatan terus belajar.
  4. Standar pengembangan profesi D adalah program-program profesi untuk guru sains harus koheren (berkaitan) dan terpadu. Standar ini dimaksudkan untuk menangkal kecenderungan kesempatan-kesempatan pengembangan profesi terfragmentasi dan tidak berkelanjutan.

Arifin (2000) mengemukakan guru Indonesia yang profesional dipersyaratkan mempunyai :

  1. dasar ilmu yang kuat sebagai pengejawantahan terhadap masyarakat  teknologi dan ilmu pengetahuan di abad 21
  2. penguasaan kiat-kiat profesi berdasarkan riset dan praksis bukan hanya merupakan konsep-konsep belaka
  3. pengembangan kemampuan profesional berkesinambungan

Dengan persyaratan profesionalisme guru ini, perlu adanya paradigma baru untuk melahirkan profil guru Indonesia yang profesional di abad 21, yaitu :

  1. memiliki kepribadian yang matang dan berkembang
  2. penguasaan ilmu ynag kuat
  3. kemampuan untuk membangkitkan peserta didik kepada sains dan teknologi
  4. pengembangan profesi secara berkesinambungan

Soewondo mengatakan bahwa guru harus memiliki multi fungsi, yaitu sebagai fasilitator, motivator, informator, komunikator, transformator, change agent, inovator, konselor, evaluator dan administrator.

Apabila syarat-syarat untuk mewujudkan perubahan pendidikan Indonesia maka tidak akan lagi daya saing siswa di Indonesia berada di papan bawah tetapi berada pada tingkat yang lebih tinggi. Demikian pula dengan kemampuan matematika serta sains siswa dapat dipastikan akan lebih berkembang dari pada kondisi sebelumnya.

  1. D. Implementasi CBSA dari Sekolah Dasar

Di sekolah-sekolah dasar sebaiknya menerapkan metode mengajar cara belajar siswa aktif yang dikenal dengan istilah CBSA, sebagai kebalikan dari cara mengajar CMGA (cara mengajar guru aktif). Kalau dikaji CBSA merupakan suatu paradigma baru dimana murid dalam metode ini tidak dianggap sebagai objek tapi murid disini merupakan subjek pendidikan.

Pada metode CBSA tidak ada lagi murid yang hanya diam mendengar penjelasan guru. Murid disini berperan secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar dimana guru berperan sebagai fasilitator. Apa yang dikemukakan guru masih bersifat teori. Murid disinilah yang akan menguji dari teori yang guru sampaikan. Guru juga tidak hanya terpancang pada materi yang ada pada kurikulum, tapi guru akan aktif mengaitkan kurikulum dengan lingkungan fisik maupun sosial.

Tapi apakah bisa metode ini diterapkan di Indonesia?.”…..sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS Ar-Ra’du :11). Dengan sepenggal ayat diatas kita bisa mengambil pelajaran bahwa kita harus berani mengubah keadaan kita sekarang. Memang tidak gampang menggunakan metode CBSA  karena diperlukannya perubahan total. Khusus, di pihak guru dituntut memiliki dedikasi yang lebih tinggi, usaha yang lebih keras, ikhlas dan tekun. Karena pada metode CBSA guru dituntut harus lebih aktif, khususnya dalam menyiapkan bahan pelajaran, merencanakan proses yang akan dilaksanakan, menyiapkan evaluasi dan tindak lanjut. Memang sulit tapi seperti ayat diatas Allah tidak akan mengubah keadaan kita apabila kita tidak mengubah keadaan kita sendiri. Dengan keberhasilan kita menerapkan CBSA makan itu merupakan jembatan menuju revolusi ilmu keguruan.

  1. E. Menghapus Kebodohan Siswa

Bagaimana menghapus kebodohan siswa Indonesia yang sudah terbiasa dengan lingkaran hitam kebodohannya. Apabila kita hanya berbicara teori tanpa menerapkan teori tersebut merupakan hal yang mustahil bagi kita untuk mengubah keterpurukan negara ini. Indonesia harusnya malu kepada negara lain karena kita merupakan salah satu negara besar di kawasan Asia tapi kita hanyalah bagaikan seonggok “sampah” besar yang hanya membuat tong sampah penuh dengan kebodohan negeri ini.

Salah satu yang mencirikan kebodohan bangsa ini adalah tidak mampunya kita menerapkan teori dalam kehidupan sehari-hari kita hanya bisa berteori tentang memberantas kebodohan. Tapi apa? Kita hanya mampu berbicara tanpa melakukan hal kita ungkapkan.

Lalu bagaimana seharusnya sikap bangsa ini untuk dapat merubah kehidupannya?. Jawabannya hanya satu “kerjakanlah apa yang dikatakan” kita lemah dalam hal ini. Jikalau seluruh masyarakat negara ini mampu menerapkan semua teori-teori maka kita tidak mustahil akan menjadi negara yang maju. Hanya satu permasalahan pada negara ini yaitu penyakit “malas” yang membuat negara ini hanya menghitung hari menuju kehancurannya apabila tidak segera menerapkan perubahan kepada pilar-pilarnya yang mulai rapuh.

Musa berkata kepada Khidir. ‘Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang diajarkan kepadamu?”(QS Al- Mujaadilah :11). Betapa besarnya keinginan Nabi Musa untuk belajar ilmu kepada Nabi Khidir. Kita sebagai bangsa Indonesia harusnya mengikuti beliau untuk selalu mengejar ilmu kita jangan hanya bermalas-malasan. Kegigihan kita mencari ilmu akan memberikan kita hasil yang tidan akan membuat kita rugi. Carilah ilmu sampai keliang kubur agar kita tidak menjadi masyarakat yang bodoh tetapi menjadi masyarakat yang mampu memberantas kebodohan itu.

Kebodohan penyakit yang menggerogoti bangsa ini pasti bisa dihilangkan apabila kita sebagai masyarakat mampu mengubah pola pikir kita. Karena hidup tidaknya suatu pohon tergantung pada akarnya. Dimana masyarakat sebagai akar dari bangsa ini harus mampu merubah kondisi bangsa Indonesia.

  1. F. Siswa Mampu Mengembangkan Matematika dan Sains serta IMTAQ Merupakan Paradigma Pendidikan Masa Depan

Hakikat pendidikan yang demokratis adalah pemerdekaan. Tujuan pendidikan dalam suatu negara  yang demokratis adalah membebaskan anak bangsa dari kebodohan, kemiskinan dan berbagai perbudakan lainnya.

Selain itu, manusia merdeka sebagai hasil dari pendidikan demokratis juga harus matang secara etis. Manusia merdeka dan demokrasi hasil pendidikan nasional perlu tampil sebagai pribadi yang memiliki integritas pribadi yang unggul, berbakti kepada masyarakat serta mempunyai iman dan taqwa kepada Allah.

Bagi negara pendidikan adalah salah satu tugas yang terpenting, karena pendidikan merupakan suatu kebutuhan pokok manusia yang istimewa. Pendidikan merupakan hak pribadi manusia yang berakar dalam aneka kebutuhan pokok manusia sebab manusia tidak bisa mengembangkan hidupnya tanpa pendidikan. Tanpa pendidikan manusia akan tetap kerdil, tergilas seleksi alam dan mati dalam kebodohan. Kini kemajuan negara diukur dengan makin  murahnya pendidikan yang bermutu sehingga tidak menjadi beban bagi warganya. Di Indonesia pendidika masih merupkan beban berat tapi dengan adanya berbagai upaya yang dilakukan diharapkan pendidikan di Indonesia mampu besaing dengan negara-negara lain karena sekarang bantuan pemerintah untuk pendidikan sudah banyak sehingga pendidikan di Indonesia sudah dapat dijangkau oleh masyarakat kalangan menengah kebawah.

Waras Kamdi (2004) menambahkan bahwa ada sekurang-kurangnya tiga ranah perubahan mendasar pada paradigma baru pendidikan nasional, yaitu :

  1. Perubahan visi kurikulum, dari visi kurikulum efisiensi sosial ke kurikulum yang fleksibel dan egaliter, atau dalam sebutan lain dari kurikulum yang berwatak industrial-kapitalistik ke demokrasi. Wujud nyatanya adalah KBK. Dengan demikian, apa yang dikerjakan lembaga pendidikan sebagai instrumen produksi menjadi terfokus dan efisien.

Kurikulum yang fleksibel dan egaliter lebih sebagai strategi untuk  membelajarkan orang, mengembangkan potensi individu. Karakteristik utamanya adalah membuat siswa dapat belajar, subject-matter ditujukan pada pencapaian berfikir tingkat tinggi (analisis, sintesis dan evaluasi) dan kecakapan pemecahan masalah, memberikan kesempatan yang sama pada siswa yang beragam, mendidik anak ke dalam wacana  dan praktik disiplin akademik, otentik dalam hubungan antara belajar di dalam dan luar sekolah, pengembangan watak yang penting dan kebiasaan berpikir produktif dan mendorong tumbuhnya praktik  demokratik di masyarakat.

  1. Perubahan pada ranah pembelajaran. Praktik pembelajaran yang kini didominasi teori belajar asosiasi dan behavioristik akan digeser teori belajar kognitif dan konstruktivistik. Praktik pembelajaran yang berbasis teori asosiasi dan behavioristik ditandai : konsepsi bahwa pikiran terbentuk oleh asosiasi stimulus-respons, belajar merupakan akumulasi butiran atomistik pengetahuan, belajar melalui urutan yang ketat setiap tujuan pembelajaran dinyatakan secara eksplisit, test-teach-test sebagai pola umum jaminan belajar, tes isomorfis dengan belajar dan motivasi didasarkan reinforcement positif tiap tahapan belajar

Dengan paradigma baru, praktik pembelajaran seperti itu  akan digeser oleh pembelajaran yang lebih bertumpu pada teori kognitif dan konstruktivistik. Pembelajaran akan berfokus pada pengembangan kemampuan intelektual yang berlangsung secara sosial kultural, mendorong siswa membangun pemahaman dan pengetahuannya sendiri dalam konteks sosial, dan belajar dimulai dari pengetahuan awal dan perspektif budaya. Tugas belajar didesain menantang dan menarik untuk mencapai derajat berpikir lebih tinggi, dalam hal ini proses dipandang sama penting dengan hasil belajar dan berpikir cerdas dikonsepsikan mencakup “metakognisi” atau kemampuan memonitor belajar dan berpikir sendiri.

  1. Perubahan strategi dan fungsi penilaian. Pengukuran yang eksak dan berstandar pada presisi dengan teknik tes (objektif) terstandar isomorfis serta perannya sebagai alat untuk menghakimi siswa mengakar kuat pada tradisi pendidikan kita kini.

Dengan adanya paradigma baru maka akan diharapkan akan terciptanya siswa Indonesia yang bisa memahami Basic Skill dan juga beriman dan bertaqwa kepada Allah.

Kesimpulan

Jadi, kesimpulan dari uraian diatas adalah :

  1. Matematika dan sains sebagai basic skill harus dikuasai siswa sejak dini karena matematika dan sains merupakan kunci pokok dari pengetahuan yang menjadi tolak ukur bisa atau tidaknya siswa bersaing di tingkat internasional
  2. Sebagai kemampuan dasar maka matematika dan sains harus diajarkan sekolah dengan maksimal sekalipun matematika dan sains dianggap sebagai momok . Sekolah dapat menggunakan metode CBSA, dan juga meningkatkan keprofesionalan guru.
  3. Masa depan Indonesia diharapkan siswa dapat memahami matematika dan sains sebagai basic skill.

Daftar Pustaka

Anonymous. 2004. Kemampuan Matematika dan Sains Siswa Masih berada di Tingkat Bawah. Kompas : 22 Desember 2004

Anonymous. 2000. Mengejar “Si Kemampuan Dasar”.Kompas : 25 Februari 2000

Anonymous . 2003 . Rendah, Kemampuan Baca, Matematika dan IPA Siswa SLTP. Kompas : 1 Juli 2003

Anonymous. 2008. Ujian Sebentar Lagi Ujian !. Crew Bahasa Indonesia. Amne : 11 April 2008

Irzal, Melly. 2008. Proposal Mengembangkan Kemampuan Komunikasi dan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Madrasah Ibtidaiyah Melalui Strategi Think-Thalk-Write Berbasis Modul. http:// mellyirzal .blogspot.com/ 2008/12/mengembangkan-kemampuan-komunikasi-dan.html. diakses 12 Desember 2008

Susilo, M. Joko. 2007. Pembodohan Siswa Tersistematis. Pinus ; Yogyakarta

PENGGUNAAN VETSIN (Monosodium glutamat) DI MASYARAKAT

A. Latar Belakang Masalah

Penyedap rasa atau yang lebih kita kenal dengan vetsin (Monosodium Glutamat) sangat berbahaya bagi tubuh karena dapat menyebabkan hipertensi dan kanker. Memang tidak dipungkiri, kelezatan suatu hidangan dapat menambah gairah santap. Berbagai carapun dilakukan untuk menghasilkannya. Salah satu dengan menambahkan sedikit bahan penyedap rasa instan. Penyedap rasa instan ini mudah didapat, harganyapun murah. Sehingga sering membuat kita lupa, ada zat apa di balik penyedap makanan tersebut?

Sehubungan dengan heboh tercemarnya zat penyedap masakan Ajinomoto oleh enzim asal babi, maka Departemen Kesdehatan c.q Dirjen POM telah memerintahkan perusahaan tersebut untuk menarik semua produk dari peredaran. Alangkah baiknya kalau sekarang Departemen Kesehatan juga mau meninjau kembali apakah Monosodium Glutamat (MSG) /Vetsin yang kadarnya 100% yang dijual secara bebas itu betul betul aman untuk dikonsumsi dan tidak membahayakan terhadap kesehatan. Karena MSG/Vetsin itu mengandung natrium/sodium, jika terlalu banyak termakan bisa menyebabkan

hipertensi dan sebaliknya jika MSG dipanaskan akan pecah menjadi 2 zat baru yakni Glutamic Pyrolised -1 (Glu-P-1) dan Glu-P-2. Kedua zat ini bersifat mutagenik dan karsinogenik.

Di Amerika Serikat makanan siap saji untuk bayi dilarang dibubuhi MSG/Vetsin dan pada label harus dicantumkan 3 kata yang besar dan tebal yakni”:NO MSG ADDED”. (Tidak dibubuhi MSG). Apa artinya ini?  Karena hasil penelitian menunjukkan bahwa makin muda umur hewan yang dipakai untuk percobaan MSG makin peka terjadi kerusakan di bagian jaringan otaknya. Jadi sifat keracunan MSG adalah Age Dependent  (tergantung umur); makin muda umurnya makin sensitif.

B. Rumusan Masalah

Dalam Pembahasan disini terdapat beberapa permasalahan, diantaranya :

–    Apa vetsin (Monosodium Glutamat) itu?

–    Apa bahayanya bagi tubuh ?

–    Bagaimanakah penggunaan vetsin di masyarakat ?

–    Bagaimana solusi pengurangan konsumsi vetsin di masyarakat ?

C. Tujuan

Tujuan pembahasan ini, antara lain :

–    Untuk mengetahui Monosodium Glutamat

–    Untuk mengetahui bahayanya bagi tubuh

–    Untuk mengetahui penggunaan vetsin di masyarakat

–    Untuk mengetahui solusi pengurangan konsumsi vetsin di masyarakat

D. Tinjauan Pustaka

Pengertian Vetsin (Monosodium Glutamat)

Monosodium Glutamate adalah zat penambah rasa pada makanan yang dibuat dari hasil fermentasi zat tepung dan tetes dari gula beet atau gula tebu. Ketika MSG ditambahkan pada makanan, dia memberikan fungsi yang sama seperti Glutamate yaitu memberikan rasa sedap pada makanan. MSG sendiri terdiri dari air, sodium dan Glutamate.

Monosodium glutamat dikenal masyarakat sebagai bumbu masak penting. Fungsinya adalah sebagai penyedap. Ia lebih dikenal dengan nama vetsin, micin, atau mononatrium glutamat. Secara kimiawi MSG adalah garam natrium dari asam glutamat. Satu ion hidrogen (dari gugus —OH yang berikatan dengan atom C-alfa, lihat asam amino) digantikan oleh ion natrium.

Bahaya MSG

Jika MSG digunakan secara berlebihan. 12 gram MSG per hari dapat menimbulkan gangguan lambung, gangguan tidur dan mual-mual. Bahkan beberapa orang ada yang mengalami reaksi alergi berupa gatal, mual dan panas. Tidak hanya itu saja MSG juga dapat memicu hipertensi, asma, kanker serta diabetes, kelumpuhan serta penurunan kecerdasan.

E. Pembahasan

Penggunaan MSG dalam Masyarakat

Sebelum tahun 60-an MSG/Vetsin biasanya digunakan oleh  golongan masyarakat tertentu saja seperti di Cina, Jepang, Korea, Thailand, Vietnam dan Myanmar, baik oleh para ibu rumah tangga maupun di rumah makan. Takarannya pun sangat kecil sekali, yakni 1-2 korek kuping (setara dengan 30-60 Mg) untuk setiap porsi masakan ala Cina,  mie atau bakso. Pangsit. Makanan tradisional dan lokal asli tidak menggunakan sama sekali, karena sudah terasa lezat dan gurih oleh ramuan bumbu rempah. Namun pada pertengahan tahun 60-an, produk MSG/Vetsin diimport dari Jepang dan Korea, serta secara gencar diiklankan baik melalui media cetak, radio dan televisi, serta dengan papan reklame yang besar besar dan dipampang di tempat tempat dan jalan jalan yang strategis baik di kota maupun di desa. Disamping harganya murah, juga terbukti bahwa ia dapat meningkatkan rasa cita makanan yang kualitasnya rendah menjadi sajian yang lezat dan enak disantap. Sekarang disamping golongan Cina, hampir semua golongan penduduk  diseluruh Indonesia bukan saja yang di kota, tetapi juga yang di desa sudah mengenalnya dan cara memakainya pun sangat berlebihan dan tidak wajar. Karena pada kemasan produk  itu tidak disertai alat takar dan juga pedoman takaran cara pakainya tidak ada, maka bubuk ini dipakai secara amburadul dan melampaui batas kewajaran. Contoh, kalau sebelum tahun 60-an dipakai takaran korek kuping, maka setelah diimport dari Jepang dan Korea, karena harganya murah, maka untuk setiap mangkok mie atau sop naik menjadi 100-300 Mg (jadi 3-5 kali korek kuping). Takaran ini tidak tahan lama dan terus meningkat menjadi 500-1200 Mg (jadi sekitar 15-20 kali korek kuping). Pada tahun 70-an karena harga MSG relatif murah, maka tiba tiba para pedagang tidak lagi segan segan menggunakan sendok teh (setara 3000 Mg, kira kira  100 kali korek kuping), bahkan ada yang  menuangkan langsung dari ujung kantong yang sudah digunting. Cara yang akhir ini sering kali menjadi keblablasan ,sehingga jumlahnya bisa lebih dari 1 sendok teh ( ingat sebelum tahun 60-an hanya memakai 2 korek kuping.

Dari hasil survei  Yayasan Lembaga  Konsumen Indonesia (YLKI) pada tahun 1980 menemukan bahwa para pedagang mie bakso, mie pangsit dan mie rebus di Jakarta adalah sebagai berikut:

Mie bakso                            1.840-1.900 Mg/mangkok (+ 31-61 X KK)

Mie rebus                             2,250-2,780 Mg/mangkok (+ 46-75  X KK)

Mie goreng/pangsit              2,900-3,400 Mg/mangkok (+ 56-96 X KK)

(KK= Korek kuping)

Jajanan – jajanan tersebut di atas (mie bakso) serta ditambah lagi seperti Pempek “palsu” (karena adonan ikan-tepungnya relatif lebih banyak kandungan MSG daripada daging ikannya), adonan tepung untuk  pisang, tahu dan tempe goreng berisi MSG, Nyamik nyamik (Ekstruder makanan ringan anak anak) berisi MSG dijajakan kepada anak anak di sekitar sekolah sekolah TK dan SD yang memang cukup rentan terhadap keracunan MSG dibandingan orang dewasa. Sekarang penggunaan MSG/Vetsin  bukan main “ganasnya”, karena bukan lagi menggunakan sendok teh, tetapi pakai sendok makan. Hal ini sering dijumpai di restoran besar dan sea foods. Satu sendok makan setara dengan 15 gram MSG/Vetsin ( +  250 kali korek kuping !) dan kadar natrium /sodium 15 gram MSG setara dengan 5 gram garam dapur! Penggunaan yang berlebihan MSG/Vetsin oleh para  pedagang atau juru masak karena secara psikologis tidak percaya diri kalau masakan yang disajikan itu lezat dan enak. Padahal penambahan 60 Mg per mangkok (2 X korek kuping )  gurihnya dan lezatnya sama dengan yang diberi 1 sendok teh atau makan.

Solusi

Beberapa solusi mengurangi penggunaan MSG di masyarakat adalah dengan menggunakan bahan yang masih segar dan bernutu baik. Sebenarnya kelezatan suatu hidangan tidak hanya diperoleh dari bahan penyedap rasa saja, tetapi dapat juga diperoleh dari bahan-bahan makanan yang masih segar dan bermutu baik. Selain menngunakan bahan makanan yang bermutu baik dan masih segar, kita dapat memberi sedikit gula pasir pada masakan, karena gula pasir juga dapat memberi efek gurih pada masakan.

Selain itu kita bisa menggunakan Aji-Shio yaitu penggabungan vetsin dengan garam dapur dengan perbandingan vetsin : garam dapur, yaitu 1 : 9. dimana dengan menggunakan Aji-Shio disini kita bisa meminimalkan penggunaan vetsin di masyarakat.

  1. F. Kesimpulan

Setelah melakukan pembahasan kami menyimpulkan :

–    Monosodium Glutamate adalah zat penambah rasa pada makanan yang dibuat dari hasil fermentasi zat tepung dan tetes dari gula beet atau gula tebu

–    MSG dapat menimbulkan gangguan lambung, gangguan tidur dan mual-mual. Bahkan beberapa orang ada yang mengalami reaksi alergi berupa gatal, mual dan panas. Tidak hanya itu saja MSG juga dapat memicu hipertensi, asma, kanker serta diabetes, kelumpuhan serta penurunan kecerdasan

–    Penggunaan MSG di masyarakat sudah melebihi ketentuan karena kadarnya sudah melebihi  30-60 Mg dan hal ini dapat menyebabkan terjadinya hipertensi pada masyarakat.

–    Solusi mengurangi penggunaan MSG di masyarakat adalah dengan menggunakan bahan yang masih segar dan bernutu baik, memberi sedikit gula pasir pada masakan atau menggunakan Aji-Shio

G. Daftar Pustaka

Anonymous.Monosodium Glutamat. http:// www. Hanyawanita. com /clickwok/     health/ health 01. htm.diakses  21 Desember 2008

Anonymous.Monosodium Glutamat. Http:// id.wikipedia.org/Monosodium Glutamat. Diakses 21   Desember 2008

Bagad, Sudjadi. 2005.Biologi Sains dalam Kehidupan. Yudhistira ; Jakarta

Budiarso,Iwan T.,DR. DVM,.M.Sc. APU. Monosodium Glutamat dan Pemakaiannya di  masyarakat. http://www.medikaholistik.com. Diakses 22 Desember 2008

Syukri, S. 1999. Kimia Dasar. Erlangga ; Jakarta

SEJARAH PERKEMBANGAN MIKROBIOLOGI

SEJARAH PERKEMBANGAN MIKROBIOLOGI


PERSETERUAN ANTAR TEORI DAN

PERKEMBANGAN MIKROBIOLOGI DARI MASA KE MASA


Ringkasan

Sejarah perkembangan mikrobiologi sebelum ilmu pengetahuan dapat dibagi menjadi empat periode. Periode pertama, dimulai dengan terbukanya rahasia suatu dunia mikroorganisme melalui pengamatan Leeuwenhoek pada tahun 1675. Hal ini menimbulkan rasa ingin tahu di kalangan para ilmuwan mengenai asalmula kehidupan. Namun baru kurang lebih pada pertengahan tahun 1860an, ketika teori generatio spontanea dibuktikan ketidakbenarannya dan prinsip biogenesis diterima, pengetahuan mengenai mikroorganisme tidak lagi bersifat spekulatif semata-mata. Selama periode berikutnya antara tahun 1860 dan tahun 1900, banyak dilakukan penemuan dasar yang penting. Perkembangan teori nutfah panyakit dalam tahun1876, hal ini secara tiba-tiba menimbulkan minat terhadap prosedur laboratoris untuk mengisolasi dan mencirikan mikroorganisme. Didalam periode ini ditemukan banyak mikroorganisme penyebab penyakit serta metode-metode untuk mencegah dan mendiagnosis serta mengobati penyakit-penyakit tersebut. Penemuan-penemuan di bidang mikrobiologi kedokteran membawa perombakan yang besar dan cepat di dalam praktik kedokteran. Periode terakhir tahun 1910-sekarang ditandai dengan dipergunakannya banyak metode dan peralatan mutakhir, seperti mikroskop elektron dan komputer.

Pendahuluan

Mikrobiologi adalah ilmu yang mempelajari organisme hidup yang berukuran sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang melainkan dengan bantuan mikroskop. Organisme yang sangat kecil ini disebut sebagai mikroorganisme, atau kadang-kadang disebut sebagai mikroba, ataupun jasad renik (Anonymous. 2008).

Mikroorganisme yang bermanfaat antara lain: yang menghuni tubuh (flora normal), beberapa mikroorganisme yang terlibat dalam proses fermentasi makanan: pembuatan keju, anggur, yoghurt, tempe/oncom, kecap, dll, produksi penisilin, sebagai agen biokontrol, serta yang berkaitan dengan proses pengolahan limbah. Mikroorganisma tidak dapat dipisahkan dengan lingkungan biotic maupun lingkungan abiotik dari suatu ekosistem karena berperan sebagai pengurai. Oleh karena itu organisme yang hidup di dalam tanah berperan aktif dalam proses-proses pembusukan, humifikasi dan mineralisasi. Ada juga mikroorganisme tertentu yang dapat mengikat zat lemas (N) dari udara bebas sehungga dapat menyuburkan tanah.

Dalam sejarah kehidupan, mikroorganisme telah banyak sekali memberikan peran sebagai bukti keberadaannya. Mulai dari pembentukan minyak bumi di dasar-dasar samudra sampai proses pembuatan tempe, semuanya merupakan ‘pekerjaan’ mikroorganisme. Bukan Cuma itu, sekarang mikroorganisme telah digunakan dalam pembuatan antibiotika, berbagai bahan makanan, sampai pada teknik rekayasa genetika modern. Begitu banyak dan dominannya peranan mikroorganisme dalam kehidupan ini menjadi salah satu unsur dalam cakupan mikrobiologi (Ali, Iqbal. 2008).

Mikroorganisme yang merugikan, antara lain yang sering menyebabkan berbagai penyakit (hewan, tumbuhan, manusia), diantaranya: flu burung dan flu babi yang akhir-akhir ini menggemparkan dunia termasuk Indonesia, yang disebabkan oleh salah satu jenis mikroorganisme yaitu virus. Selain itu, juga terdapat beberapa jenis mikroorganisme yang dapat menyebabkan pencemaran lingkungan.

Isi

  1. A. Pengertian Mikrobiologi dan Perkembangannya

Mikrobiologi adalah sebuah cabang dari ilmu biologi yang mempelajari mikroorganisme. Objek kajiannya biasanya adalah semua makhluk (hidup) yang perlu dilihat dengan mikroskop, khususnya bakteri, fungi, alga mikroskopik, protozoa, dan Archaea (Anonymous.2009). Virus sering juga dimasukkan walaupun sebenarnya ia tidak sepenuhnya dapat dianggap sebagai makhluk hidup. Mikrobiologi berasal dari bahasa Yunani, micros = kecil, bios = hidup dan logos = ilmu. Ilmuwan menyimpulkan bahwa mikroorganisme sudah dikenal lebih kurang 4 juta tahun yang lalu dari senyawa organik kompleks yang terdapat di laut, atau mungkin dari gumpalan awan yang sangat besar yang mengelilingi bumi. Sebagai makhluk hidup pertama di bumi, mikroorganisme diduga merupakan nenek moyang dari semua makhluk hidup.

Beberapa aspek yang dibahas dalam mikrobiologi, antara lain mengkaji tentang:

1         karakteristik sel hidup dan bagaimana mereka melakukan kegiatan

2         karakteristik mikroorganisme, suatu kelompok organisme penting yang mampu hidup bebas, khususnya bakteri.

3         keanekaragaman dan evolusi, membahas perihal bagaimana dan mengapa muncul macam-macam mikroorganisme.

4         keberadaan mikroorganisme pada tubuh manusia, hewan dan tumbuhan.

5         peranan mikrobiologi sebagai dasar ilmu pengetahuan biologi

6         bagaimana memahami karakteristik mikroorganisme dapat membantu dalam memahami proses-proses biologi organisme yang lebih besar termasuk manusia.

Secara garis besar mikrobiologi dimulai sejak ditemukannya mikroskop dan menjadi bidang yang sangat penting dalam biologi setelah Louis Pasteur dapat menjelaskan proses fermentasi anggur (wine) dan membuat serum rabies. Perkembangan biologi yang pesat pada abad ke-19 terutama dialami pada bidang ini dan memberikan landasan bagi terbukanya bidang penting lain, yaitu: biokimia. Awal perkembangan ilmu mikrobiologi pada pertengahan abad 19 oleh beberapa ilmuwan dan telah membuktikan bahwa mikroorganisme berasal dari mikroorganisme sebelumnya bukan dari tanaman ataupun hewan yang membusuk. Selanjutnya ilmuwan membuktikan bahwa mikroorganisme bukan berasal dari proses fermentasi tetapi merupakan penyebab proses fermentasi, misalnya buah anggur menjadi minuman yang mengandung alkohol. Ilmuwan juga menemukan bahwa mikroba tertentu menyebabkan penyakit tertentu. Pengetahuan ini merupakan awal pengenalan dan pemahaman akan pentingnya mikroorganisme bagi kesehatan dan kesejahteraan manusia. Awal abad 20 ahli mikrobiologi telah meneliti bahwa mikroorganisme mampu menyebabkan berbagai macam perubahan kimia baik melalui penguraian maupun sintesis senyawa organik yang baru. Hal inilah yang disebut dengan biohemial divesity atau keaneka ragaman biokimia yang menjadi ciri khas mikroorganisme. Disamping itu, yang penting lainnya adalah mekanisme perubahan kimia oleh mikroorganisme sangat mirip dengan unity in biochemistry yang artinya bahwa proses biokimia pada mikroorganisme adalah sama dengan proses biokimia pada semua makhluk hidup termasuk manusia. Bukti yang lebih baru menunjukkan bahwa informasi genetik pada semua organisme dari mikroba hingga manusia adalah DNA.

Pengambilan informasi genetika dari mikrorganisme karena sifatnya sederhana dan perkembangbiakan yang sangat cepat serta adanya berbagai variasi metabolisma. Saat ini mikroorganisme diteliti secara insentif untuk mengetahui dasar fenomena biologi.

Mikroorganisme juga merupakan sebagai sumber produk dan proses yang menguntungkan masyarakat, misalnya: alkohol yang dihasilkan melalui proses fermentasi dapat digunakan sebagai sumber energi. Strain-strain dari mikroorganisme yang dihasilkan melalui proses rekayasa genetika dapat diterima. Sekarang insulin yang dibutuhkan manusia dapat diproduksi dalam jumlah tak terhingga oleh bakteri yang telah direkayasa.

Mikroorganisme juga mempunyai potensi yang cukup besar untuk membersihkan lingkungan, misalnya: dari tumpukan minyak di lautan dipergunakan sebagai herbisida dan insektisida di bidang pertanian. Hal ini karena mikroorganisme mempunyai kemampuan untuk mendekomposisi/menguraikan senyawa kimia komplek. Kemampuan mikroorganisme yang telah direkayasa untuk tujuan tertentu menjadikan lahan baru dalam mikrobiologi industri yang dikenal dengan bioteknologi. Jika anda membaca tentang mikroorganisme anda akan menghargai, mengagumi mikroorganisme seperti bakteri, alga, protozoa dan virus merupakan organisme yang sering tidak terlihat. Beberapa diantaranya bersifat patogen bagi manusia, hewan maupun tumbuhan. Beberapa dapat menyebabkan lapuknya kayu dan besi. Tetapi banyak diantaranya berperan penting dalam lingkungan sebagai dekomposer. Beberapa diantaranya digunakan dalam menghasilkan (manufacture) substansi yang penting di bidang kesehatan maupun industri makanan (Minasari. 2008).

  1. B. Antony Van Leeuwenhoek dan Mikroskopnya

Antony van Leeuwenhoek (1632–1723) sebenarnya bukan peneliti atau ilmuwan yang profesional. Profesi sebenarnya adalah sebegai wine terster di kota Delf, Belanda. Ia biasa menggunakan kaca pembesar untuk mengamati serat-serat pada kain. Sebenarnya ia bukan orang pertama dalam penggunaan mikroskop, tetapi rasa ingin tahunya yang besar terhadap alam semesta menjadikannya salah seorang penemu mikrobiologi.

Leewenhoek menggunakan mikroskopnya yang sangat sederhana untuk mengamati air sungai, air hujan, saliva, feses dan lain sebagainya. Ia tertarik dengan banyaknya benda-benda bergerak tidak terlihat dengan mata biasa. Ia menyebut benda-benda bergerak tadi dengan animalcule yang menurutnya merupakan hewan-hewan yang sangat kecil. Penemuan ini membuatnya lebih antusias dalam mengamati benda-benda tadi dengan lebih meningkatkan fungsi mikroskopnya. Hal ini dilakukan dengan menumpuk lebih banyak lensa dan memasangnya di lempengan perak. Akhirnya Leewenhoek membuat 250 mikroskop yang mampu memperbesar 200–300 kali. Leewenhoek mencatat dengan teliti hasil pengamatan tersebut dan mengirimkannya ke British Royal Society. Salah satu isi suratnya yang pertama pada tanggal 7 September 1974 ia menggambarkan adanya hewan yang sangat kecil, sekarang dikenal dengan protozoa. Antara tahun 1632–1723 ia menulis lebih dari 300 surat yang melaporkan berbagai hasil pengamatannya. Salah satu diantaranya adalah bentuk batang, kokus maupun spiral yang sekarang dikenal dengan bakteri. Penemuan-penemuan tersebut membuat dunia sadar akan adanya bentuk kehidupan yang sangat kecil dan akhirnya melahirkan ilmu mikrobiologi.

Penemuan Leewenhoek tentang animalcules menjadi perdebatan dari mana asal animalcules tersebut. Ada dua pendapat, satu mengatakan animacules ada karena proses pembusukan tanaman atau hewan, melalui fermentasi misalnya. Pendapat ini mendukung teori yang mengatakan bahwa makhluk hidup berasal dari proses benda mati melalui abiogenesis. Konsep ini dikenal dengan generatio spontanea. Kedua mengatakan bahwa animalcules berasal dari animalcules sebelumnya seperti halnya organismea tingkat tinggi. Pendapat atau teori ini disebut biogenesis. Mikrobiologi tidak berkembang sampai perdebatan tersebut terselesaikan dengan dibuktikannya kebenaran teori biogenesis. Pembuktian ini dilakukan berbagai macam eksperimen yang nampaknya sederhana tetapi memerlukan waktu lebih dari 100 tahun (Minasari. 2008).

  1. C. Kemenangan Teori Biogenesis

Franscesco Redi (1626–1697) menunjukkan bahwa ulat yang ada dalam daging busuk adalah larva, yang berasal dari telur lalat, bukan hasil dari generatio spontanea. Bagaimana dengan asal dari mikroorganisme yang hanya bisa dilihat dengan mikroskop?

John Needham (1713–1781) memasak sepotong daging untuk menghilangkan organisme yang ada dan menempatkannya dalam toples yang terbuka. Akhirnya ia mengamati adanya koloni pada permukaan daging tersebut. Ia menyimpulkan bahwa mikroorganisme terjadi spontan dari daging.

Lazarro Spalanzani (1729–1799) merebus kaldu daging selama 1 jam dan menempatkannya pada toples yang disegel/ditutup rapat menunjukkan tidak ditemukannya mikroorganisme dalam kaldu tersebut. Jadi eksperimen ini menentang teori abiogenesis. Tetapi Neddham mengatakan bahwa sumber makhluk hidup tadi adalah udara dimana pada percobaan Spalanzani tersebut tidak berinteraksi langsung dengan udara.

Hampir 100 tahun setelah percobaan Needham ada 2 peneliti yang mencoba memecahkan kontroversi tentang peran udara. Pada tahun 1836, Franz Schulze melewatkan larutan asam kuat ke dalam tabung tertutup yang berisi daging yang telah dimasak. Tahun 1837, Theodor Schwann mengalirkan udara panas melalui pipa ke dalam tabung tertutup yang berisi kaldu. Keduanya tidak menemukan adanya mikroba sebab mikroba telah mati oleh adanya asam kuat maupun oleh panas. Tetapi para pendukung teori generatio spontanea berpendapat bahwa adanya asam dan panas akan mengubah udara sehingga tidak mendukung pertumbuhan mikroba. Sampai akhirnya tahun 1954 peneliti menyelesaikan perdebatan tersebut dengan melakukan percobaan menggunakan tabung tertutup berisi kaldu yang telah dipanaskan. Ke dalam tabung tersebut dimasukkan pipa yang sebagiannya diisi dengan kapas dan ujungnya dibiarkan terbuka. Dengan demikian mikroba akan tersaring dan udara tetap bisa masuk. Dengan tidak ditemukannya

mikroba akan tersaring dan udara tetap bisa masuk. Dengan tidak ditemukannya mikroba dalam kaldu daging tersebut membuktikan bahwa teori generatio spontanea adalah salah.

  1. D. Bukti Teori Biogenesis

Pada periode yang sama muncul ilmuwan baru dari Fransis Louis Pasteur (1822–1895) seorang ahli kimia yang menaruh perhatian pada mikroorganisme. Oleh karena itu ia tertarik untuk meneliti peran mikroba dalam industri anggur dalam pembuatan alkohol. Salah satu pendukung teori generatio spontanea yang hidup pada masa Louis Pasteur adalah Felix Archimede Pouchet (1800–1872). Pada tahun 1859 ia banyak mempublikasikan tulisan yang mendukung abiogenesis. Tetapi ia tidak dapat membantah penemuan-penemuan Pasteur. Untuk memastikan pendapatnya, Pasteur melakukan serangkaian eksperimen, ia menggunakan bejana dengan leher panjang dan dibengkokkan yang dikenal dengan leher angsa. Bejana ini diisi dengan kaldu kemudian dipanaskan. Udara dapat dengan bebas melewati tabung atau pipa leher angsa tersebut tetapi tidak ditemukan adanya mikroorganisme di kaldu tadi. Dalam hal ini mikroba beserta debu atau asap akan mengendap pada bagian tabung yang berbentuk U sehingga tidak dapat mencapai kaldu. Ia juga membawa tabung tersebut ke pegunungan Pyrenes dan Alpen. Pasteur menemukan bahwa mikroorganisme terbawa debu oleh udara dan ia menyimpulkan bahwa semakin bersih/murni udara yang masuk ke dalam bejana, semakin sedikit kontaminasi yang terjadi. Pada tanggal 7 April 1864 ia mengatakan bahwa: For I hape kept them and am still keeping from them, that one thing that is above the power of man to make; i have kept from them, the germ that float in the air, i have kept them from file.

Salah satu argumen klasik untuk menantang biogenesis adalah bahwa panas yang digunakan untuk mensterilkan udara atau bahan juga dianggap merusak vital force. Mereka yang mendukung teori abiogenesis berpendapat bahwa tanpa adanya kekuatan vital force tersebut mikroorganisme tidak dapat muncul serta spontan. Untuk merespon argumen tersebut John Tyndall mengatakan udara dapat dengan mudah dibebaskan dari mikroorganisme dengan cara melakukan pecobaan dengan meletakkan tabung reaksi berisi kaldu steril ke dalam kotak tertutup. Udara dari luar masuk ke dalam kotak melalui pipa yang sudah dibengkokkan membentuk dasar U seperti spiral. Terbukti bahwa meskipun udara luar dapat masuk ke dalam kotak yang berisi tabung dengan kaldu di dalamnya, namun tidak ditemukan adanya mikroba. Hasil percobaan Pasteur dan Tyndall memacu diterimanya konsep biogensis. Selanjutnya Pasteur lebih memfokuskan penelitiannya pada peran mikroba dalam pembuatan anggur dan mikroba yang menyebabkan penyakit.

  1. E. Teori Tentang Fermentasi

Fermentasi terjadi jika jus anggur kita biarkan. Melalui serangkaian perubahan biokimia, alkohol dan senyawa lain dihasilkan dari anggur tersebut. Salah satu alasan mengapa Pasteur ingin menentang pendapat generatio spontanea adalah keyakinannya bahwa produk fermentasi anggur merupakan hasil mikroorganisme yang ada, bukan fermentasi menghasilkan mikroorganisme sebagaimana yang dipercaya pada waktu tersebut. Pada tahun 1850. Pasteur memecahkan masalah yang timbul dalam industri anggur. Dengan meneliti anggur yang baik dan anggur yang kurang bagus Pasteur menemukan mikroorganisme yang berbeda.

Mikroorganisme tertentu mendominasi anggur yang bagus sementara tipe mikroorganisme lain mendominasi anggur yang kurang bagus. Dia menyimpulkan bahwa pemilihan mikroorganisme yang sesuai akan menghasilkan produk yang bagus. Untuk itu dia memusnahkan mikroba yang telah ada dalam sari buah anggur dengan cara memanaskannya. Setelah dingin ke dalam sari buah tersebut diinokulasi dengan anggur yang berkualitas baik yang mengandung mikroorganisme yang diinginkan. Hasilnya menunjukkan bahwa anggur yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik dan tidak mengalami perubahan aroma selama disimpan jika sebelumnya dipanasi dulu selama beberapa menit pada 50–600 Proses ini dikenal dengan pasteurisasi yang digunakan secara luas di bidang industri makanan. Sebelumnya orang meningkatkan produk fermentasi melalui trial and error dimana sebelumnya tidak tahu bahwa kualitas produk tergantung pada mikroorganisme tertentu.

  1. F. Penyebab Infeksi/Penyakit

Disamping membuat revolusi (perubahan besar) dalam bidang industri anggur, Pasteur dan asistennya juga mengemukakan teori baru mengenai penyebab penyakit. Dalam penelitiannya mereka menemukan agen penyebab penyakit serius baik pada hewan maupun manusia. Tetapi sebelum Pasteur telah membuktikan bahwa mikroba merupakan penyebab penyakit, beberapa peneliti membuat argumen yang kuat terhadap teori bakteri penyebab penyakit. Sebelumnya, dalam serajah manusia ada kepercayaan bahwa penyakit itu disebabkan oleh beberapa faktor yang tidak jelas misalnya udara yang jelek, darah yang jelek dan lain-lainnya.

Pada tahun 1546, Girolamo Fracastolo (1483–1553) penyakit dapat disebabkan oleh mikroorganisme, ditularkan dari 1 orang ke orang lain. Sebagian besar informasinya berasal dari percakapannya dengan para pelaut yang baru pulang dari perjalanannya ke luar negeri, dimana mereka menyaksikan penyebaran berbagai penyakit. Lebih dari 200 tahun kemudian Anton von Plenciz (1705–1786) mengatakan bahwa tidak hanya makhluk hidup yang merupakan penyebab penyakit tetapi juga agen yang lain merupakan penyebab penyakit yang berbeda. Pada saat yang bersamaan konsep tentang makhluk hidup atau bentuk lain yang menggunakan nutrien mulai diterima. Setelah sukses dengan fermentasinya, Pasteur diminta untuk meneliti penyakit ulat sutra yang merugikan industri di Perancis. Dia menghabiskan waktu 6 tahun untuk membuktikan bahwa mikroorganisme yang disebut dengan protozoa dapat menyebabkan penyakit. Pasteur juga menunjukkan kepada petani ulat sutera bagaimana cara menghilangkan penyakit dengan cara memilih ulat sutera yang bebas penyakit untuk diternakkan.

Di Jerman, Robert Koch (1843–1910) seorang profesional di bidang kesehatan mendapat hadiah mikroskop dari isterinya untuk hadiah ulang tahunnya yang ke-28. Selanjutnya ia mulai meneliti dunia mikroorganisme yang sudah dilihat oleh Pasteur. Pasteur maupun Koch bersama-sama ingin mengetahui penyebab penyakit anthrax yang sangat merugikan peternak sapi dan domba di Eropa. Koch akhirnya menemukan dari darah domba yang telah mati karena anthrax. Dengan sering meninggalkan prakteknya sebagai dokter, Koch membuktikan bahwa bakteri tersebut penyebab anthrax dengan cara memisahkan bakteri untuk bahan tersebut dari bakteri lain yang ada kemudian menginjeksikannya ke dalam tikus yang sehat. Tikus selanjutnya menunjukkan perkembangan menuju anthrax dan bakteri yang diisolasi dari tikus menunjukkan kesamaan bakteri yang berasal dari domba yang sakit sebelumnya. Pada 1876, setelah meneliti selama 6 tahun Koch mengumumkan bahwa dia telah menemukan bakteri penyebab anthrax. Ia juga menyarankan bahwa ternak sakit supaya dibunuh dan dibakar atau dikubur yang dalam, setelah ia mengetahui bahwa spora yang dihasilkan oleh bakteri dapat bertahan hidup selama berbulan-bulan di daerah peternakan.

Dengan penemuan anthraxnya Koch merupakan orang pertama yang membuktikan mikroba tertentu merupakan agen penyakit tertentu. Selanjutnya Koch dan peneliti lain menemukan bakteri penyebab tuberculosis dan cholera. Perkembangan teknik laboratorium untuk mempelajari mikroorganisme. Koch dan anggotanya banyak memberi kontribusi mengenai teknik-teknik tersebut. Diantaranya adalah prosedur pengecatan bakteri untuk pengamatan dengan mikroskop cahaya. Salah satu kolega Koch adalah Paul Erlich (1854–1915) yang melakukan penelitian terhadap spesimen dan menggunakannya untuk mewarnai bakteri termasuk bakteri penyebab tuberkulosis.

  1. G. Teknik Biakan Murni

Secara kebetulan seorang pria Jerman melihat bahwa koloni yang tumbuh pada kentang yang telah direbus pada akhirnya dapat menemukan jalan untuk memisah menjadi individu-individu. Caranya: mereka mengembangkan media spesifik untuk menumbuhkan mikroorganisme. Media adalah substansi yang memenuhi kebutuhan nutrisi mikroorganisme. Koch dan koleganya juga menunjukkan senyawa dari alga yang disebut agar dapat membuat media menjadi padat. Richard J. Petri (1852–1921) membuat piringan kaca bertutup untuk menempatkan media agar alat tersebut selanjutnya disebut Petri dish yang masih digunakan sampai sekarang. Pada tahun 1892, dengan menggunakan teknik biakan murni Koch dan anggotanya menemukan agen-agen penyebab typus, dipteri, tetanus, pneumonia dan lain sebagainya. Koch mengenalkan penggunaan hewan sebagai model untuk penyakit manusia dengan cara menginjeksikan bakteri ke tubuh mencit, kelinci, babi atau domba. Ia bahkan menempelkan kamera pada mikroskopnya untuk mengambil gambar dan menggunakannya sebagai bukti untuk menghilangkan keraguan.

  1. H. Postulat Koch

Pada tahun 1880, Koch memanfaatkan kemajuan metode laboratorium dan menentukan kriteria yang diperlukan untuk membuktikan bahwa mikroba spesifik merupakan penyebab penyakit tertentu. Kriteria ini dikenal dengan postulat Koch yaitu:

1         Mikroorganisme tertentu selalu ditemukan berasosiasi dengan penyakit yang ditimbulkan.

2         Mikroorganisme dapat diisolasi dan ditumbuhkan sebagai biakan murni di laboratorium

3         Biakan murni tersebut bila diinjeksikan pada hewan yang sesuai dapat menimbulkan penyakit

4         Mikroorganisme tersebut dapat diisolasi kembali dari hewan yang telah terinfeksi tersebut

Adanya kriteria tersebut menjadi jalan ditemukannya berbagai bakteri penyebab berbagai penyakit dalam waktu yang cukup singkat (kurang dari 30 tahun). Penemuan virus, adanya bakteri yang dapat menimbulkan berbagai penyakit serta adanya penyakit tertentu yang ditimbulkan oleh lebih dari 1 mikroorganisme memerlukan modifikasi dari postulat Koch.

Pada tahun 1892 Dimitri Ivanovski menunjukkan bahwa agen yang menyebabkan penyakit mosaik pada tembakau dapat ditularkan melalui ekstrak tanaman yang sakit. Ekstrak tersebut disaring dengan filter yang ditemukan oleh kawan-kawan Pasteur dimana filter tersebut diketahui dapat menyaring bakteri. Penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa agen tersebut mempunyai ukuran yang jauh lebih kecil dari bakteri. Yellow fever merupakan penyakit pertama pada manusia yang diketahui disebabkan oleh virus.

Pada tahun 1900 seorang ahli bedah bernama Walter reed (1851 –1902) dengan menggunakan manusia sebagai volunteer membuktikan bahwa virus tersebut dibawa oleh nyamuk tertentu lainnya membawa protozoa penyebab malaria. Salah satu cara penting untuk mencegah penyakit tersebut adalah menguras air tergenang yang digunakan nyamuk untuk tempat berkembang biak.

  1. I. Perkembangan Penyakit

Epidemik adalah penyakit tertentu yang menyerang banyak daerah misalnya penyakit bubon yang dikenal dengan penyakit hitam yang mematikan yang disebabkan oleh bakteri terjadi di Eropa selama periode tahun 1347–1350. Sepertiga sampai setengah populasi di Eropa meninggal karena penyakit tersebut. Hewan pengerat, terutama tikus, berperan sebagai sumber bakteri basilus dan ditransmisikan/ditularkan ke manusia melalui lalat. Tahun 1917–1919 malaria telah membunuh setengah juta penduduk Amerika dan 21 juta manusia di seluruh dunia. Jumlah tersebut mencapai 3 kali jumlah manusia yang terbunuh selama perang dunia I. Jadi mikroba terbukti lebih mematikan dibanding peluru. Dengan pengetahuan bahwa mikroorganisme dapat merupakan penyebab penyakit ilmuwan lebih memusatkan perhatiannya bagaimana cara pencegahan dan therapinya.

  1. J. Penemuan Antiseptik

Secara umum septis berarti efek toksis dari mikroorganisme penyebab penyakit pada tubuh selama infeksi. Antiseptik; ukuran-ukuran yang menghentikan efek tersebut dengan pencegahan infeksi.

Oliver Weldell Holmes (1809-1894) seorang dokter Amerika pada tahun 1843 menekankan bahwa penyakit demam pada wanita bersifat menular. Oleh karena itu ditularkan dari satu wanita lain melalui tangan dokter. Tahun 1846 seorang dokter dari Hungaria, Ignaz Philipp Semmelweiz menemukan penggunaan klorin sebagai desinfektan untuk tangan dokter. Pada tahun 1860 ahli bedah dari Inggris, Joseph Lister menemukan asam karbol atau phenol dapat digunakan untuk membunuh bakteri. Lister menggunakan larutan ini untuk merendam alat-alat bedah dan menyemprot ruangan operasi. Cara tersebut demikian sukses untuk mengatasi infeksi setelah operasi yang sebelumnya menyebabkan kematian 45% dari pasiennya. Cara tersebut segera dapat diterima dan dilakukan oleh ahli bedah yang lain. Penemuan tersebut merupakan hari penemuan teknik aseptik untuk mencegah infeksi. Sekarang ini berbagai macam senyawa kimia dan alat fisik lain dapat mengurangi mikroorganisme di ruang operasi, ruangan untuk bayi prematur dan ruangan tempat memasukkan obat ke dalam kontainer yang steril.

  1. K. Imunisasi

Tahun 1880, Pasteur menggunakan teknik dari Konch untuk mengisolasi dan membiakkan bakteri yang menyebabkan kolera pada ayam. Untuk membuktikan penemuannya, Pasteur membuat demonstrasi di hadapan publik tentang percobaannya yang telah dilakukan berulang kali di laboratorium. Dia menginjeksikan biakan bakteri kolera pada ayam sehat dan menunggunya sampai ayam tersebut menunjukkan gejala penyakit. Akan tetapi hasilnya membuat Pasteur mendapat malu karena ayamnya tetap hidup dan sehat. Pasteur kemudian mengevaluasi langkah-langkah yang menyebabkan demonstrasi tersebut gagal. Dia menemukan bahwa secara kebetulan dia menggunakan biakan tua seperti yang telah dilakukan sebelumnya, dan satu kelompok adalah ayam yang tidak pernah diinokulasi. Selanjutnya kedua kelompok ayam tersebut diinjeksi dengan biakan segar. Hasilnya, kelompok ayam yang kedua mati sedang kelompok ayam pertama tetap sehat.

Hal ini mebuatnya bingung, tetapi Pasteur segara menemukan jawabannya. Pasteur menemukan bahwa, bakteri jika dibiarkan tumbuh menjadi biakan tua menjadi avirulen yaitu kehilangan virulensinya atau kemampuan untuk menyebakan penyakit. Tetapi bakteri avirulen ini masih dapat menstimulasikan sesuatu dalam tubuh host dan pada infeksi berikutnya menjadi imun atau tahan terhadap penyakit. Pasteur selanjutnya menerapkan prinsip imunisasi untuk mencegah anthrax. Pasteur menyebutkan bakteri yang telah avirulen tersebut dengan vaccine dari bahasa latin ”vacca” artinya sapi dan imunisasi dengan biakan tersebut dikenal dengan vaksinasi.

Dengan vaksinasi tersebut Pasteur mengenali mengetahui hasil kerja sebelumnya oleh Edward Jenner (1823-1949) yang telah sukses memvaksinasikan para pekerjanya di peternakan yang telah terkena cowpox dari ternak sapinya tetapi tidak pernah berkembang menjadi serius. Jenner menduga bahwa menghadapi cawpox akan mencegahnya dari serangan smallpox. Untuk membuktikan hipotesisnya Jenner menginokulasi pendapat dari James Philips pertama dengan materi yang menyebabkan cowpox yang diambil dari luka, kemudian dari agen smallpox. Anak laki-laki tersebut tidak menununjukkan gejala smallpox. Nama Pasteur selanjutnya dikenal dimana-mana banyak orang dianggap sebagai peneliti tentang mikroorganisme yang ajaib. Untuk itu ia diminta membuat vaccin pencegah hidrofobia atau rabies, penyakit yang ditularkan ke manusia melalui gigitan anjing, kucing atau hewan yang terinfeksi lainnya. Pasteur adalah seorang ahli kimia, bukan dokter dan Pasteur tidak biasa memperlakukan manusia. Disamping kenyataan bahwa penyebab penyakit rabies belum diketahui, tetapi Pasteur mempunyai keyakinan yang kuat bahwa itu adalah mikroorganisme. Ia dapat membuat kelinci terkena penyakit setelah diinokulasi dengan saliva anjing. Selanjutnya Pasteur dan asistennya mengambil otak dan tulangbelakang kelinci tersebut dan menginginkannya dan membuatnya menjadi larutan. Anjing yang diinokulasi dengan campuran tersebut dapat terhindar dari rabies. Akan tetapi vaksinasi terhadap anjing sangat berbeda dengan manusia. Pada bulan Juli 1885, seorang anak laki-laki bernama Joseph Meister digigit oleh serigala dan keluarganya membujuk Pasteur untuk menginokulasi anak tersebut Kekawatiran Pasteur dan orang-orang menjadi berkurang setelah anak laki-laki tersebut tidak mati. Selanjutnya Pasteur menjadi terkenal dan memperoleh banyak dana yang kemudian digunakan untuk mendirikan Institute Pasteur di Paris yang sangat terkenal (Minasari. 2008).

  1. L. Penemuan-Penemuan Berharga Para Tokoh Mikrobiologi

Pada sekitar periode ketiga banyak sekali ditemukan penemuan-penemuan dalam bidang mikrobiologi, diantaranya:

  1. Gram (1844) menemukan sistem pewarnaan bakteri, sehingga bakteri terbagi menjadi dua kelompok besar, yakni gram positif dan grram negatif;
  2. Chamberland (1887) menemukan bahan dengan sistem saringan atau filter secara fisik;
  3. Spencer (1851) menemukan penyakit kolera;
  4. Lord Lister (1854) menggunakan semprotan asam karbolat pada luka selama berlangsungnya pembedahan;
  5. Hansen (1874) menemukan kuman lepra;
  6. Neisser (1879) menemukan kuman gonokokus;
  7. Ogston (1881) menemukan stafilokokus;
  8. Nicolaier (1884) mengamati kuman tetanus pada nanah;
  9. Fraenkel (1886) menemukan kuman pneumokkokus;

10.  Schaudin dan Hoffman manamukan kuman spiroketa sifilis

11.  Roux dan Yersin (1888) menjelaskan mekanisme dari patogenis difteri setelah menemukan toksin bakteri.

12.  Welch (1894) menemukan penyakit tifus;

13.  Loeffler dan Frosch (1898) mengamati bahwa penyakit kuku dan mulut pada ternak disebabkan oleh mikroba yang dapat melewati saringan kuman, yakni virus;

14.  Landsteiner dan Popper (1909) menyatakan bahwa poliomeilitis disebabkan oleh mikroba yang dapat melewati saringan kuman, yakni virus;

15.  Mc Coy (1910) menemukan penyakit difteri (Waluyo. 2005).

  1. M. Chemoterapi

Chemoterapi telah dilakukan selama ratusan tahun. Misalnya; merkuri telah digunakan untuk mengobati sifilis pada tahun 1495 dan kulit kayu pohon kina (cinchona) digunakan untuk mengobati malaria. Orang tahu bahwa tumbuhan berperan sebagai bahan untuk chemoterapi.

Paul Erlich melalui chemoterapi modern dengan membuat senyawa kimia yang dapat membunuh mikroba spesifik penyebab sifilis. Untuk penemuan tersebut ia mendapat Nobel tahun 1908. Alexander Fleming (1881–1955) menemukan penicilin, senyawa kimia yang dihasilkan mikroorganisme jamur Penicellium notatum. Fleming menduga bahwa jamur tersebut menghasilkan sesuatu yang menghambatpertumbuhan bakteri. Tulisannya mengenai hal tersebut tidak mendapat perhatian sampai 10 tahun kemudian saat peneliti dari Universitas Oxford mencoba menemukan senyawa antibakteri yang berasal dari mikroorganisme. Sebagian dari riset ini untuk mengobati korban perang

dunia kedua dan penyakit ternak. Peneliti yang dipimpin oleh Howard W. Florey dan Ernest Chain melakukan pengobatan dengan penicilin yang hasilnya sangat memuaskan. Penicilin selanjutnya dianggap sebagai obat mujarab. Florey, Chain, dan Fleming mendapat Nobel untuk penemuan tersebut.

Dalam perkembangannya mikrobiologi juga ditandai dengan beberapa hadiah nobel dalam bidang mikrobiologi. Hal ini dapat dilihat dari tabel berikut ini.

Tahun Penemu Hal yang ditemukan
1913

1919

1928

1930

1939

1945

1951

1952

1954

1958

1959

1960

1961

1965

1966

1968

1969

1972

1974

1975

1976

1977

1978

1983

1984

1987

Rickkets

Bordet

Nicolle

Landsteiner

Domagk

Fleming, Florey, dan Chain

Theiler

Waksman

Ender

Lederberg, Tatum, dan Beadle

Ochoa Kornberg

Burnet, dan Medawar

Watson, dan Crick

Jacob, Monod, dan Lwoff

Rous

Nirenberg, Holley, dan Khuranna

Dulbeco, Luria, dan Delbruck

Porter dan Edelman

Christian

Dulbeco, Baltimore, dan Teonin

Gajdusck, dan Blumberg

Rosalyn Yalow

Arber, Nathans, dan Smith

Barbara Mc Clintosh

Niele Jerne dan George Koehler

Tonegawa Susuma

Anafilaksis

Imunologi

Demam tikus

Golongan darah

Sulfonamida

Penisilin

Vaksin demam kuning

Streptomisin

Biakan sel virus polio

Genetika

ARN

Struktur imunologi

Kode genetika, struktur ADN

Episom Genetik dan profaga

Virus penyebab kanker

Sintesis ADN

Genetika, mutasi

Struktur imunoglobulin

Lisosom

Genetika dan mutasi

Virus lambat dan antigen Australia

Radioimmunoassay

Enzim pembatas

Unsur genetika yang dapat berpindah pindah

Antibodimonoklonal

Terjadinya keanekaragaman imunoglobin

(Sumber: Waluyo. 2005)

  1. N. Perjalanan Panjang Sejarah Perkembangan Mikrobiologi dan Perseteruan yang menyeliputinya

Dalam perkembangannya, mikrobiologi terdapat banyak perselisisihan paham antara penganut paham teori abiogenesis dan biogenesis. Dan dengan semakin berkembangnya mikrobiologi maka dari pemahaman abiogenesis yang sudah mendarah daging dapat tergantikan oleh biogenesis yang sejalan dengan fakta dari peneletian yang ada. Selain itu, penemuan-penemuan beberapa tokoh juga ikut andil dalam perkembangan mikrobiologi hingga saat ini.

Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri  (Ar-ra’d: 11).

Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna (An-Najm: 39-42)

Dengan melihat dua ayat di atas kita dapat melihat usaha-usaha para tokoh dalam bidang mikrobiologi yang berusaha sedemikian gigihnya sehingga mendapatkan sesuatu yang dia usahakan sedemikian kerasnya. Bahkan dengan kegigihan para tokoh mereka dapat merubah pemahaman orang yang salah tentang pemahaman teori abiogenesis ke teori biogenesis yang rasional dan sesuai dengan fakta penelitian yang ada.

Sebagai orang muslim yang diberi kemampuan berfikir kita seharusnya juga selalu berusaha membuat suatu perubahan atau mendapatkan penemuan-penemuan lain di bidang mikrobiologi khususnya.

Kesimpulan

Kesimpulan dari makalah ini adalah: Perkembangan mikrobiologi dari sejak peertama kali ditemukannya mikroba sampai dengan saat ini merupakan perjalanan yang sangat panjang. Dalam perkembangannya terjadi pertemmpuran sengit antar teori hingga mencapai titik temu yang dapat disepakati bersama. Selain itu dunia mikrobiologi juga turut andil dalam kehidupan masyarakat dalam berbagai bidang.

Daftar Pustaka

Anonymous. 2009. Mikrobiologi. http://id.wikipedia.org/mikrobiologi. diakses tanggal 15 September 2009

Anonymous. 2008. Sejarah Perkembangan Mikrobiologi. http://www.ubb.ac.id/. diakses tanggal 10 September 2009

Waluyo. Lud. 2005. Mikrobiologi Umum. UMM Press. Malang

Minasari dan Lista Unita Rasyid. 2008. Mikrobiologi Umum Final. http://pdfstack.com/ download. diakses tanggal 15 September 2009