Preparat Apus Kadal

BAB  I

PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

Langkah pertama dalam menyiapkan materi segar untuk pengamatan mikroskopis adalah fiksasi. Fiksasi juga merupakan langkah awal yang penting dalam membuat sediaan utuh maupun sediaan sayatan. Tujuan fiksasi adalah untuk menghentikan proses metabolisme secara cepat, mencegah kerusakan jaringan, mengawetkan komponen-komponen sitologis dan histologist, mengawetkan keadaan sebenarnya, dan mengeraskan. Fiksasi dapat dilakukan dengan cara melewatkan preparat diatas api atau merendamnya dalam metanol. Untuk materi-materi yang lunak akan terjadi koagulasi protoplasma dan maupun elemen-elemen di dalam protoplasma

Untuk memecahkan suatu masalah yang berkaitan dengan Biologi, seseorang perlu menggunakan suatu cara atau teknik tertentu. Ada kalanya teknik yang digunakan tidak hanya yang bersifat makroskopis tetapi sering kali melalui teknik yang bersifat mikroskopis. Untuk itu analisis dapat dibedakan atas analisis kimia dan analisis struktur .

Analisis kimia dapat melalui spektroskopi dan kromatografi. Sedangkan Analisis struktur dapat melalui mikroteknik dan mikroskrop electron. Teknik ini timbul akibat keterbatasn kemampuan indra manusia. Panca indra manusia seringkali hanya dapa melihat benda-benda atau organisme yang bersifat makroskopis saja. Oleh karena itu, diperlukan metode mikroteknik untuk melihat struktur pada tingkat sel maupun jaringan dan struktur yang bersifat sub-mikroskopik berupa makromolekul yang biasanya dapat dilihat melalui miroskop electron.

1.2    Tujuan

  • Agar dapat mengetahui prosedur pembuatan preparat metode apus darah
  • Agar dapat mengetahui dan mempelajari bentuk dan struktur komponen dari darah tersebut

BAB  II

TINJAUAN PUSTAKA

 

 

2.1    Tinjauan tentang Apus

2.1.1 Tinjauan tentang Preparat Apus Darah

Pembuatan sediaan apus darah biasanya digunakan dua buah kaca sediaan yang sangat bersih terutama harus bebas lemak. Satu buah kaca sediaan bertindak sebagai tempat tetes darah yang hendak diperiksa dan ynag lain bertindak sebagai alat untuk meratakan tetes darah agar didapatkan lapisan tipis darah (kaca perata). Darah dapat diperoleh dari tusukan jarum pada ujung jari. Sebaiknya tetesan darah pertama dibersihkan agar diperoleh hasil yang memuaskan. Tetesan yang kedua diletakan pada daerah ujung kaca sediaan yang bersih. Salah satu ujung sisi pendek kaca perata diletakan miring dengan sudut kira- kira 45o tepat didepan tetes darah menyebar sepanjang sisi pendek kaca perata, maka dengan mempertahankan sudutnya, kaca perata digerakan secara cepat sehingga terbentuklah selapis tipis darah diatas kaca sediaan. Setelah sediaan darah dikeringkan pada suhu kamar barulah dilakukan pewarnaan sesudah difiksasi menurut metode yang dipilih, yaitu metode Giemsa dan Wright yang merupakan modifikasi metode Romanosky (Maskoeri, 2008).

Zat warna yang digunakan dalam metode Romanovsky adalah Giemsa yang sebelumnya telah diencerkan dengan aquades. Sediaan apus yang telah dikeringkan diudara, difixir dulu dengan methyl alkohol selama 3-5 menit. Semakin lama pewarnaan yang dilakukan maka intensitasnya menjadi semakin tua. Preparat apus yang yang telah selesai dibuat kemudian diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 100x. Gambar yang didapat dalam hasil menunjukan sel-sel butir darah baik eritrosit, leukosit, trombosit, atau yang lain (Maskoeri, 2008).

Fungsi dari larutan-larutan pada pembuatan preparat apus darah ikan dan manusia adalah metanol untuk proses fiksasi yaitu untuk membunuh sel-sel pada sediaan tersebut tanpa mengubah posisi (struktur) organel yang ada di dalamnya yang dilakukan selama 2 menit, pewarna Giemsa 10% sebagai pewarna yang umum digunakan agar sediaan terlihat lebih jelas. Pewarnaan ini sering disebut juga pewarnaan Romanowski. Metode pewarnaan ini banyak dipakai untuk mempelajari morfologi darah, sel-sel sumsum dan juga untuk identifikasi parasit-parasit darah misalnya dari jenis protozoa. Zat ini tersedia dalam bentuk serbuk atau larutan yang disimpan di dalam botol yang gelap. Di dalam laboratorium-laboratorium banyak dipakai larutan Giemsa 3% yang dibuat dari larutan baku Giemsa yang berupa cairan (larutan) (Kurniawan, 2010).

Sediaan apus darah secara rutin diwarnai dengan campuran zat warna khusus yang pertama kali ditemukan oleh oleh Dimitri Romanosky dan diubah oleh penyelidik lainnya. Pada tahun 1891, Romanosky menemukan campuran methylen blue dan eosin dalam perbandingan tertentu memberi warna ungu inti leukosit. Pewarnaan ini disebabkan karena oksidasi methylen blue dan pembentukan senyawa baru dalam campuran yang dinamakan azure. Setelah pemberiaan campuran jenis Romanosky, diferensiasi sel-sel dapat dilakukan Berdasarkan 4 sifat pewarnaan yang menyatakan afinitas struktur sel oleh masing-masing zat warna dari campuran, yaitu:

  1. Afinitas untuk methylen blue
  2. Afinitas untuk azure dikenal sebagai azurefilik ( ungu).
  3. Afinitas untuk eosin (suatu zat warna asam ) dikenal sebagai asidofilik atau eosinofilia.(merah muda kekuningan ).
  4. Afinitas untuk komplek zat warna yang terdapat dalam campuran, secara tidak tepat dianggap netral, dikenal sebagai neutrofilia (salmon-pink smplilac.

 

2.1.2Tinjauan tentang Darah

Darah dianggap sebagai jaringan khusus yang menjalani sirkulasi. Aliran darah dalam seluruh tubuh menjamin lingkungan yang tetap, agar semua sel serta jaringan mampu melaksanakan fungsinya. Darah mempunyai dua komponen, yaitu komponen cairan dan komponen sel darah yang terdiri dari tiga macam yaitu eritrosit, leukosit, dan trombosit.

Darah adalah cairan tubuh yang mengalir dalam pembuluh dan beredar ke seluruh tubuh. Darah pada umumnya terdiri atas unsur-unsur seluler dan matrik cairan yang disebut plasma. Darah terdiri atas plasma dan komponen-komponen seluler yaitu sel darah merah atau eritrosit, sel darah putih atau leukosit dan trombosit. Plasma merupakan cairan yang mengandung ion-ion dan molekul organik meliputi protein, elektrolit, nitrien, materi sampah, zat terlarut dan materi terlarut (Maskoeri, 2008).

2.1.2 Faktor Kegagalan

Menurut Maskoeri (2008), adapun faktor yang mempengaruhi ketidakberhasilan dalam pembuatan preparat yaitu:

  • Darah yang cepat menggumpal ataupun cepat mengering saat diteteskan ke kaca benda
  • Kurangnya pengalaman praktikan dan kurangnya kesabaran praktikan

 

2.1.3 Faktor Keberhasilan

Banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pembuatan preparat, terutama pada pembuatan preparat apus diantaranya :

1.        Pengambilan sampel

Sampel yang diambil adalah darah yang masih segar, karena darah merupakan jaringan hidup yang dapat melakukan proses pembekuan saat terjadi luka dan pendarahan.

2.        Pemrosesan

Pemrosesan juga sangat mempengaruhi keberhasilan pembuatan preparat terutama dalam proses perlakuan penggeseran darah pada kaca benda, karena hal ini berpengaruh terhadap sel-sel darah.

3.        Pewarnaan

Pemberian zat warna yang berlebihan akan mengakibatkan bagian-bagian sel darah yang amat terlalu tebal, sehingga sulit diamati. Lamanya pemberian zat warna juga berpengaruh karena adanya daya serap jaringan juga berbeda. Sehingga dalam hal ini diperlukan keterampilan dan pengamatan yang cukup (Maskoeri, 2008).

2.2    Tinjauan tentang Kadal

Klasifikasi

Kingdom   : Animalia

Phylum      : Chordata

Class          : Reptilia

Ordo          : Squamata

Family       : Scincidae

Genus        : Mabouya

Species      : Mabouya multifasciata                  Gbr 2.2 Mabouya multifasciata

(Radiopoetra, 2000).

Kadal adalah hewan bersisik berkaki empat yang termasuk kelompok reptil. Secara luas, pengertian kadal atau kerabat kadal (bahasa Inggris: lizards) juga mencakup kelompok cecak, tokek, bunglon, cecak terbang, biawak, iguana dan lain-lain. Sedangkan secara sempit, istilah kadal dalam bahasa Indonesia biasanya merujuk terbatas pada kelompok kadal yang umumnya bertubuh kecil, bersisik licin berkilau, dan hidup di atas tanah.

Secara morfologi Mabouya multifasciata terdiri atas:

a.         Kepala (caput/chepal), berbentuka agak phyramidal, meruncing, kea rah cranial dan memipih dalam kearah dorso-ventral

b.        Cervix (leher), mempunyai bentuk yang panjang dan melnjutkan diri (bersambung dengan badan).

c.         Badan (trunchus), terdapat ekstremitas anterior dan posterior.

d.        Ekor (cauda), dengan bentuk ekor yang silindris dan panjang ekor 1 kali panjang badan, serta pada bagian pangkal ekor menebal dan ekor meruncing kearah bawah (Kastawi, 2000).

Secara anatomi Mabouya multifasciata terdiri atas:

  1. Jantung
  2. Paru-paru
  3. Lambung
  4. Usus (Kastawi, 2000).

Menurut Hudha (2002), anatomi pada sistem digestivus Mabouya multifasciata terdiri atas:

a.    Tractus digestivus,disusun oleh:

–       Oesophagus

–       Ventriculus

–       Duodenum

–       Intestinum tenue

–       Caecum

–       Rectum / kloaka

b.    Glandula mamae

–       Hepar

–       Vesica fellea

–       Pancreas

Anatomi pada sistem urogenetalia Mabouya multifasciata terdiri atas:

a.    Organa genetalis feminus, terdiri dari sepasang ovarium yang berbentuk ovoid dengan dataran luasnya benjol-benjol

b.    Oviduct, lateral dari ovarium (hudha, 2002).

Organa genetalis musculinus Mabouya multifasciata terdiri atas:

a.    Testis, bentuknya oval, agak keputihan, jumlahnya sepasang dan kecil, sebagai tempat penghasil sperma

b.    Epididimis, saluran kecil yang amat berkelok-kelok untuk keluarnya sel sperma dari testis

c.    Vas deferens, sebagai lanjutan dari epididimis, tempat saluran sperma, bermuara pada kloaka

d.   Hemipenis, merupakan alat copulation, jumlahnya sepasang (hudha, 2002).

BAB III

METODELOGI

 

 

3.1 Alat

  • Jarum pentul
  • Pipet
  • Kaca benda
  • Kaca penutup
  • Mikroskop

3.2 Bahan

  • Alkohol 100%
  • Larutan pewarna giemza
  • Darah kadal
  • Xylol
  • Enthellen

3.3 Cara   Kerja

  • Menetesi darah pada kaca benda agak menepi,
  • Meletakkan kaca benda yang satu dengan posisi miring, menggeser kearah berlawanan setipis mungkin
  • Mengeringkan darah (agar darah menempel pada kaca benda)
  • Menetesi dengan alkohol 100% selama 10 menit
  • Menetesi dengan larutan pewarnaan giemza selama 30 menit
  • Mencuci dengan air hangat dan mengalir
  • Mngeringkan dengan tissue
  • Menetesi dengan xylol selama 10 menit dan melihat hasil dibawah mikroskop
  • Mengenthellen dan menutup dengan kaca penutup

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

 

4.1 Hasil Pengamatan

Metode                             : Preparat Apus

Nama Preparat                 : Apus Darah Kadal (Mabouya multifasciata)

Perbesaran                        : 400 kali

Pewarnaan                        : Giemza

Potret                               : Fotostereometri

Tgl Pembuatan                 : 16 Mei 2011

Tgl  Pemotretan                : 07 Juni 2011

Keterangan:

1        = sel darah merah

2        = nukleus

3        = stach of coin

4.2 Pembahasan

Pada praktikum pembuatan preparat apus yang digunakan adalah darah kadal. Dari hasil pengamatan preparat darah kadal baik melalui mikroskop secara langsung maupun dari hasil pengamatan potret preparat dapat diketahui bentuk sel darah merahnya. Pada kadal bentuk sel darah merahnya berbentuk lonjong/oval dan berinti. Sel-sel darah merah pada kadal tidak sama dengan sel darah merah pada manusia. Pada manusia sel darah merahnya tidak berinti danbentuknya bulat.

Untuk kegiatan praktikum pembuatan preparat apus pengambilan darah kadal dilakukan dengan cara mengambil darah kadal pada jantung dengan menggunakan spet. Setelah darah diulas dan dibiarkan mengering agar darah menempel pada kaca benda kemudian preparat tersebut diamati di bawah mikroskop dengan tujuan untuk mencari bagian-bagian yang dianggap tepat, bagus dan sesuai dengan apa yang diinginkan atau yang dicari. Apabila telah mendapatkan bagian yang tepat langkah selanjutnya adalah pemberian (penetesan) alkohol 100%. Alkohol berfungsi sebagai dehidrasi yang berperan dalam proses dehidrasi yaitu proses pengeluaran air dari dalam jaringan. Apabila prosesnya tidak sempurna maka air akan tetap ada di dalam jaringan dan seiring dengan berjalannya waktu akan dapat menyebabkan rusaknya preparat yang lebih cepat. Oleh sebab itu dehidran harus mampu menarik air dari tissu dan menggantikan kedudukan air tersebut. Dehidran dapat digantikan kedudukannya oleh medium penjernihan. Dehidran yang digunakan pada praktikum ini adalah alkohol 100%.

Proses selanjutnya adalah proses pewarnaan dengan menggunakan giemza selama 30 menit. Tujuan pewarnaan pada pembuatan preparat adalah untuk mempertajam atau memperjelas berbagai elemen tissu, terutama sel-selnya sehingga dapat dibedakan dan ditelaah dengan mikroskop. Tanpa pewarnaan tissu akan transparan sehingga sulit untuk diamati.

Setelah sel-sel darah terwarnai dilanjutkan dengan proses penjernihan (clearing). Pada praktikum pembuatan preparat apus darah kadal digunakan xylol sebagai zat penjernih. Proses pemberian xylol dilakukan sebanyak 2 kali, xylol I dan xylol II. Pemberian xylol I slama 10 menit atau sampai kering sedangkan pemberian xylol II tersebut perlu waktu lama, setelah meneteskan xylol II langsung diberi entellen dan langsung di tutup  dengan kaca penutup. Zat entellen ini berfungsi sebagai perekat. Tujuan dari pemberian xylol I dan xylol II adalah untuk menyempurnakan proses penjernihan. Sebelum diberi xylol preparat tersebut dengan aquadest untuk mengurangi giemza yang berlebihan pada preparat.

Dari hasil gambar preparat apus darah kadal dapat dilihat bahwa bentuk sel darah kadal berbeda dengan sel darah merah manusia. Dari hasil pemotretan foto preparat yang dihasilkan juga berbeda, dapat dilihat bahwa hasil preparat apus dari sel darah merah kadal lebih bagus, lebih jelas, hasil pewarnaannya juga terlihat jelas sehingga dapat dilihat bagian-bagiannya, serta terlihat stach of coin yaitu kelainan pada sel darah.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam pembuatan sediaan apus ini yaitu kecermatan dan kehati-hatian dalam prosesan penggeseran darah pada kaca benda karena hal tersebut sangat berpengaruh terhadap sel-sel darah.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

 

 

5.1 Kesimpulan

  • Alkohol 100% berperan dalam proses dehidrasi yaitu proses pengeluaran air dari dalam jaringan
  • Tujuan pewarnaan pada pembuatan preparat adalah untuk mempertajam atau memperjelas berbagai elemen tissu, terutama sel-selnya sehingga dapat dibedakan dan ditelaah dengan mikroskop
  • Dari hasil pengamatan dengan menggunakan metode apus pada darah kadal menghasilkan preparat yang sudah bagus atau bisa juga dikatakan berhasil, hal tersebut dapat dilihat dari hasil yang didapatkan bahwa terlihat sel darah merah karena hasil pewarnannya terlihat jelas sehingga dapat diamati bagian-bagiannya

 

5.2 Saran

Dalam pembuatan preparat darah  dengan metode apus membutuhkan adanya ketelitian, ketelatenan serta ketepatan waktu dalam tiap tahap pemrosesannya. Hendaknya batas pengambilan darah diperpendek kontaknya karena darah cepat sekali mengering atau membeku jika terkena udara.

DAFTAR PUSTAKA

 

Farieh. 2008. Sistem kekebalan. http://farieh.wordpress.com/2008/05/12/sistem-kekebalan/ (Diakses tanggal 07 Juni 2011).

Hudha, Atok M. 2000. Vertebrata. UMM Press. Malang.

Kastawi, yusuf. 2002. Vertebrata. Fakultas MIPA Universitas Negeri Malang.

Kurniawan. 2010. Pembuatan Preparat Apus. http://www.scribd.com. (Diakses tanggal 07 Juni 2011)

Maskoeri, Jasin. 2008. Darah. http://barrusweet.blogspot.com/2008_07_ 17_archive.html/. (Diakses tanggal  07 Juni 2011).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s