Strongyloides stercoralis

Strongyloides stercoralis

A.Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum   : Nematoda
Class       : Secernentea
Ordo       : Rhabditida
Family    : Strongyloididae
Genus     : Strongyloides
Species   : S. stercoralis

B.  Hospes dan Nama Penyakit
Manusia merupakan hospes utama cacing ini. Parasit ini dapat menyebabkan penyakit strongilodiasis. Terdapat 3 tipe:
Tipe ringan, tidak memberikan gejala.
Tipe sedang, menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan.
Tipe berat, mengalami gangguan hampir di seluruh tubuh sehingga dapat menyebabkan kematian.

C. Morfologi


Larva Rabditiform
Panjangnya ± 225 mikron, ruang mulut: terbuka, pendek dan lebar. Esophagus dengan 2 bulbus, ekor runcing.
Larva Filariform
Bentuk infektif, panjangnya ± 700 mikron, langsing, tanpa sarung, ruang mulut tertutup, esophagus menempati setengah panjang badan, bagian ekor berujung tumpul berlekuk.


Cacing dewasa betina yang hidup bebas panjangnya ± 1 mm, esophagus pendek dengan 2 bulbus, uterus berisi telur dengan ekor runcing.
Cacing dewasa jantan yang hidup bebas panjangnya ± 1 mm, esophagus pendek dengan 2 bulbus, ekor melingkar dengan spikulum

D. Daur Hidup
Cara berkembang biak secara partenogenesis
Mempunyai 3 macam siklus hidup:
1. Siklus langsung
2. Siklus tidak langsung
3. Autoinfeksi
1. Siklus langsung
2-3 hari di tanah → larva rabditiform → larva filariform → menembus kulit manusia → peredaran darah vena → jantung kanan → paru-paru → parasit mulai menjadi dewasa → menembus alveolus → masuk trakhea dan laring → terjadi refleks batuk & parasit tertelan → sampai di usus halus → dewasa.
2. Siklus tidak langsung
Larva rabditiform di tanah → cacing jantan & betina bentuk bebas → terjadi pembuahan →  telur menetas menjadi larva rabditiform → larva filariform → masuk dalam hospes baru.
3. Autoinfeksi
Larva rabditiform → larva filariform di usus/ daerah perianal → menembus mukosa usus/ perianal → menyebabkan strongiloidiasis menahun.

E. Patologi dan Gejala Klinis
Bila larva filariform menembus kulit, timbul creeping eruption disertai rasa gatal yang hebat.
Cacing dewasa menyebabkan kelainan pada mukosa usus muda.
Infeksi ringan tidak menimbulkan gejala
Infeksi sedang menyebabkan rasa sakit seperti tertusuk-tusuk di daerah epigastrium tengah dan tidak menjalar, disertai mual, muntah, diare dan konstipasi.
Pada strongiloidiasis ada kemungkinan terjadi autoinfeksi dan hiperinfeksi.
Pada hiperinfeksi cacing ditemukan di seluruh traktus digestivus, larvanya ditemukan di berbagai alat dalam (paru, hati, kandung empedu). Dapat menimbulkan kematian.

F. Pencegahan
Sanitasi pembuangan tinja
Melindungi kulit dari tanah yang terkontaminasi, misal dengan memakai alas kaki
Penerangan kepada masyarakat mengenai cara penularan, dan cara pembuatan serta pemakaian jamban.
G. Pengobatan
Tiabendazol, dosis 25 mg per kg berat badan, 1 atau 2 kali sehari selama 2 atau 3 hari.
Albendazol 400 mg, 1 atau 2 kali sehari selama 3 hari. Merupakan obat pilihan.
Mebendazol 100 mg 3 kali sehari selama 2 atau 4 minggu.
Perhatian kepada pembersihan daerah sekitar anus, dan menghindari konstipasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s